Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gadis Kecil Bernama Ratna

 Alkisah, di sebuah kota kecil yang kehidupan sosialnya memprihatinkan. Hiduplah sebuah keluarga dengan lima orang anaknya. Si bapak tidak lain adalah pencari barang-barang rosok dengan gerobaknya. Gerobak ini mempunyai atap ala kadarnya, sekedar menaungi gadis kecil bernama Ratna di dalamnya.

Sebelumnya aku tak terlalu memperhatikan keluarga ini. Barulah setelah mereka pindah kontrakan tepat didepan rumah kami, aku mulai merasa kalau salah satu anak mereka lama tak terlihat. Saudara-saudaranya bermain dan  berkeliaran sepanjang siang, kecuali si bungsu Ratna.

Terus terang aku tak terlalu suka menyapa sang ibu. Untuk mengobrol sedikit saja, rasanya berat kulakukan. Aku risih dengan gayanya. Berkaos pendek dan ketat sementara suara bicaranya membelah gang sempit nan kumuh di sini. Perawakannya tampak kurus bak super model, bahkan tulang yang menyangga tubuhnya begitu kentara. Meski begitu sejuta orang membela dan mengatakan dia baik. Sedangkan aku sama sekali tak punya penggemar.

Baiklah aku mengalah, demi ingin tau di manakah Ratna gerangan.

"Ratna ikut bapaknya...mbak..."

"Malam baru pulang..."

Otakku berputar mencerna kata-kata yang baru kudengar. Aku tak paham. Ikut bagaimana? Ikut mencari barang rosok??

Ya sudahlah... aku tak mau ngobrol lebih lama. Kutampung saja dulu informasi "aneh" ini.

Suatu hari suamiku pulang dari bekerja dan membawa informasi tentang Ratna. 

Dengan sedikit nada tak percaya suamiku mengatakan kalau Ratna benar-benar berada di bawah atap gerobak mereka. Berpanas-panas seharian di dalam gerobak yang kotor. Bercampur botol dan barang bekas lainnya. Tetapi kenapa??

Aku seperti mendapati fakta yang luar biasa. Aku merasa tak sanggup membayangkan. Gadis kecil itu baru berumur tiga tahun.

Suatu pagi pukul sepuluh. Kami kedatangan gadis kecil tetangga kami. Tampaknya ia baru saja bangun tidur. Tampaknya Ratna tak sehat hari ini.

Dari balik kaca jendela aku melihat sang model, maksudku ibunya Ratna, turut pula mengawasi putrinya yang sudah duduk di ambang pintu kami. Dia datang untuk bermain bersama putri bungsuku yang belum genap dua tahun. Mereka duduk bersisian sambil saling membagi kue kecil. Saling menyuap dan tertawa-tawa tanpa mengobrol apapun. Maklum keduanya belum lancar berbicara.

Lama kelamaan sang ibu melempar senyum padaku. Aku bisa melihat ia sedang sibuk memotong sayur-sayur. Tak lama kemudian aroma sambal yang sedap dan ikan goreng menyeruak ke hidungku. Selalu seperti itu, karena dapur mereka tepat berhadapan dengan pintu rumah petak/bangsalan kami.

"Badannya panas, semalam mbak..."

"Jadi hari ini Ratna tidak saya izinkan ikut bapaknya kerja..."

Aku menangkap nada riang dalam suaranya yang nyaring. 

Dia tak salah, bisikku dalam hati. Dia seorang ibu yang tak banyak cerewet sepertiku. Tak suka mengeluh apalagi khawatir saat mendengar anaknya terjatuh. 

Bahkan caranya menjemur cucian di samping rumah pun, dengan tali yang melur dan cara yang ditumpuk-tumpuk, menunjukkan kalau ia ibu yang tak mudah pusing dengan apapun. Ia cuek, toh nanti juga akan kering, katanya.

"Kasian kalau Ratna berpanas-panas dalam gerobak..." imbuhku masih merasa tak terima.

"Bukan saya yang suruh mbak... Ratna sendiri yang mau..."

"Anaknya lengket dengan bapaknya....menangis kalau ditinggal kerja..."

Aku tak bergeming. Aku sibuk saja mengawasi dua gadis kecil bermain boneka yang sudah pula rusak. 

Ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Tubuh mereka hampir seukuran. Atau dengan kata lain Ratna cukup kurus untuk anak seusianya. Lalu putriku tampak lebih bersih dan terawat. Kukunya putih bersih tak hitam seperti Ratna. Pipinya pun bersih dan wangi. Rambut mereka pun lagi-lagi tampak tak sama. Atau pakaian mereka juga tak sama.

