Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anak Perempuan Bernama Kamila

 Aku belum lama mengenal ibunya. Ibu dari anak perempuan bernama KAMILA. Tapi akhir-akhir ini kami sering tersambung lewat telepon.

Bukan berarti kami hanya bertemu di sekolah saat menjemput anak kami masing-masing. Aku pernah ke rumah mungilnya bersama ibu-ibu orang tua murid yang lain. Aku mengenal gerak-geriknya walau hanya sedikit. 

Tak ada yang istimewa dari anak perempuan bernama KAMILA. Rasa-rasanya sama saja dengan anak murid yang lain. Ramah, cerdas, penyayang adik, punya banyak teman. Finish.

Sejujurnya aku tak begitu suka ngobrol masalah di luar pelajaran, dengan ibunya KAMILA. Bukan karena suaranya yang serak basah mengganggu telinga, tapi karena kalimatnya tak putus-putus. 

Ia tak membiarkan aku menyelesaikan dulu topik pembicaraan. Kelihatannya ia tipe pembicara, bukan pendengar.

Semangatnya menggebu-gebu, sangat tak sabaran. Sesuatu yang sudah dia rasakan feel nya, langsung disambung tanpa ampun. Berpuluh kalimat keluar dari mulutnya, mirip peluru bombardir. Aku harus sabar-sabar membiarkan kuota berjalan lebih lama.

Ini bukan kali pertama, kutemukan sosok ibu-ibu tipe penyiar radio. Tapi aku lebih tak suka lagi memotong pembicaraan orang lain. Kubiarkan ibunya KAMILA terus bertualang dengan ceritanya. Mungkin hatinya lagi senang atau semacamnya. Masih untung ada teman yang mau menanggapi keluhanku, ketimbang menjawab singkat: iya juga sih...masak sih...

Dengan segala sabar, akhirnya justru kudapatkan fakta positip yang membuat meleleh. Tentang putrinya yang begitu penurut dan berbakti, yaitu KAMILA.

Andai aku tak benar-benar mengenal keduanya dan tau persis isi raport KAMILA, mungkin semua ini terasakan subyektif. Mungkin dengan gampang mengatakan ibunya membela-bela anaknya, dan melebih-lebihkan cerita.Tapi aku bukan tipe mudah mencap begitu saja. 

Aku trenyuh mendengar cerita bagaimana KAMILA selama proses belajar online di rumahnya. Beberapa tulisan KAMILA dikirimkan ibunya via whatsapp. Tentang pelajaran yang kami bahas di telepon.

Tulisan KAMILA tampak rapi dan natural. 

Menurut kabar burung, beberapa murid dibantu ibunya untuk menulis rapi. Aku tau ibunya KAMILA dan aku sama dalam hal ini. Kami lebih suka anak-anak mencapai sendiri kemajuannya, bukan semata-mata nilai yang tinggi dari wali kelas.

"Aku tak menentukan KAMILA memilih jawaban apa..." serak suara ibunya di ujung telepon.

"Kalau jawaban kami berbeda...ya jawaban KAMILA yang ditulis....kan dia yang sekolah..." katanya lagi.

"Walaupun menurut ilmu yang kita dapat di sekolah dulu, anak ini pasti salah...tapi aku biarkan saja...nanti dia akan mengerti sendiri..." bla...bla...bla...

"Kami ngga mau berdebat...aku juga ngga mau anak-anak menurut tapi hatinya tertekan...aku beri dia kebebasan..." sambungnya lagi.

"Kalau mama Andini, bagaimana? Kan kemarin sempat bilang...Andini menurut aja...Itu salah sih, kalau menurut aku..." ia belum berhenti.

Begitulah, kami membahas bagaimana sikap yang baik dalam mendampingi anak-anak belajar dari rumah. 

Saat telepon berakhir, banyak yang kupikirkan.

Selama ini aku sudah merasa bangga karena tak menjadi guru yang membuat mata anak-anak berkaca-kaca bahkan menangis. Beberapa ibu bersikap galak saat menjadi "guru dadakan" anak mereka sendiri.

Aku memejam mata beberapa saat. Mengingat kekuranganku sendiri.

Besok belajar online lagi, entah sampai kapan selama pandemi. Aku akan memperbaiki caraku mendampingi Andini belajar. Aku tak boleh memaksakan pendapatku. Aku harus belajar lebih menghargai anakku sendiri, seperti yang dikatakan ibunya KAMILA. Aku harus menahan diri dan membiarkan anak-anak berkembang sewajarnya, asal tak merasa ditekan.

Menimbulkan rasa nyaman di saat belajar daring seperti ini, sangatlah penting. 

KAMILA hanyalah seorang anak perempuan yang belum genap sepuluh tahun, sama dengan putriku. 

Biarkan mereka melalui masa-masa belajarnya, masa-masa memperbaiki kesalahannya.

Selama ini aku menuntut anak-anak tampil sempurna, itu salah.

Aku menatap foto KAMILA dalam grup kelas. Setiap murid pun ada. Senyumnya khas anak-anak. Walaupun dengan seragam sekolah dan sambil mengerjakan tugas. Hmm...


Foto: Pixabay-human


Ayra Amirah
Ayra Amirah Menulis adalah rekreasi tuk hati kita

6 komentar untuk "Anak Perempuan Bernama Kamila"

  1. sayapun sama mba lebih membiarkan sepemahaman anak saya untuk mengisi. Bir anak saya yang hebat bukan emaknya atau bapaknya dalam mengisi tugas tugasnya.
    Kalo saya dengan adanya belajar dering ini jadi tau bagaimana beratnya seorang guru mengajari banyak anak dalam satu kelas. Saya kadang kalo anak sudah ga mau susah saja. enthalah bagaimana guru disekolah mengarahkannya jika terjadi hal anak tidak mau mengerjakan tugas - tugasnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh...terima kasih banyak utk semuanya

      Kalau di kelas, anak-anak lebih mudah diarahkan sepertinya...

      Karena semangat dengan adanya teman-teman.

      Semoga anak Indonesia bisa segera aktif di sekolah lagi yaa..

      Hapus
  2. Semoga Covid segera berakhir dan anak2 belajar seperti biasa lagi ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...aamiin... mbak Dinni

      Anak-anak sudah lama rindu teman-temannya😊

      Hapus

Berlangganan via Email