Header Atas - Panjang

Selagi Kita di Atas Tanah, Sebelum Tanah di Atas Kita

Selagi Kita di Atas Tanah, Sebelum Tanah di Atas Kita. Foto: Pixabay

Syukur yang bertumpah-ruah, kiranya inilah yang bisa kita lakukan pertama kali ketika menghirup dan menghela nafas. Kita tidur, bangun, kerja, bermain, santai, dan kemudian tidur lagi adalah sejumput nikmat sederhana yang wajib untuk disyukuri, walaupun sekadar ucap alhamdulillah.

Biarpun begitu, nada-nada syukur yang kita iramakan dengan ikhlas dan penuh kerelaaan sesungguhnya telah memberikan kebaikan untuk diri kita sendiri. Apa itu? Adalah kelapangan dan keleluasaan hati.

Banyak orang bahagia, tapi akhirnya kebahagiaan itu malah jadi semu karena mereka lupa untuk bersyukur.

Uang mungkin banyak, tapi apalah daya jika hati ini masih terlalu sempit dan tak mau menyempatkan diri untuk bersyukur. Maka dari itu, usahakan agar perbuatan ringan ini tak boleh tinggal.

Mengapa tak boleh tinggal? Jawabannya sederhana. Kita hidup di dunia hanya sementara. Para ulama mengibaratkan bahwa umur manusia jaraknya hanya antara adzan dan iqamah. Sungguh hanya sebentar, bukan?

Selagi Kita di Atas Tanah, Sebelum Tanah di Atas Kita. Foto: Dokpri

Alhasil, selagi kita di atas tanah, lantunan syukur tak boleh berhenti karena memang itulah kesempatan terbaik untuk menambah amal. Beda kisah bila tanah yang sudah di atas kita. Yang ada hanya penyesalan, dan kita tahu sendiri bahwa yang namanya sesal itu menyakitkan.

Jangan Pernah Berhenti Berbuat Baik

Terus berbuat baik walau diri ini belum baik? Ah, kalau kita berhenti di tengah jalan, artinya kita lebih peduli dengan persepsi orang dibandingkan diri sendiri. Terang saja, semua kata-kata orang hanyalah persepsi, dan semua persepsi hanyalah sudut pandang akal dan nafsu manusia saja.

Yang baik belum tentu dibilang baik, dan yang buruk bisa saja dibilang jadi baik. Artinya, kalaulah kemudian kita terlalu baper dengan kisah dan mulut-mulut hampa orang lain, bisa gawat!

Berbuat baik. Foto: Pixabay

Meskipun demikian adanya, satu hal yang pasti bahwa kebaikan selamanya tetaplah kebaikan sampailah hari kiamat tiba. Benar apa benar? Tentu saja. Tak ada alasan apapun yang bisa membantahnya.

Maka dari itu, sebagai seorang hamba yang rawan dosa dan kerap kali bersalah, kita jangan pernah berhenti untuk berbuat baik. Soalnya, perilaku kebaikan itu tidak bisa didapat dengan hanya bersekolah dari SD hingga profesor. Kebaikan adalah pembiasaan, dan kalau pembiasaannya baik, maka orangnya akan jadi baik.

Pernah terbesit di telinga kita tentang hadis As-Syaikhani yang isinya:

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pulalah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pulalah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”

Kalam Nabi ini shahih, yang berarti bahwa tidak perlu ada pertentangan terhadapnya. Yang bisa kita petik adalah, ternyata kebaikan itu berasal dari hati. Hati yang baik akan mewujudkan kebaikan, dan sebaliknya, kebaikan akan memperlembut hati.

Jangan Pernah Berhenti Memperbaiki Diri

Apakah berbuat baik itu cukup sekali-dua kali saja? O, tentu tidak. Bahkan, berbuat baik hingga 10 kali pun tidak akan pernah cukup untuk menobatkan bahwa diri ini boleh merasa baik. Berbuat baik itu sungguh boleh, tapi merasa sudah baik itu tidak boleh, kan?

Certainly. Ketika seseorang sudah merasa baik, ada indikasi bahwa kebaikan yang selama ini telah ia lakukan telah memuaskan dirinya. Namanya juga manusia, kalau sudah puas, belum tentu sesuatu hal yang baik tadi mau untuk kembali ia lakukan.

Yang ada, ia malah ungkit-ungkit kebaikan di masa lalu sembari menuntut balasan kebaikan. Duh! Padahal Allah menjamin bahwa kebaikan itu berbalas surga, kan? Semestinya begitu, dan maka dari itulah kita jangan pernah berhenti untuk memperbaiki diri.

Manusia adalah sawahnya dosa dan lumbungnya salah sehingga selagi tiap-tiap kita masih berdiri di atas tanah, kita selalu bisa berusaha untuk memperbaiki diri.

Seperti halnya sawah, mau digarap dengan kebaikan atau keburukan, itu urusan tiap-tiap kita.

Sawah. Pixabay

Yang kiranya perlu kita renungkan adalah, seiring dengan perjalanan menggarap dan menanam kebaikan, pasti akan muncul kemarau, hujan badai, hama, hingga sekumpulan benalu. Inilah yang menjadi tantangan kita sebagai seorang pemilik sawah. So, jangan goyah, ya.

Selagi kita masih berdiri di atas tanah, lakukanlah bergunung-gunung kebaikan sampai tidak ada lagi rasa sesal di kemudian hari. Memang benar bahwasannya ketika seorang hamba sudah berada di bawah tanah (baca: meninggal, dikubur), penyesalan akan kesia-sian hidup jadi membuncah.

Tapi, lagi-lagi kita masih beruntung dan perlu senantiasa bersyukur karena hari ini masih bisa bernafas. Kita masih dipersilakan untuk terus menebar kebaikan. Semangat!

Semoga Bermanfaat.


Posting Komentar

12 Komentar