Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berawal dari Rumah

 

Source Photo: iheartintelligence.com

Apa yang terpancar dari wajahmu melalui apa yang kamu kenakan setiap hari, apa yang kamu kerjakan dengan kedua tanganmu dan kemana pun kedua kakimu melangkah, kata-kata apa yang keluar dari mulutmu, dan apapun yang dilihat orang darimu, adalah apa yang kamu dapatkan dan kamu terima dari rumahmu, dari lingkungan keluargamu.

Ya, itu adalah sepenggal kalimat dari kedua orang tua saya, yang selalu saya ingat dan jadikan pedoman di tengah kerasnya perjalanan hidup dewasa ini.

Saya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari, berusaha menjadi orang yang baik kepada siapa pun, melalui cara berpakaian, tutur kata yang baik, juga selalu menerapkan pentingnya sopan santun dimana pun, kapan pun dan terhadap siapa pun.

Sebagai manusia biasa, terkadang saya menginginkan hal yang baik itu juga terjadi kepada saya. Ketika saya sudah berusaha melakukan yang terbaik di dalam setiap aspek kehidupan, saya pun sedikit-banyak berharap menerima perlakuan yang baik.

Tapi tak jarang, saya malah menerima yang buruk dari orang lain. Entahlah, apakah kesabaran saya sedang diuji, memang kehidupan manusia dewasa se-tidak adil ini, ataukah memang saya sedang diajar untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi terhadap apapun selain tetap berbuat baik, entahlah.

Tidak ingin menyinggung siapa pun, hanya ingin berbagi cerita. Kisah ini bermula tahun lalu, saat masih bekerja di perusahaan lama. Setelah lulus masa probation, saya pun mengerjakan pekerjaan saya seperti karyawan biasa, berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tepat pada waktunya.

Tanpa saya sadari, ada orang yang menargetkan saya untuk menjadi daun mudanya. Tentu saja orang terserbut bukan staff seperti saya, dia memiliki jabatan yang tinggi dan juga kabarnya telah memiliki istri dan anak.

Di divisi lain, ada atasan yang cenderung marah tanpa sebab, senang mencari kesalahan dan kekurangan orang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Senang mengorek kehidupan pribadi bawahannya lalu dijadikan senjata untuk menyerang mereka suatu waktu.

Kami sebagai bawahan pun merasa risih, tapi harus tetap bekerja secara professional dengan dalih, “Ya, kami tetap disini secara professional karena kami masih butuh uang dan kami sadar akan posisi kami.”

Tapi ternyata, semakin lama dibiarkan, semakin menjadi-jadi. Secara pribadi, saya semakin merasa terganggu, pertama saat ditagetkan menjadi daun muda dengan pendekatan yang sangat menjijikkan. Tentu saja saya sangat sedih dan stres. Rasanya, kantor ini sudah tidak aman bagi saya.

Kedua, saat memiliki atasan yang hanya bisa marah tanpa menunjukkan kinerjanya yang baik untuk bawahannya. Lagi, saya merasa tidak ada tempat untuk saya berlindung di tempat ini.

Untuk orang yang dengan mudah bersikap ‘bodo amat’ untuk sesuatu yang tidak berguna untuk dirinya, mereka akan dengan sangat mudah menghakimi saya karena terlalu berlebihan dalam menyikapi suatu hal.

Tapi, bagi orang seperti saya yang sangat pemikir, hal ini tentu saja sangat menggangu. Berita buruknya, hal-hal semacam ini pun membuat saya sempat jatuh sakit selama berhari-hari.

Ditengah pandemi seperti ini, hal yang saya takutkan adalah bahwa saya terserang virus, tapi ternyata setelah melakukan berbagai macam check-up, tak ada satu pun virus yang menyebabkan saya sakit selama berhari-hari. Kata dokter, “Saya juga bingung ada apa dengan kamu, apa mungkin kamu kurang bahagia? Kamu ada masalah di kantor?”

Pernyataan dan pertnyaan dari dokter lalu membuat saya tersentak. Setibanya di kamar, saya lalu menangis sejadi-jadinya dan menyadari beberapa hal.

Pertama, hidup ini memang tidak akan lepas dari berbagai masalah, dan hidup ini akan jauh lebih indah karena adanya masalah. Bayangkan jika tidak ada masalah di kehidupan, pastinya tidak seru karena terlalu monoton. Apa yang membuat hidup ini seru karena adanya masalah dan jalan keluar yang semesta berikan untuk kita lalui.

Kedua, meski saya berusaha baik, berusaha menyenangkan semua orang, tapi ada hal yang saya harus sadari bahwa ekspektasi saya tidak boleh terlalu tinggi untuk menerima kembali hal-hal baik yang telah saya berikan kepada individu lainnya.

Tetap berbuat baik, itu perlu dan harus. Wajib hukumnya. Tapi untuk berharap menerima kebaikan yang sama dari orang lain, sebaiknya jangan. Biarkan Tuhan saja yang membalas perbuatan kita menurut pandangan-Nya. Lalu, jika suatu saat kita menerima perlakuan yang buruk dari orang lain, terima dan jalani saja, kembali pada poin pertama bahwa masalah itu membuat hidup jadi semakin seru.

Ketiga, pahami bahwa semua orang bisa jadi bos/atasan, tapi tidak semua orang bisa jadi pemimpin. Ya, semua orang tentu bisa berusaha dengan segala cara untuk berada di posisi atas, untuk menjadi bos.

