Header Atas - Panjang

Bianglala Cemburu (2)


Peluncuran perdana NeoMedia berlangsung meriah. Menuai sukses yang membuat Big Boss single, muda dan tampan, Hans Kaaert keturunan Belanda itu tersenyum lebar. 

NeoMedia memang diperuntukkan Hans sebagai jembatan kasih antara Negara Tulip dan Indonesia. Baik budaya, politik, sosial dan gaya hidup semuanya jadi tema utama. Orang Indonesia bisa tahu secara detail program apa saja yang sedang dijalankan demi membantu negara ini agar jauh lebih maju, tekadnya. Sementara Negara Belanda tempatnya lahir dan tumbuh di bawah asuhan seorang ibu bersuku Jawa, bisa menikmati keragaman alam dan budaya nusantara yang sungguh memukau. 

Sejak sepuluh tahun terakhir ia menetap di Indonesia. Sejak itu pula ia jatuh cinta pada Ibu Pertiwi.

NeoMedia dibiayai oleh Hans serta beberapa donatur kaya yang juga keturunan Belanda. Hans benar-benar puas atas hasil kerja Prinita. Di dalam benak Hans, Prinita seharusnya menjadi pendamping hidupnya. Kalaulah Prinita bersedia, Hans mau menukarnya dengan segalanya. Ia ingin memanjakan Prinita dengan segenap kemampuannya. 

Berada di dekat Prinita membuat dunianya terasa indah. Padahal sederet problema antar negara harus ia selesaikan dengan baik juga cepat, amat menguras energinya. Kehadiran Prinita membuat hidupnya berjalan seimbang.

Memandang Prinita menjadi sebuah tetirah  melenakan jiwa. Hans tahu suami Prinita, Hasto Guntoro pencemburu. Sebenarnya ia pun cemburu pada Hasto. Memiliki istri seperti Prinita adalah dambaanya. Sejak tiga tahun mengenal Prinita barulah ia bisa membuka diri dan membuka hati terhadap wanita. 

Biasanya Hans langsung mengambil jarak dengan semua perempuan yang berusaha mendekatinya. Hanya Prinita yang bersikap biasa saja saat tahu Hans menyukainya. 

Hans tahu nama mereka diawali hurup yang sama.  Karakter mereka jauh berbeda pikir Hans membandingkan dirinya dengan suami Prinita. 

Hasto mengekang Prinita sedemikian rupa, Hans membebaskan daya imajinasi dan kreasi Prinita. Hasto membatasi ia menjembatani. Hasto mengurung ia justru melapangkan. Hasto menuntut Prinita saat Hans malah mendukungnya. 

Prinita bukan tak tahu ada persaingan tak kasat mata antara mereka berdua. Untuk urusan fisik Hasto memang jauh lebih unggul. Hans yang keturunan Belanda itu hanya punya hidung mancung dengan wajah berbecak merah dengan bibir tipis nampak agak kemayu. 

Wajah Hasto memang memiliki karakter yang membuat Prinita memang bisa tunduk sempurna. Tulang rahang lebar dan warna kulit Hasto yang kecoklatan malah membuatnya terlihat jauh lebih gagah. Belum lagi hidung membengkok Hasto yang menurun sempurna pada anak bungsu mereka, Nehan menambah kharisma kepemimpinan dalam diri Hasto. Hanya saja sikap Hans yang luwes dan menerima Prinita apa adanya membuat hatinya terasa dekat.

Prinita jadi teringat perbincangan antara dirinya dengan Hans yang mendebarkan sekaligus menggelikan. Sepertinya Hans berusaha merayu Prinita.

“Dear, bagaimana kabar Mas Hastomu?” tanya Hans penuh selidik.

“Mas Hasto baik, Pak. Terima kasih,” timpal Prinita singkat.

“Well, syukurlah. Saya mau tanya satu hal boleh?” ujar Hans kembali.

“Tentang apa, Pak?” sahut Prinita segera. Prinita sengaja menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan pandang pada boss Hans Kaaert yang mulai bersikap lain dari biasanya.

“Kau mencintai suamimu?” tanya Hans hati-hati. Pertanyaan konyol yang sejak dulu ingin Hans ungkap. Semoga masih ada kesempatan mendapatkan Prinita sebagai kekasihnya.

Prinita terdiam. Ternyata Hans memang sangat terbuka. Tak suka berpura-pura dan istimewanya Prinita bisa ceritakan apa saja pada Hans tanpa harus memikirkan apakah Hans bakal menerima atau tidak. Ia seperti merpati bila di tangan Hans. Perasaannya bebas merdeka. Meski panggilan pada Hans tetap menggunakan sebutan Pak sesungguhnya batas antara mereka hampir tidak ada. 

Prinita pernah menceritakan mimpi-mimpinya bahkan kekesalan dan hal remah temeh lainnya pada Hans. Hans semakin memberikan perhatian lebih padanya. Bagi Hans wanita cantik itu bertaburan dalam hidupnya tetapi yang benar-benar cantik luar dalam baru didapati dalam diri Prinita. 

“Hasto itu cinta pertama dan terakhirku, Hans.” Prinita berharap pernyataan tadi menguatkan jiwanya.

Ada getar yang sulit ditepis saat Hans memegang tangan Prinita lembut. Getaran yang menjalar ketulang punggung hingga membuat jantung Prinita berdegup lebih kencang. Hans berdiri di depan Prinita dan meraih tangan Prinita hingga mereka saling berhadapan. 

Mereka berdua saja saat itu. Fannie yang biasanya ada seruangan dengan Prinita di gedung utama NeoMedia lenyap tanpa jejak. Prinita yakin Hans yang meminta Fannie untuk tak datang hari itu.

Jika sekelebat bayangan Hasto tak muncul saat itu, entah apa yang terjadi. Bibir Hans hanya berjarak satu centimeter dari bibirnya. Prinita merasakan tubuhnya bergetar hebat. Didorongnya Hans sekuat tenaga hingga pelukan Hans telepas. Hans terjengkang di atas sofa.

“Maaf Hans, bila kita tidak bisa profesional lagi,…, aku akan mengundurkan diri dari NeoMedia,” ujar Prinita tegas. Prinita berusaha mengatur nafasnya yang naik turun tak karuan.

“Aku pasti mengirimkan surat pengunduran diri besok, usahakan Fannie hadir.”

Prinita ngeri pesona Hans tak bisa ditolak dengan mudah. Ia tak ingin menghancurkan rumah tangga serta kehidupan ketiga anaknya. Satu-satunya jalan terbaik adalah berhenti bertemu Hans.

Sebelum berlari meninggalkan ruang kerjanya, Prinita sempat menatap wajah Hans. Lelaki itu terpaku di tempat duduknya. Jelas sekali kesedihannya tertangkap dalam pandangan Prinita. Bulir-bulir bening di kelopak mata Hans baru saja meluncur perlahan di pipi Hans. Prinita tahu Hans menyesal dan kecemburuannya pada Hasto makin meraja.

01  Oktober 2020



Post a Comment

5 Comments