Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa Kabar Pak Ma'ruf Amin?

 

Foto oleh Tribunnews.com

SELASA, 20 Oktober 2020, tepat satu tahun pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin menjalankan tugasnya sebagai presiden dan wakil presiden. Sejauh ini patut diakui tidak ada prestasi membanggakan yang bisa diukir oleh pasangan ini.


Kendati demikian, bukan berarti kita bisa serta-merta menyalahkan kinerja mereka. Mengingat awal-awal perjalanannya dalam menjalankan roda pemerintahan, pasangan yang didukung oleh koalisi gemuk tersebut dihadapkan pada situasi pelik. Pandemi virus Korona (Covid-19).


Tidak bermaksud membela atau mencari pembenaran atas kinerja Jokowi-Ma"ruf. Tapi, penulis merasa siapapun presiden dan wakil presidennya akan mendapat kesulitan. Contoh, sekelas Presiden Donald Trump pun hingga hari ini belum mampu keluar dari situasi krisis akibat serangan dari virus asal Wuhan, China tersebut.


Kembali pada satu tahun pemerintahan Jokowi-Ma'ruf sejatinya yang mendapat sorotan adalah keduanya. Tapi, fakta di lapangan justru Jokowi lah yang terkesan dipojokan atas anggapan tidak mampunya menangani virus Korona dan segala dampaknya tersebut.


Oke, kita sepakat bahwa presiden adalah orang yang paling bertanggung jawab. Namun begitu, peranan Ma'ruf pun sejatinya tak kalah penting.


Di saat Pandemi ini sejatinya Ma'ruf bisa mengambil peranan lebih strategis dalam penanganan Covid-19. Bukan hanya sekadar mengikuti rapat-rapat internal.


Tanpa bermaksud membandingkan, peranan Ma'ruf jauh beda dengan Jusuf Kalla menjabat wapres. Ia mampu bergerak cepat saat menangani bencana tsunami Palu pada tahun 2018 lalu. Ia bertidak selaku Ketua Satgas penanggulangan bencana.


Kala itu Presiden Jokowi terlihat mampu berbagi tugas dan sangat percaya terhadap Wakil-nya. Benar saja, Jusuf Kalla mampu mengemban tugasnya itu dengan baik. 


Peranan Ma'ruf Tak Tampak


Diakui atau tidak peranan Wapres Ma'ruf Amin memang tidak tampak. Itu pula yang menjadikan anggapan sejumlah kalangan bahwa keberadaannya tak lebih sebagai simbolik semata.


Atau, dalam pandangan penulis hanya difungsikan sebagai penjaga simbol partisipasi kelompok Islam, terutama Nahdlatul Ulama. Maka, sengaja ia tidak begitu dilibatkan dalam teknis pemerintahan. 


Kembali, Ma'ruf hanya harus konsisten dalam menjaga harmoni antara pemerintah dengan kalangan umat Islam khususnya santri. Lagipula, dilibatkan terlalu jauhpun dalam tekhnis pemerintahan atau ditugaskan mengurus pembangunan jembatan, jalan dan infrstruktur lainnya akan sangat melelahkan bagi usianya yang sudah lanjut.


Ma'ruf Jadi Alat Politik Partai Pengusung


Mengingat usianya yang sudah lanjut dan peranannya yang boleh dikatakan tidak ada sebagai wapres, Ma'ruf Amin sempat diisukan akan mundur dari jabatannya.  Posisinya akan diganti oleh Menhan Prabowo Subianto.


Kendati begitu akhirnya bisa ditebak bahwa isu tersebut hanya hoaks. Ma'ruf hingga hari ini masih menjabat wakil presiden.


Namun, yang patut digaris bawahi adalah munculnya isu tersebut tentu berdasarkan sebab akibat. Dalam hal ini eksistensi Ma'ruf Amin seolah hilang ditelan bumi. Mengecewakan? Itu pasti.


Namun demikian, penulis merasa yang lebih memprihatinkan adalah Ma'ruf Amin tak ubahnya korban politik partai pengusung semata. Artinya, jadi wapresnya Ma'ruf hanya untuk memuaskan hasrat politik mereka.


Kenapa?


Coba kita ingat-ingat saat Jokowi belum jelas pasangan calonnya. Kala itu muncul nama Mahfud MD. Nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi hingga jelang pengumuman pasangan calon terus menguat akan dijadikan sebagi wapresnya Jokowi.


Penulis masih ingat betul, menit-menit terakhir jelang deklasrasi pasangan calon, nama Mahfud MD dicoret dan digantikan Ma'ruf Amin.


Meski pada akhirnya Mahfud blak-blakan bahwa kegagalannya karena manuver politik yang dilakukan sejumlah petinggi Nahdlatul Ulama, atas perintah Maruf Amin. Namun, penulis melihatnya itu hanya sebagian dari strategi politik partai pengusung. Maksud sebenarnya adalah dengan mencoret Mahfud digantikan Ma'ruf untuk membuka peluang mereka pada Pilpres 2024.


Dalam hal ini masing-masing partai pengusung akan bisa mengusung calon yang sesuai dengan kepentingan partai masing-masing. Sebab, hampir dipastikan Ma'ruf Amin tidak akan mencalonkan diri karena usia lanjut.


Sebut saja Golkar, saat ini terpaksa merapat ke PDI Perjuangan untuk mengusung Jokowi, karena mereka sadar tidak mempunyai kader mumpuni melawan petahana. Pun dengan Nasdem, PKB dan partai pengusung lain.


Namun, kemungkinan besar koalisi ini pada Pilpres 2024 bakal pecah. Mereka akan lebih berani mengusung calonnya masing-masing mengingat tidak ada lagi lawan berat.


Beda halnya kalau Mahfud MD yang dipasangkan dengan Jokowi. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini kemungkinan besar akan kembali mencalonkan diri. Dan, posisinya sebagai petahana akan sangat menguntungkan.


Sementara partai yang berpeluang meminang Mahfud adalah partai besar. Misal PDI Perjuangan atau Golkar. Gerindra hampir mustahil, karena telah mempunyai jagoan dalam diri Prabowo Subianto.


Dengan begitu, partai medioker terpaksa harus kembali mengekor. Karena memaksakan kader atau calonnyapun kemungkinan menangnya kecil. Terlebih regulasi presidential threshold masih 20 persen semakin mempersempit ruang gerak mereka.


Untuk menghindari hal tersebut maka disepakati bahwa pendamping Jokowi adalah Ma'ruf Amin. Orang yang hampir dipastikan tidak akan lagi mencalonkan diri. Selain itu, ia juga dibutuhkan untuk menjaga menjaga harmoni antara pemerintah dengan kalangan umat Islam khususnya santri.


Salam

2 komentar untuk "Apa Kabar Pak Ma'ruf Amin?"

Berlangganan via Email