Header Atas - Panjang

Kata-kata Elandre (Bagian Satu)

Ilustrasi (dokpri)

 

Dunia sebentar lagi runtuh, menjadi puing-puing seperti isi hatimu saat ini. 

Kata-kata kias itu masih terngiang di telinga Vanitha. Kata yang diucapkan Elandre sepuluh tahun yang lalu. Kata itu ia sampaikan sehari sebelum kecelakaan yang tragis merengut jiwanya. 

Rumahnya rubuh diterjang badai, Elandre tertimpa puing-puing. Satu batang besi persis menancap di jantungnya. Vanitha tak menyangka bahwa itu kata-kata terakhir yang ia dengar dari mulut Elandre. 

Vanitha memang sedang berduka, kepergian ibunda tercinta bukan saja mematahkan semangatnya untuk kuliah. Sejak meninggalkan Kampung Gaune menuju Kota Bandung, hatinya hancur berkeping-keping karena Vanitha tidak bisa bersama orang yang teramat ia cintai.

Elandre, lelaki nyentrik bermata elang, bertubuh jangkung yang senantiasa memperhatikan dirinya. Sosok ayah sekaligus kakak ia dapatkan dalam diri lelaki kekar berhati selembut kapas. 

Elandre, teman semasa kecil yang begitu peduli pada alam dan setiap gejalanya selalu menarik untuk ia diskusikan. Di mata Vanitha lelaki itu sangat genius. Mengagumkan.

“Kau tahu Van, aku menduga kalau besok akan ada banjir besar,” bisik Dre serius. 

“Warna dan bentuk awan di langit jauh berbeda Van,” ujar Dre meyakinkan.

“Ya Tuhan, Dre! Kita ini umur berapa sih?” 

“Umur sembilan tahun untuk membahas hal itu rasanya terlalu rumit, Dre.”

“Memang, tapi aku sudah baca semuanya,” tegas Dre seraya berusaha mempertahankan perbincangan tentang banjir yang amat dihindari Vanitha. Ayah Vanitha hanyut terkena banjir bandang.

“Lagi pula Van, kambing dan sapi milik Uwak Jargonde terlihat gelisah,” terang Elandre kembali agar Vanitha percaya apa yang dirasakannya.

“Baiklah, kalau ia besok atau lusa banjir, lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Vanitha menguji Elandre agar kehilangan kata-katanya.

“Mengungsi,” timpal Elandre yakin.

“Kemana?”

“Gunung,” sahut Elandre sembari menunjuk bukit yang ada di hadapan.

Vanitha bingung memikirkan sikap teman kecilnya, Elandre. Ia bagaikan seorang paranormal, beberapa kali apa yang diucapkannya benar-benar terjadi. Meskipun Vanitha enggan berbicara dengan Uwaknya yang berhati keras, tapi rasanya tak ada salahnya membagikan kekhawatiran Dre pada Uwak Jargonde. Rumahnya tak jauh dari rumah Elandre, mereka memang bertetangga dekat.

Entah apa yang ada dalam pikiran Uwak dan beberapa tetangga lain yang seakan percaya dengan kata-kata Dre. Padahal hujan belum lagi turun, Uwak dan orang-orang di Kampung  Gaune mengungsi menuju Bukit Gaune. Sebelum tiba di bukit suara petir bersahutan. Hujan deras tak tertahankan meluncur membasahi seluruh permukaan Kampung Gaune dan sekitarnya.

Sungguh mengerikan badai dan banjir besar hampir menenggelamkan seluruh Kampung. Warga Kampung Gaune seluruhnya selamat begitu pula kambing, sapi dan sebagian binatang ternak lain hanya harta benda yang sulit dibawa yang tak bisa lagi diselamatkan.

Elandre jarang bicara sejak kejadian itu, meski Uwak Jargonde jadi rajin bertanya tentang banyak hal, ia hanya menjawab dengan isyarat saja. Cuma pada Vanitha ia masih banyak bercerita dan Vanitha hanya bisa menuliskan kembali di notebooknya. Ia catat tanggal dan jarak kejadian, so close. Mengerikan.

Kematian Uwak Jargonde pun sudah pernah dikabarkan Elandare pada Vanitha melalui bahasa lebih mirip puisi. Vanitha menghormati Uwaknya karena sebagai tetua di Kampung Gaune, Uwaknya berjuang mati-matian untuk kesejahteraan warga. Semua anak Gaune harus sekolah, guru-guru yang mengajar diberi insentif khusus dari hasil tani dan ternak Uwak.

berdesir angin

memberi kabar dingin

tiang pancang bergoyang

tanahnya belah berkata ingin

kemarilah 

kembalilah…

Elandre menitikkan air mata saat menyampaikan kata-katanya, tiga hari kemudian Uwak Jargonde pergi selamanya tanpa penyebab yang pasti.

Bersambung.



Post a Comment

5 Comments

  1. Wah.. gag sabar nunggu sambungannya nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... Mbak Widz langsung cusss... Baca nih... Thanks. Mudah-mudahan bisa kelar besok ya...

      Delete
  2. Waah bersambung ya..

    Ditunggu lanjutannya☺️ selalu keren dan memikat☺️👍

    ReplyDelete
  3. Penyampaian cerita agak rumit, dengan alur bolak-balik dan informasi yang asing...

    Tapi benar cerita ini memikat...dan juga rapi...

    ReplyDelete
  4. Asyiiikkkk d tunggu episode selanjutnya

    ReplyDelete