Header Atas - Panjang

AHY Makin Lihay

 

AHY Makin Lihay

Lucu atau naif, entahlah, yang jelas AHY dengan Demokratnya mengambil pilihan untuk tidak mendukung UU Cipta Kerja. Hak konstitusi, soal benar atau tidak, toh waktu yang akan menjawab dan menguak kebenarannya. Drama usai itu yang membuat Demokrat semakin naif.

Lagi-lagi ini soalpilihan. Bagaimana mereka bersikap. Mau oposan ya silakan, asal berkualitas dan bukan waton sulaya. Artikel ini sudah persiapan sejak tiga hari lalu, jadi sangat berbeda pada uraiannya karena data-data terbaru  yang lebih menggelikan.

Semua hanyalah permainan politik. Demi mendapatkan pengaruh, simpati, dan sangat mungkin adalah kursi. Ketika AHY meminta maaf mengenai kegagalannya menahan laju UU Cipta Kerja, dibarengi dengan narasi mematikan microphone, dan juga penolakan dengan tegas oleh Benny K. Harman, jangan kaget satu demi satu narasi sebaliknya muncul.

Pak Bey mengaku Omnimbus Law sejalan dengan pemikirannya, kala itu, kini berbeda, tentu bukan dalam kapasitas lupa ingatan, atau AHY melawan senior, tentu tidak. Momentum dan kesempatan yang mungkin saja menolong untuk pilkada. Jangka pendek, dan tentu tidak cukup signifikan untuk membesarkan kembali Demokrat.

Gedenya Demokrat itu karena sosok SBY dengan konteks dan kondisi yang sangat berbeda dengan saat ini. Masalahnya adalah  elit bangsa ini hanya mampu copas capes-an saja. Model yang pernah sukses dipakai lagi. Basi namanya. Pernah menaikan SBY kemudian mau diulang. Sukses dengan pilkada DKI dengan ayat dan mayat mau diulang.

Kali ini, Demokrat benar-benar hara kiri, blunder yang amat. Telak mati kutuk lebih mengerikan dari pada kekalahan Barcelona. Mengapa demikian?

Jauh hari rumor dari media sosial, ada gerakan Demokrat menggunakan isu UU ini sebagai sarana memenangi pilkada. Bantahan sama sekali tidak terdengar. Sangat mungkin mereka tidak menilai ini serius dan menganggap sepela saja. Ternyata tidak demikian.

Pernyataan demi pernyataan elit Demokrat yang seolah lupa daratan, tantruman, dan juga jual derita semakin mempertunjukkan dengan lebih jelas adanya statemen, penyandang dana dari mereka, dan penolakan UU ini demi pilkada lebih terbukti.

Ada tangkapan kamera, kalau elit Demokrat menjadi komando dalam aksi di Jogyakarta. Tahu sendiri akhir dari kejadian di Jogja adalah rusuh dan membakar rumah makan. Makin susah memisahkan Demokrat dari rusuh dan demo hari-hari terakhir.

Lahir pula ledekan buzzer Cikeas dan #papanobitangebetmimpin.  Lebih banyak lagi dugaan dan tudingan bahwa ada kaitan Cikeas dengan aneka riuh rendah hari-hari ini.

Masifnya pemberitaan, meme, dan juga sindirian di media sosial, sempat terpikir apakah ini upaya pembunuhan karakter Demokrat? Bertanya pada seorang rekan, jawabannya, enggak, Demokrat partai kecil, tidak cukup signifikan untuk dimatikan. Toh akan mati sendiri.

Kebetulan, kemudian ada rekan lain yang menayangkan potret kader Demokrat menjadi orator di Yogjakarta. Klop, Demokrat bunuh diri bukan sedang diteror lawan politik.

AHY ini anak bau kencur yang dipaksakan gede oleh orang tuanya. Ambisi yang tidak cukup berhitung. Di tengah eforia lahirnya pemimpin berprestasi, seperti Jokowi, Ahok, Ganjar, Ridwan, Risma, dan banyak lagi. Malah mengajukan anak kemarin sore yang benar-enar hijau.

Militer belum tuntas. Sama sekali masih sangat yunior, hijau, dan sama sekali tidak bisa membuktikan kapasitasnya jauh lebih dari kata orang. Kecenderungan yang ada mempertontonkan ia mengafirmasi dan mengiyakan penilaian publik itu.

Demokrat banyak benalu dan kader yang mode bapak senang. Memuja dan memuji SBY dan AHY sebagai yang terbaik tanpa mau tahu kondisi nyata yang ada. Ini bumerang yang cenderung dinikmati dengan suka cita.

Bayang-bayang SBY yang ditakutkan dan menjadi bahan pembicaraan makin ke sini makin terbukti. Tidak berani keluar dari sana, namun gamang juga di bawah bayang-bayang SBY. Susah ketika pemimpin kog tidak orisinil. Bagaimana ketika harus mengambil keputusan spontan. Penasihat penting, namun bukan dalam arti harus semuanya dari penasihat tentunya.

SBY juga seolah sangat menikmati peran itu. Orang tua, bapak, dan juga mentor sekaligus seharusnya malah melepaskan AHY sebagai dirinya sendiri, dan ketika ada yang  tidak pas meluruskan dan memberikan arahan, bukan mengekang dan mengendalikan.

Sosok yang mampu memberikan masukan kepada mereka tidak ada. Di atas sudah dikatakan, kader Demokrat cenderung ABS mana berani memberikan masukan apalagi kritikan.  Mereka berdua saling menelikung tanpa sadar sebenarnya.

Kasus demi kasus korupsi sama sekali tidak mampu mereka bersihkan. Hambalang, Century, dan kini malah juga Jiwa Sraya ikut didengung-dengungkan ada keterlibatan cukup kuat dengan mereka. Masalah sangat besar yang menodai Demokrat, malah mereka tidak mampu mengurangi malah menambah dengan masalah baru.

Menyerang bak babi buta pada Jokowi yang dianggap sebagai rival. Sering saya katakan, ini percuma. Memukuli tiang pancang sambil nangis itu tidak ada gunanya. Kritiklah pada porsinya, bukan malah ngaco. Lock down terbukti salah cara, eh kini dengan UU yang belum juga kelar secara purna.

Melepaskan dari bayang-bayang SBY  dengan segala kelucuannya sama sekali tidak mampu. Eh malah makin mengidentikan diri. SBY dengan tantrumannya, AHY dengan kelabilan ABGnya.

Salam Kasih

Susy Haryawan

Posting Komentar

7 Komentar