Sebenarnya aku tak ingin terseret dalam lingkaran aneh keluarga mereka.

Tapi beberapa lama ini ramai saja berita-berita miring beredar di gang kecil tempatku tinggal.

Bapak Ratna, ternyata suka minum dan berjudi hampir sepanjang malam. Aku juga tak bisa menampik. Sejujurnya aku pernah melihat botol-botol miras dijadikan pajangan dekat tv flat mereka. Bahkan suamiku mendapati motor bapak Ratna terparkir di tempat termaksud.

Lalu yang lebih parah, sang ibu yang tampak boros dalam urusan dapurnya, ternyata rutin mendapat bantuan dari berbagai pihak. 

Foto: cdnO-production-images-kly-akamaized.net

Menurut cerita tetangga yang lebih dulu mengenal keluarga ini, wartawan pernah datang untuk melakukan wawancara, mengapa gadis kecil seperti Ratna berada dalam gerobak pemulung bapaknya sendiri, bersama sampah kotor barang-barang bekas.

Sekali lagi aku tak paham. Otakku bekerja untuk mencerna cerita aneh ini. Tetapi gagal.

Seorang ibu layaknya mempunyai cata-cita yang hebat untuk anaknya. Seorang ibu akan merasa bahagia kalau putrinya sehat dan terawat. Seorang ibu lebih rela tak memperhatikan kebutuhan kecantikannya, asal anak-anaknya bisa makan dengan kenyang, tanpa harus menjadi umpan agar orang lain merasa iba. 

Hidup ini memang aneh, pikirku.

Suatu hari aku mau-mau saja datang ke undangan keluarga ini.

Rupanya salah seorang kakak Ratna berulang tahun yang ke-8. Karena rumah kami tepat berada di belakang rumah mereka, dan aku mempunyai dua anak yang masih kecil, rasanya aku tak punya alasan umtuk tidak memenuhi undangannya.

Aku dan si bungsu datang tepat pukul tiga sore. Saat itu undangan sudah banyak yang hadir. 

Dengan memilih kado shampo pump untuk anak, aku berharap anak-anak tetanggaku ini berubah jadi wangi rambutnya. Bukan sekedar mandi pakai air.

Acara tak bertele-tele. Setelah menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun bersama-sama, memotong kue, hadirin disilahkan menikmati hidangan sekedar nasi goreng dengan taburan sedikit suwiran daging ayam.

Aku tak terlalu menikmati acara keluarga ini. Tetapi sejuta orang lainnya merasa sangat senang kebagian balon dan snack. Untuk ukuran mereka, ini adalah kegembiraan yang jarang terjadi.

Aku tertegun. Inilah versi membahagiakan anak di kota kecil yang taraf hidupnya minus. Dengan sedikit saja persiapan, dapat mengundang kado-kado kecil yang surprise untuk anak-anak mereka.

Hari terus berjalan sama seperti biasa. 

Gadis kecil bernama Ratna, terus saja ikut sang bapak mencari barang-barang rosok. Ibunya teeus saja berbelanja hal-hal mewah. Makan malam dengan coto Makassar misalnya.

Aku hanya dapat tertegun, sambil mengusap si bungsu yang tertidur di sisiku.

Bismika Allahumma ahyaa...wa bismika amuut...amin

Ayra Amirah
Ayra Amirah Menulis adalah rekreasi tuk hati kita

7 komentar untuk "Gadis Kecil Bernama Ratna "

Apriani1919 21 Oktober 2020 23.02 Hapus Komentar
Waww idenya ngalir deras ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘
Warkasa1919 21 Oktober 2020 23.08 Hapus Komentar
Keren๐Ÿ‘ mengalir ceritanya☺️
ozyalandika.com 21 Oktober 2020 23.17 Hapus Komentar
Ukuran bahagia terukur dari Cukup. Makin merasa cukup, makin bahagia.
Makasih Bu๐Ÿ˜Š
Ayra Amirah 21 Oktober 2020 23.25 Hapus Komentar
Seperti hujan yaa

Semoga memberi kesejukan kalau begitu.

Terima kasih banyak mbak Dinni๐Ÿ˜Š
Ayra Amirah 21 Oktober 2020 23.30 Hapus Komentar
Aamiin...terima kasih banyak...
Ayra Amirah 21 Oktober 2020 23.32 Hapus Komentar
Terima kasih juga, untuk penegasannya. Semoga gadis kecil Ratna, sekarang lebih bahagia...
Widz Stoops 22 Oktober 2020 04.53 Hapus Komentar
Semoga...

Berlangganan via Email