Karena tentu saja, saat kamu menjadi bos/atasan, kamu punya kekuasaan itu, kamu punya hak untuk melakukan apa saja seturut dengan kehendakmu. Tapi, apakah dengan begitu kamu bisa dikatakan pemimpin yang baik? Karena pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu mengajar, mengayomi, dan menjadi teladan bagi siapa pun, terutama bagi bawahannya.

Tapi, sekali lagi, inilah hidup, terlalu beragam, dan sepertinya hidup memang akan lebih seru dan ada tantangan dengan adanya orang-orang seperti demikian.

Setelah saya menangis sejadi-jadinya dan memiliki banyak waktu untuk bertenang diri di rumah, secara keseluruhan saya kembali mengingat bahwa ada satu hal paling penting yang membuat kedua atasan saya menjadi seperti itu.

Saya teringat akan cerita beberapa karyawan lainnya saat di pantry beberapa bulan silam, bahwa mereka ternyata adalah dua manusia yang datang dari latar keluarga yang kurang lengkap dan kurang bahagia.

Mengapa ada yang menargetkan saya untuk menjadi daun mudanya? Karena setelah saya tilik kembali cerita tersebut, ia dan istrinya sibuk dengan masing-masing pekerjaan mereka. Tidak ada waktu komunikasi antara kedua belah pihak. Akhirnya, sang suami pun berusaha mencari kenikmatan dunia di tempat ia bekerja.

Untuk atasan yang sering marah tanpa alasan yang jelas dan mencari tahu kehidupan pribadi orang lain, ternyata ia adalah wanita yang pernah disakiti oleh seorang pria dengan dahsyatnya, sehingga di umurnya yang telah lansia ini, ia memilih untuk sendiri.

Dengan kata lain, ia sangat trauma dan kesepian. Di tengah trauma dan kesepiannya, ia juga tampak bingung untuk melampiaskan perasaan dan emosinya kepada siapa, sehingga kami yang berada di kantorlah yang menjadi sasaran empuk.

Saya tidak tahu betul apa yang terjadi dengan masa lalu atasan saya dan pria yang pernah ia cintai. Tapi, jika ia pernah disakiti, bukankah hampir semua orang dewasa pernah merasakan yang namanya disakiti?

Disini, yang penting sebenarnya adalah bagaimana kita melawan rasa sakit itu dan berkeinginan bangkit, tidak terpuruk dan berlarut dalam masalah. Karena kenyataannya, truma yang ia alami berdampak buat banyak orang, kan?

Selain itu, penting untuk memiliki pengendalian diri. Tak mengapa jika kamu memilih sendiri untuk kehidupan selanjutnya, tapi alangkah baiknya jika kamu tidak membiarkan emosi yang tidak stabil dibawa dan dilempar ke kantor untuk para bawahan yang sebenarnya tidak tahu apa yang sedang dialami oleh dirimu dan oleh hatimu.

Setelah saya berusaha memahami posisi mereka di rumah, saya tidak lagi mengasihani diri saya sendiri karena masalah di kantor. Saya pun merasa iba akibat apa yang menimpa kedua atasan saya dan membagi rasa kasihan itu kepada mereka juga.

Iba dengan cara apa? Saya tentu harus tetap bersikap wajar dan bijak. Di hadapan mereka saya terus berusaha professional dalam pekerjaan, namun di belakang mereka saya berusaha mendoakan yang terbaik untuk keluarga masing-masing mereka.

Intinya, akar segala yang terjadi bermula dari hati, dari diri sendiri, dari lingkungan keluarga, dari rumah. Karena apa yang kamu berikan bagi orang banyak untuk mereka lihat dari dirimu, adalah apa yang juga akan mereka nilai dari isi rumahmu, dari keluargamu.

Semua memang berasal dari rumah, dan rumah yang saya maksud disini adalah hati. Jika hatimu baik, tulus dan bersih, maka tindakanmu pun akan mengikuti. Semua memang berawal dari hatimu, dari rumahmu.

Pada akhirnya, setiap umat manusia pasti punya masalahnya masing-masing dengan berbagai macam cerita dan cara. Tapi semua kembali lagi dari bagaimana cara kita menyikapi, dan tentunya kembali lagi dari ajaran apa yang kita biarkan masuk dan tertanam di hati dan pikiran kita sehingga kita mampu melewati semuanya dengan baik, atau malah sebaliknya.

stephaniesdailylife You've satisfy my every desire with good things. You've supercharged my life so that I can soar again like a flying eagle in the sky!

9 komentar untuk "Berawal dari Rumah"

  1. Benar mba Cristin, semua berawal dari rumah

    BalasHapus
  2. Ya, tetap berbuat baik dan berdoa kepada Tuhan untuk kebaikan orang lain. Apapun yang terjadi, berbuat benar dan berprinsip. Selebihnya hukum Tuhan yang akan bekerja.
    Percayalah

    BalasHapus
  3. Setiap org pasti punya problem. Yg penting selalu menyikapinya dgn bijak. Take care.
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju dengan Mas Tonny! Keren artikelnya nih Steph.

      Hapus
  4. Terima kasih untuk artikelnya, Mbak☺️👍 bermanfaat.

    BalasHapus
  5. Gas terus, Mbak. Aku kirimkan sejuta semangat. :-)

    BalasHapus
  6. Semoga ilmu yg baik dan bermanfaat bisa kita ajarkan pada enak-anak?

    Berawal dari rumah...

    BalasHapus

Berlangganan via Email