Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kembali ke Bumi

Aku turun ke bumi kala desahmu terbawa bayu mengantar buluh rindu lalu menyapa sukmaku.

Cerita itu lalu datang. Tentang gemintang yang berlarian lintang pukang menyulam langit kelam agar malam tak jadi suram. Demikian engkau tuturkan.

Berkat kau aku kembali ke bumi. Karena kau pandai merajut pelangi dari segenggam renyai yang mengejai dan sejumput mentari yang sembunyi. 

istockphoto.com

Bila gurun tak merintangi kau menyapaku, maka tak patut samudra membuatku pilu karena merayu setangkup rindu darimu.

Jika gunung tak menghalangimu menyampaikan warita tentang cinta, maka patutlah pawana menyasap duka dari dada supaya kita bersama.

Aku kembali ke bumi. Karena kau sebarkan asa tentang bahagia di suargaloka yang baka, tempat kita bersuka cita.

Aku tak lagi bersemayam dalam khayalan tak bersempadan, karena aku menyambut bentangan yang kau rentangkan.

Untuk engkaulah aku kembali ke bumi, tempawan hati.

14 komentar untuk "Kembali ke Bumi"

  1. Selalu keren dan mampu membuat siapa saja yang membacanya merasa bahwa puisi ini ditujukan buat dia☺️👍

    Sebutir Mutiara itu walau ditempatkan dimanapun tetap akan menjadi mutiara ya🙄😂🙏☕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat dia dan kamu, uhuuyy! 😂✌️
      Mutiara dari timur itu kalau ga salah Andi Meriam Mattalatta, heeheh!

      Hapus
    2. 🙄😂😂🙏

      Hapus
  2. Diksinya apik tenan, banyak kata unik yang jarang dipakai disusun dengan pas membuat puisi ini memberi kesegaran baru ya...

    Seperti hujan yang senantiasa kemabali ke bumi, puisi ini seakan memberi harapan baru menyemai kasih penuh rindu. Mantap!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teh Desi cocok jd pengamat sastra. Ngerti semuanya, saya ikut belajar donk, Teh.

      Hapus
  3. Apik ini mbak. Saya paling gak bisa bikin puisi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Budi jago nulis artikel.

      Hapus
    2. Sama .. OmBud, saya cuma bisa puisi yang sederhana.. itu juga nunggu idenya lamaa.. ha ha

      Hapus
  4. Selalu keren mba Yana mantap jiwa

    BalasHapus