Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Happy Birthday Ida

Foto: motherandbaby.co.id



 Dulu, aku dan engkau sering bergandeng tangan. Menyusuri koridor sekolah sampai ke gerbang depan. Lalu menunggu angkot tujuan rumah masing-masing. Kita memang berbeda arah, tapi kita senang menemani satu sama lain.

Besok paginya di sekolah, kita bertemu lagi. Dan yang paling kuingat adalah senyummu. Mungkin kau tak tau, secantik apa senyummu waktu itu. Andai saja ada cermin, tersenyumlah sambil melirik padanya. Engkau akan tau dan percaya, hari menjadi lebih indah karenanya.

Aku nggak gombal yaa..

Apa lagi yang aku ingat? Hmm..

Aku ingat juga kita selalu menuju kantin bersama, walau kita sebenarnya akrab juga dengan teman cewek yang lain. Mungkin itulah bonus bagi sahabat sebangku. Hehe...

Oya, di kelas satu waktu itu, kita yang dari sekolah umum, sama-sama belum paham dengan pelajaran ibu guru Saniah kan... Ingat ngga pelajaran apa? 

Yup, allughatul 'Arabiyyah, alias bahasa Arab. Kita berdua jadi mati gaya kan? Haha...

Untuk selanjutnya, setelah kenaikan kelas, aku dan engkau terpisah. 

Di kelas tiga, kita pun memilih jurusan yang tak sama. Aku masuk di kelompok IPS dan engkau IPA kan? Alhasil kita semakin jarang bertemu. Masing-masing juga sudah mendapatkan teman yang baru. Waktu itu aku menjadi akrab dengan teman yang pulangnya searah dan satu angkot denganku. Dan entah dirimu.

Waktu berlalu dan sekali lagi membawa kita pada takdir masing-masing.

Aku tak melanjutkan pendidikan waktu itu. Patah hati rasanya tak mendapat "tiket" belajar di PTN impFoto: i2.wp.com

Dulu, aku dan engkau sering bergandeng tangan. Menyusuri koridor sekolah sampai ke gerbang depan. Lalu menunggu angkot tujuan rumah masing-masing. Kita memang berbeda arah, tapi kita senang menemani satu sama lain.

Besok paginya di sekolah, kita bertemu lagi. Dan yang paling kuingat adalah senyummu. Mungkin kau tak tau, secantik apa senyummu waktu itu. Andai saja ada cermin, tersenyumlah sambil melirik padanya. Engkau akan tau dan percaya, hari menjadi lebih indah karenanya.

Aku nggak gombal yaa..

Apa lagi yang aku ingat? Hmm..

Aku ingat juga kita selalu menuju kantin bersama, walau kita sebenarnya akrab juga dengan teman cewek yang lain. Mungkin itulah bonus bagi sahabat sebangku. Hehe...

Oya, di kelas satu waktu itu, kita yang dari sekolah umum, sama-sama belum paham dengan pelajaran ibu guru Saniah kan... Ingat ngga pelajaran apa? 

Yup, allughatul  'Arabiyyah, alias bahasa Arab. Kita berdua jadi mati gaya kan? Haha...

Untuk selanjutnya, setelah kenaikan kelas, aku dan engkau terpisah. 

Di kelas tiga, kita pun memilih jurusan yang tak sama. Aku masuk di kelompok IPS dan engkau IPA kan? Alhasil kita semakin jarang bertemu. Masing-masing juga sudah mendapatkan teman yang baru. Waktu itu aku menjadi akrab dengan teman yang pulangnya searah dan satu angkot denganku. Dan entah dirimu.

Waktu berlalu dan sekali lagi membawa kita pada takdir masing-masing.

Aku tak melanjutkan pendidikan waktu itu. Patah hati rasanya tak mendapat "tiketbelajar di PTN impian. Akhirnya aku berangkat dengan sebuah kapal, menjemput potongan cerita hidupku yang lain.

Untuk beberapa lama, aku dininabobokkan oleh cerita petualangan. Sementara yang lain merajut cita-cita setinggi bintang, aku sibuk juga menyanyikan lagu kembara. 

Akhirnya aku hanya bisa pulang dengan membawa rasa tak tentu. 

Kemanakah sebuah cita-cita yang hebat dulu? Lalu apa sajakah yang sudah kulakukan, sampai aku harus terpaku sekarang?

Dari whatsapp grup alumni, aku seperti mendapat bogem. Satu per satu teman yang dulu sama-sama menimba ilmu, tampil dengan senyum ceria dengan suami dan anak-anak mereka. Sementara aku?

Pada akhirnya aku bisa berdamai dengan keadaan. 

Ya, Ida. Di titik mana seseorang merasa terpuruk, ia harus bangkit lagi dengan segala syukur dan percaya bahwa hidup telah diatur oleh Allah swt. 

Oya Ida, beberapa lama saat aku berada di sebuah pesantren  untuk menenangkan diri, aku mengenal seorang perempuan staf pengajar yang wajah, postur dan suara manjanya tumplek blek mirip sekali denganmu. Kepalaku serasa berputar, susah mempercayai ada seseorang yang 99% sama denganmu, di posisi enam belas tahun sebelumnya. Tentunya ini hanya sebuah kebetulan, batinku menghibur.

Tau nggak, apa yang terjadi kemudian...?

Aku justru bertemu secara tidak sengaja denganmu di sebuah toko mainan. Suatu kejutan besar. Karena dirimulah yang mengenaliku dengan baik. Sementara aku kembali merasa penuh tanda tanya.  Apa benar dia Ida Rahayu yang kukenal? Kenapa Ida bisa jadi seperti ini? So surprise...

Ida sudah bermetamorfosa menjadi seorang guru yang lebih cantik lagi dan langsing. Apa iya apa bukan? Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkannya.

Lima tahun berlalu sejak pertemuan singkat tersebut. Namun setiap tanggal hari ini, aku masih saja mengingat seorang teman yang hilang ditelan waktu. Entah kenapa masih bisa ingat. Mungkin inilah bonus teman sebangku. 

Aku nggak gombal lagi, ya Ida. Haha...

Syukurlah walau engkau tak pernah hadir dengan senyum cantik seperti dulu lagi, cukuplah hanya chat dan sambungan medsos untuk kita saling berkabar.

 Selamat ulang tahun, Ida

  Wish all the best for you

Be a kinds woman and happy

Be a best mom for your sons

Be a best wife, anda best teacher of course

Miss you so muchπŸŒΉπŸ’

Ayra Amirah
Ayra Amirah Menulis adalah rekreasi tuk hati kita

4 komentar untuk "Happy Birthday Ida"

Berlangganan via Email