Header Atas - Panjang

Belajar Perbedaan dari Anatomi Tubuh

 

Ilustrasi gambar oleh freepik.com


Manusia adalah mahluk sosial, itulah gunanya berteman. Namun berteman saja tidaklah cukup, memiliki ketertarikan yang sama, harus menjadi pelengkap.

Tanpa disadari, timbullah persahabatan. Di awal-awal usia sekolah, kita sudah menyeleksi pertemanan dengan beberapa sahabat yang dianggap cocok. Sementara kawan yang dianggap tidak “satu frekwensi”, seringkali dihindari, bahkan dimusuhi.

Ryu-Kahn jika ditanya, mengapa kamu lebih suka berteman dengan Albert, Veluna, dan Rafael, sementara yang lainnya tidak? Ia hanya menjawab karena kita semuanya sama.

Dari persahabatan ini, muncullah identitas kelompok. Tidak jarang nama geng menjadi sebuah label yang memuliakan para anggotanya. Tidak ada alasan yang resmi, mengapa persahabatan kelompok ini terjadi, yang pasti, ada sebuah persamaan yang muncul.

Pertanyaan yang menggelitik, apakah betul pada akhirnya manusia hanya akan berkumpul karena adanya kebersamaan? Apakah betul komunitas yang langgeng harus terbentuk atas dasar kesamaan? Apakah memang manusia hanya menyukai persamaan saja?

Saya menggarisbawahi kata sama. Jika demikian, perlukah kita mempermasalahkan perbedaan?

Manusia suka dengan persamaan, namun juga selalu mempermasalahkan perbedaan. Seandainya hari ini semua orang hanya terdiri dari 1 ras, 1 agama, dan 1 jenis warna kulit, apakah perbedaan tidak akan ada lagi?

Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna. Tanpa harus membedakan seseorang dengan orang lainnya, tubuh dan seluruh sistem yang berada padanya, sudah merupakan sebuah keniscayaan.

Tentu memiliki dua mata akan membuat sudut pandang yang terbaik. Telinga yang berada di kiri dan kanan, agar suara dapat diserap dari segala arah. Sementara tangan yang berjari lima tentu akan nikmat digunakan untuk mengenggam.

Namun sadarkah bahwa kesempurnaan tubuh kita juga memberikan sebuah pelajaran berharga tentang kehidupan. Secara umum tubuh manusia terdiri dari kepala, leher, batang badan, 2 lengan, 2 kaki.

Akan tetapi tubuh luar juga didukung oleh 6 jenis organ besar dan 13 jenis sistem anatomi yang membedakan antara manusia hidup dan mayat.

Kemampuan manusia hanya sampai pada tahap penelitian fungsi dan peranan dari setiap bagian tubuh. Alasan mengapa kita diciptakan sedimikian rupa, masih menjadi misteri.

Apakah kita menyukai tubuh kita? Adakah yang pernah menggerutu mengapa kita memiliki tubuh yang indah? Apakah ada yang pernah mempertanyakan mengapa kita tak memiliki empat batang lengan?

Jika tidak, artinya kita tidak perlu memrotes mengapa tubuh diciptakan sedemikian rupa.

Namun sayangnya, manusia selalu mencari perbedaan di antara sesama. Warna kulit yang berbeda adalah simbol kasta. Bentuk rambut yang tidak sama adalah simbol perlawanan. Semua hal yang seharusnya sama, tetap saja dianggap berlainan.

Padahal tubuh kita telah mengajarkan kita banyak hal mengenai perbedaan.

Kita memiliki 5 jari yang dikenal dengan jari telunjuk, tengah, manis, kelingking, dan jempol. Jika perbedaan itu bermasalah, maka seharusnya kita hanya memiliki jempol untuk ke-lima jari.

Nyatanya tidak, manusia tetap memerlukan perbedaan bentuk pada jari agar dapat berfungsi maksimal dengan peranannya masing-masing.

Perbedaan bukan saja penting, namun ia juga adalah anugrah, namun sayangnya adalah manusia yang selalu menyalahkan perbedaan.

Tuhan menciptakan kehidupan dengan segala keragamannya. Perbedaan bukanlah menjadi hal yang harus dibrutalkan.

Keragaman sejati adalah sebuah rantai simbiosis komensialisme yang saling melengkapi. Satu pihak diuntungkan, tanpa merugikan pihak lain.

Meributkan perbedaan, sama dengan meragukan alam semesta dan seluruh ciptaan-Nya.

Melenyapkan perbedaan sama dengan mengamputasi kaki, karena tidak sama dengan tangan.

Menghargai perbedaan akan menimbulkan perdamaian, karena pada dasarnya saya berbeda, anda berbeda, dan kita semua berbeda.

Marilah kita mulai mengapresiasi keragaman ini, sebelum Tuhan memutuskan untuk menciptakan satu jenis kelamin saja di dunia ini. 

 

Referensi:

https://www.diadona.id/d-stories/pengertian-komunitas-secara-umum-serta-dalam-biologi-menurut-para-ahli-200626g.html

 

SalamAngka

Rudy Gunawan, B.A., CPS®

Numerolog Pertama di Indonesia – versi Rekor MURI

 

Post a Comment

6 Comments

  1. Marilah kita mulai mengapresiasi keragaman ini, sebelum Tuhan memutuskan untuk menciptakan satu jenis kelamin saja di dunia ini.

    Waduuuh... Jangan sampai ya pakπŸ˜‚πŸ™

    ReplyDelete
  2. Banyak ilmu baru, thanks Mr. Angka

    ReplyDelete
  3. Numero uno selalu menyajikan sesuatu yang lain dari yang lain. πŸ‘πŸ»

    ReplyDelete
  4. Mantab, Pak Rudy.
    Sekilas, kayak nomor paslonπŸ˜ŠπŸ™

    ReplyDelete