Header Atas - Panjang

Dress Hitam Pilihan

 Sudah hampir empat belas tahun, rasanya bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula aku tak melupakan kenangan yang engkau ukir di awal perjalanan kita. 

Sebuah dress hitam yang pernah kau pilih untukku. Berbahan tebal tetapi lembut, nyaman kupakai kapanpun. Tak menunggu cuaca panas ataupun musim hujan datang. Kapan saja aku ingin pergi denganmu, dan pilihanku jatuh padanya, aku akan memakai dress hitam yang pernah kau pilih untukku.

Agak subyektif memang, lebih tepatnya modus. Hahaa... malu-malu juga aku mengakuinya. 

Iya, terkadang aku sengaja memilih dress hitam itu karena rindu masa-masa pengantin baru. Saat lelaki pujaanku pulang kerja sambil membawa sekarung pakaian. Haaahh??

Saat itu, menjadi istrimu saja sudah membuatku senang. 

Kau adalah lelaki baik yang mengirimkan puisi setiap hari via ponsel saja. One day one poem. Sesuai permintaanku.

Engkau juga lelaki baik yang selalu menepati janji. Apapun hal sederhana yang engkau iyakan, pasti engkau tepati. 

Iya, hanya hal sederhana. 

Aku bukanlah seorang Dewi bangsawan nan jelita, yang minta dibuatkan seribu candi olehmu. Kira-kira seperti itu.

Ingatkah, saat kita menikmati sedikit saja waktu bersama? 

Engkau mengantarku berkeliling kota kecil itu sambil menatap kelip bintang-bintang malam. 

Hanya berbekal dua botol susu steril kesukaanku, dan engkau sekaleng minuman isotonik. Bukan sebuah candle light dinner di restoran mahal. 

Entah kenapa semua itu begitu berkesan.

Oya, ada satu lagi hal romantis yang mena

Sudah hampir empat belas tahun, rasanya bukan waktu yang sebentar.  Selama itu pula aku tak melupakan kenangan yang engkau ukir di awal perjalanan kita. 

Sebuah dress hitam yang pernah kau pilih untukku. Berbahan tebal tetapi lembut, nyaman kupakai kapanpun. Tak menunggu cuaca panas ataupun musim hujan datang. Kapan saja aku ingin pergi denganmu, dan pilihanku jatuh padanya, aku akan memakai dress hitam yang pernah kau pilih untukku.

Agak subyektif memang, lebih tepatnya modus. Hahaa... malu-malu juga aku mengakuinya. 

Iya, terkadang aku sengaja memilih dress hitam itu karena rindu masa-masa pengantin baru. Saat lelaki pujaanku pulang kerja sambil membawa sekarung pakaian. Haaahh??

Saat itu, menjadi istrimu saja sudah membuatku senang. 

Kau adalah lelaki baik yang mengirimkan puisi setiap hari via ponsel saja. One day one poem. Sesuai permintaanku.

Engkau juga lelaki baik yang selalu menepati janji. Apapun hal sederhana yang engkau iyakan, pasti engkau tepati. 

Iya, hanya hal sederhana. 

Aku bukanlah seorang Dewi bangsawan nan jelita, yang minta dibuatkan seribu candi olehmu. Kira-kira seperti itu.

Ingatkah, saat kita menikmati sedikit saja waktu bersama? 

Engkau mengantarku berkeliling kota kecil itu sambil menatap kelip bintang-bintang malam. 

Hanya berbekal dua botol susu steril kesukaanku, dan engkau sekaleng minuman isotonik. Bukan sebuah candle light dinner di restoran mahal. 

Entah kenapa semua itu begitu berkesan.

Oya, ada satu lagi hal romantis yang menambah cek list mu saat itu.

Ingat saat suatu siang, setengah bercanda aku minta dibawakan durian yang katamu uenak, langsung dari kebun sohibmu. Lalu aku menantangmu membuktikan?

Ternyata oh ternyata engkau benar-benar datang. Dari jarak yang cukup jauh engkau datang membawa satu saja durian besar nan lezat. Lengkap dengan semut berjalan-jalan di sela durinya.

Benarkah untuk memikatku jatuh cinta?

Mungkin lelaki sering gombal. Segala macam hal sederhana yang engkau berikan, kiranya juga semua gombal. Satu sisi hatiku mentertawaimu. 

Aku sering membaca novel percintaan. Aku merasa tenggelam dalam kisah-kisah Dealova nya.

Lalu aku menemukanmu dalam dunia nyata. Seorang lelaki baik dengan tumpukan puisi yang sebagiannya untuk memuja diriku.

Sungguh aku merasa beruntung karena sudah kau pilih menjadi ibu dari anak-anak kita.

Dan tentang dress hitam yang pernah kau pilih untukku, menjadi satu hal juga yang begitu berkesan. Dan aku tak melupakan kenangan yang kau ukir di awal perjalanan kita.

Mungkin engkau bahkan sudah tak ingat tentang dress hitam itu, yaa??

Sudah hampir empat belas tahun berlalu, apalagi sudah terlalu lama aku tak memakainya. 

Kira-kira terakhir memakainya dua belas tahun yang lalu. 

Haahh!

Maaf... bukan karena aku tak cukup membanggakannya. Bukan pula karena tak mengikut outfit kekinian.

Aku masih membanggakan setiap tanda sayang dan cinta dari engkau. 

Dress hitam yang pernah kau pilih untukku, adalah dress cantik nan klasik. Ia tak pudar oleh waktu. Ia masih ada dalam lemari kayu yang juga buah jemari tanganmu.

Dress hitam yang juga menghiasi majalah belanja online akhir-akhir ini.

Agak malu-malu tapi harus kuakui, size nya lah yang tak mengizinkan. Aku telah melebar dari saat dulu engkau memberikannya. Rupanya dulu aku mungil juga yaa..

Oya, si sulung pernah dua kali menggunakan dress hitam itu di usianya dua belas tahun. Tak heran posturnya memang mengikut engkau. Padahal dulu aku menerimanya saat pengantin baru, kan?

Tak ada kata yang pantas kuberikan untuk engkau, selain terima kasih banyak yang sangat tulus. Serta doa semoga kita selalu dalam lindunganNya. Aamiin.

Foto: Shopee.co.id

Kudedikasikan untuk suamiku

Posting Komentar

8 Komentar

  1. Ditunggu cerita selanjutnya ya mbak Ayra.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ada, lima menit yang lalu posting...

      Buatnya sesudah suami berangkat menembus gerimis, kurang lebih satu jam ngetik

      Semoga suka yaa...

      Dan terima kasih sudah membaca.Salam literasi.

      Hapus
  2. Selalu memikat alur ceritanya๐Ÿ˜€๐Ÿ‘ ditunggu lanjutannya☺️๐Ÿ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, buatnya sambil baper soalnya, hehe...

      Terima kasih banyak yaa

      Hapus
  3. Lelaki idaman itu, mbak

    Salam ๐Ÿ™ sehat

    BalasHapus