Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerahlah Duhai Wajah

Ilustrasi murung. Gambar oleh Cole Stivers dari Pixabay  

Sudah sekian lama kusaksikan awan mendung bertebaran di langit edukasi. Halaman petir dan kilat seraya terkoyak hingga melukai wajah, kemudian terbasahlah.

Entahlah. Entah bagaimana kabar para penduduk wajah. Baju putih-biru belum usang. Ia hanya tersimpan di sebelah tabungan bunda yang mulai menipis akibat dijarah data.

Sampul buku juga belum mengernyut, namun peruncing pensil mulai berkarat tergerus mendung. Adik sudah lama tak menulis. Hanya sesekali. Adik juga bermuram menatap wajah.

Bunda resah kepada adik. Adik resah kepada sang mentari. Sang mentari resah kepada sang nahkoda. Sang nahkoda resah kepada awan. Lalu awan pasrah. Bumi rela jadi basah.

Sang nahkoda tak bisa berlayar di angkasa. Awan pula tak mampu mengusir mendung. Bukan salah nahkoda semata-mata. Bunda dan adik akan segera mengerti. Mentari akan terang.

Hingganya, para penduduk wajah hanya bisa berdoa, “cerahlah!”

Curup, 25 Oktober 2020

10 komentar untuk "Cerahlah Duhai Wajah"