Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aku Tunggu di Gerbang Akhirat (Bagian Empat)


  Dokpri
                               


Bagian Empat 


<< Sebelumnya

“Iya dan minta Noormah buatkan kopi susu, tapi susu gak ada, Bapak kasih Rp.20.000, buat beli susu,”

“Iya, jadi selama setahun menikah itu bu Noormah nggak pernah Bapak kirimin uang?”

“Enggak,”

“Trus buat makan dan kehidupannya sehari-hari sama Dodi gimana?”

“Noormah itu punya rumah Kost-kost-an di Kampung,”

“Oh gitu? Trus setelah itu Bapak tinggal sama bu Noormah di Kampung?”

“Nggak, setelah itu Bapak tiga tahun gak pulang-pulang lagi ke Kampung,”

“Waduuh! Dan bu Noormah minta cerai sama Bapak?”

“Nggak, waktu itu dia nyusul Bapak ke Kandis,”

“Iya dan tinggal di Kandis sama Bapak?”

“Nggak, waktu itu Bapak masih terus membawa Mobil lintas antar Provinsi, tapi setelah menikah sama Noormah itu Bapak gak pernah lagi singgah di Warung remang-remang kayak waktu sebelum nikah sama Noormah,”

“Kenapa? Bapak merasa bersalah sama Noormah?”

“Bukan, udah beberapa kali Bapak coba sama perempuan-perempuan di Warung Remang-remang itu, tapi punya Bapak gak bisa bangun, tapi kalau sama Noormah bisa,”

“Hahahaha… pantas saja bu Noormah tenang-tenang aja Bapak gak pulang-pulang ke rumahnya. Terus?”

“Lima tahun setelah menikahi Noormah itu baru Bapak tinggal serumah sama Noormah,”

“Di Kampung?”

“Nggak, kami tinggal di Kandis, Bapak dulu lama tinggal disana, Bapak berhenti membawa Mobil angkutan barang dan kerja apa saja yang penting bisa menghidupi keluarga, anak Bapak banyak, ada 7 orang, 6 laki-laki 1 perempuan, tapi yang perempuan itu meninggal pas usia satu tahun,”

“Iya,”

“Ira itu anak angkat Bapak dan Noormah, tapi ternyata jodohnya gak jauh-jauh, dia menikah sama anak Bapak yang paling bungsu.”

“Oh yang suka merebuskan air buat mandi itu ya?”

“Iya, dulu awalnya Bapak sama Noormah gak setuju mereka menikah, sebab Ira itu sudah seperti anak kandung sendiri, tapi mereka udah terlanjur saling cinta, akhirnya sebagai orang tua Bapak gak bisa berbuat apa-apa lagi,”

“Ira,  Bapak asuh dari kecil?”

“Nggak, usia nya udah 17 tahun pas ikut kami,”

“Oo gitu? Orang tuanya gak ada?”

“Ada, pernah kami masukan ke dalam Koran dan Ibu kandungnya datang ke rumah, tapi Ira gak mau ikut dengan Ibu kandungnya dan malah memilih untuk tetap ikut bersama kami, akhirnya kami ada 9 orang di rumah itu, dua perempuan selebihnya laki-laki, Noormah itu sayang betul sama Ira, tidurnya aja kadang masih di kamar kami, padahal dia kami buatkan kamar tidur sendiri dan abang-abangnya itu semua sayang sama dia.”

“Iya, gimana ceritanya kok Ira bisa ikut dengan keluarga Bapak di Kandis?”

“Siang itu cuaca di Pasar Kandis lumayan cukup panas, Bapak kan dari dulu suka duduk di Warung Kopi, bapak dulu dapat imbalan untuk jasa keamanan di pasar itu. Dan waktu itu Bapak melihat ada seorang gadis tanggung yang baru di turunkan oleh Mobil dan sepertinya tengah kebingungan. Karena kasihan, Bapak datangi dan tanya tujuannya mau kemana, dan dia bilang mau mencari Ibu nya. Bapak tanya Ibu nya tinggal di daerah mana tapi dia gak tau alamat Ibunya, jadi bapak telepon Noormah, ini ada anak gadis yang sedang mencari Ibu kandungnya, kalau mau merawat nanti tak bawak pulang, Noormah setuju, akhirnya gadis tanggung itu Bapak bawak pulang.”

“Oh gitu, trus?”

“Sama Noormah, anak gadis itu di ganti namanya, awalnya nama dia Feni tapi sama Noormah di ganti Ira,”

“Ira mau?”

“Mau?”

“Trus?”

“Bapak tetap usaha bantu cari ibu kandung Ira, dan kurang lebih 3 bulan Ira tinggal di Rumah, datang Ibu kandungnya, parasnya lumayan cantik, beda jauh dengan Ira, dan waktu itu Ira gak  mau ikut sama Ibu kandungnya yang di Kandis ini sudah menikah lagi, selama ini Ira tinggal di kampung sama Neneknya, dia di tinggal Ibu kandungnya saat usia nya masih berumur 3 tahun.”

“Iya,”

“Ternyata, malah di antara anak-anak Bapak itu malah Ira yang mewarisi ilmu Noormah,”

“Ilmu apa?”



Bersambung


Catatan: Di buat oleh, Warkasa1919 dan Apriani1919.  Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu hanyalah ilustrasi semata untuk mempermanis cerita dan tidak ada unsur kesengajaan.


Apriani1919
Apriani1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam karena itu membuat aku tiada secara perlahan

3 komentar untuk "Aku Tunggu di Gerbang Akhirat (Bagian Empat)"

  1. Waah udah tayang bagian empatnya ya😁👍☕

    BalasHapus
  2. 😂😂😁😁 iya ngebut

    BalasHapus