Header Atas - Panjang

Senandung Lirih Namamu

 Ilustrasi gambar: Koleksi Pribadi Ria Suharman

--------

Malam itu angin bertiup lumayan kencang hingga mempermainkan Rok kain panjang berwarna hitam yang tengah kukenakan. Saat itu di pinggir jalan dia mengecup hangat keningku sambil berkata,"Nisa, aku sayang kamu,"

Di pinggir jalanan yang berada tidak jauh dari Kafe tempat tadi aku sempat menemaninya meyeruput Secangkir kopi, saat itu aku masih seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ku alami. Ada rasa bahagia, pasrah dan semua rasa yang tidak bisa kujelaskan satu persatu.

Malam itu, di bawah siraman cahaya lampu trotoar jalanan, kubiarkan Lelaki yang mengenakan Kemeja lengan panjang itu memeluk erat tubuhku sambil melumat bibirku.

Untuk sekian lamanya aku hanya mampu diam, terpaku, sebelum akhirnya membalas lumatan bibir-nya itu dengan sepenuh hati. Dan aku baru berusaha melepaskan lumatan bibirnya ke bibirku sambil menggelinjang kegelian saat tangan Lelaki yang dulu kukenal begitu pendiam itu mulai nakal.

“Mmmm,,, jangan,” kataku pelan sambil berusaha menjauhkan tangannya dari area sensitifku.

“Kenapa?” 

“Ini di pinggir jalan, nanti jadi tontonan banyak orang!” kataku pelan, sambil berusaha mengatur jalan nafasku sendiri.

“Biarin aja,” katanya cuek.

“Jangan gila ah!” rengutku.

“Hehehe, kuantar pulang ya?” pintanya lagi kepadaku.

“Nggak, aku pulang sendiri aja,” aku berusaha menolak keinginannya yang hendak mengantarku pulang ke rumah malam ini.

“Kenapa?” tanyanya heran melihat aku menolak permintaannya.

“Hemmm, kita ini bukan anak abege lagi kayak dulu,” kataku pelan sambil menundukkan wajahku, tersipu malu.

“Hemmm, oke.” katanya lagi sambil membiarkan aku memesan kendaraan roda empat lewat aplikasi di layar handphone-ku.

“Salah sendiri kenapa dulu kamu gak mau ‘nembak’ aku,” kataku lagi sambil berusaha menggoda Lelaki yang dulu begitu pendiam itu.


---------

Aku tahu, malam itu terasa begitu berat baginya saat menerima kenyataan, bahwa ternyata Gadis kecil yang dulu diam-diam dia cintai itu ternyata juga mencintai dirinya, bahkan hingga saat ini.

Malam itu, d Kafe yang menyuguhkan bahan baku dari berbagai jenis Kopi ini, di antara suara iringan musik yang terdengar pelan, dalam temaram cahaya lampu "tempat ngopi" yang mengusung tema “Selalu ada kehangatan dari Secangkir Kopi” itu  aku tahu, bahwa dia adalah Lelaki biasa namun begitu istimewa di mataku. 

Dan malam itu adalah malam yang teramat istimewa buatku, sebab malam itu Tuhan izinkan aku untuk benar-benar mengenalnya, setelah sekian lama dirinya itu bagaikan satu dari sekian misteri yang ada di dunia ini.

Setelah pertemuanku dengannya di acara Reunian Sekolah hingga berlanjut ke tempat ini, dulu aku sempat syok ketika mendengar dari mulut sahabatku yang mengatakan, bahwa sebenarnya selama ini Lelaki yang diam-diam kucintai itu ternyata juga begitu mencintaiku. Bahkan hingga saat ini.

Menurut sahabatku yang juga sahabatnya itu, ternyata dalam "kehilangku" itu sebenarnya dia tidak pernah meninggalkanku. Amel, sahabatku itu telah menceritakan semuanya padaku.

Dan semua cerita tentangnya itulah yang akhirnya berhasil memenangkan pertempuran yang tengah berkecamuk di dalam hatiku selama ini, pertentangan hati antara keinginan untuk menemui seseorang yang berasal dari masa laluku atau mengabaikannya dan tetap menjalani kehidupanku, dengan tetap berpura-pura bahagia kepada semua orang ketika mereka bertanya tentang rumah tanggaku.

Apakah dia tau? Bahwa hingga malam inipun jauh di dalam relung hatiku, sebenarnya aku masih terus bertanya kepada Tuhan, sambil melihat ke arah diriku sendiri, "Kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan Lelaki yang begitu kucintai jika dia tidak bisa kumiliki?

Aku sadar bahwa diriku ini sudah tidak secantik dan semuda dulu, seperti saat aku pernah memohon kepada Tuhan, agar segera dipertemukan dengan Lelaki yang begitu kucintai ini.

“Kita jalani saja dulu,” katanya pelan sambil menghapus air mataku.

“Aku mencintaimu,” bibirku bergetar saat mengucapkan kata-kata yang sudah sekian lamanya menjadi rahasia besar di dalam hidupku.

“Begitupun aku,” katanya pelan sambil menggenggam erat jemariku.

 

Tuhan… Malam itu aku begitu bahagia, Ah! Seandainya Engkau izinkan. Aku ingin sekali hidup bersamanya pada suatu saat nanti.

 

 



 

 

Posting Komentar

4 Komentar