Header Atas - Panjang

Pak Tua dan Sepotong Mimpi Penyair (3)


Apakah kebetulan atau memang benar bisa membaca pikirannya, Abah Bashirah memang lelaki yang bijak. Wardin segera menyambut undangan makan menuju dapur. Benar saja nasi dan lauk-pauk terhidang sangat menggiurkan. 

Wardin tak mau berteka-teki lagi, saat ini sudah waktunya untuk memanjakan perutnya.

Tiga hari berada di rumah Abah Bashirah barulah Wardin sadar bahwa sebenarnya Pak Tua bukanlah orang sembarangan.

Selama sepuluh tahun Wardin mengenal Pak Tua, sedikit sekali yang bisa diketahui tentangnya. Begitu hebat Pak Tua bisa menyembunyikan identitasnya selama ini. 

Pak Tua tak pernah menampakkan bahwa dirinya sebenarnya salah seorang yang istimewa. Punya keahlian yang jarang dimiliki orang. Membaca pikiran atau memiliki Extra Sensory Perception orang menyingkatnya, ESP. 

Pantas saja walaupun Pak Tua seorang pemulung miskin tetapi caranya membaca alam pikiran Wardin dan orang-orang di sekeliling sangat menonjol. Beberapa kali Pak Tua sering diminta nasehat oleh orang-orang yang sama sekali tak dikenal Wardin.

Menjadi pemulung pun sebenarnya cara Pak Tua untuk mendapatkan informasi penuh meneliti perikehidupan orang-orang bawah. Mengapa kadar gas beracun Hidrogen Sulfida yang dihirup para pemulung bertahun-tahun lamanya akibat reaksi kimia tumpukan sampah, tidak menyebabkan kematian bahkan seakan-akan pernafasan para pemulung mengalami penguatan signifikan. Seharusnya bila memang kadar gas beracun dalam tubuh itu di luar ambang batas dari yang diterima oleh tubuh, jangankan bertahun-tahun, dalam hitungan hari saja seseorang sudah mati karena keracunan. Itu baru soal gas beracun Hidrogen Sufida belum lagi Metana dan Amoniak. 

Gas-gas tersebut pernah bereaksi secara mengejutkan menimbulkan ledakan di Leuwigajah, Kampung Adat Cireundeu Kabupaten Cimahi Selatan tahun 2005. Menewaskan 150 orang pemulung pada tanggal 21 Februari. Sampai saat ini kejadian nahas itu menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita dalam mengelola sampah.

Tuhan Allah memiliki cara yang ajaib untuk membuktikan bahwa kata Maha Penyayang bukan bualan tetapi seluruh penciptaan-Nya telah mendapatkan garansi dan proteksi agar langgeng sesuai dengan batas atau takdir yang dikehendaki-Nya.

Sungguh menakjubkan, begitu jelas Pak Tua pada Abah Bashirah.

Awalnya Wardin kerap tak bisa menangkap pembicaraan para ilmuan nyentrik itu karena suasana seringkali senyap hanya anggukan dan senyuman yang terlihat dalam gerak-gerik mereka. Tapi kini sedikit demi sedikit  Wardin bisa mengikuti ritme pembicaraan keduanya dengan cukup baik. Entah bagaimana pula Abah Bashirah menanamkan keahliannya ke dalam otak Wardin sampai soal apapun kini bisa diingat dan didengar Wardin jauh lebih jelas, persis setelah kepala Wardin ditempeli alat-alat aneh yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.

“Jadi tugas Kakanda kini usai?” tanya Abah Bashirah pada Pak Tua tiba-tiba.

“Belum Adikku, seminggu lagi Kanda baru akan berangkat ke Tokyo, harus ada seminar yang memaparkan penemuan yang menegaskan Time Motion Management dan teori lainnya yang mendukung untuk dibahas,” kilah Pak Tua nampak sekali di mata Wardin kecerdasannya di atas rata-rata.

"Tidak lebih dari lima bulan lagi kegawatan itu akan mewujud," seru Pak Tua khawatir. Akan ada virus mengerikan berkeliaran mematikan penduduk dunia.

“Bagaimana dengan Wan Bumantara?” tanya Pak Tua pada Abah Bashirah.

“Adik kandungku, Wan tak selamat,” ujar Abah Bashirah lirih kembali ia menangis tersedu-sedu.

Kotak kayu ukir yang sejak awal berada di tengah-tengah tikar tempat mereka bicara dibuka perlahan oleh Abah Bashirah. Pada saat  gulungan pertama terbuka, Abah menampakkan wajah yang sangat ketakutan. Tergambar kengerian bersangatan. Wardin sekarang tahu apa isinya tanpa harus membacanya. Ia pingsan sesaat. Setelah kesadarannya pulih, Wardin mendapati Pak Tua dan Abah Bashirah sedang sesegukan karena menangis pedih. 

Wardin pun tak kalah bersedih, ia pun meraung-raung. 

Pada gulungan keempat sebuah puisi Wan Bumantara diberikan pada Wardin untuk dibaca. Sepotong mimpi yang ditulis dalam puisi Wan Bumantara seperti manuskrip kuno yang menggambar kejadian demi kejadian yang akan berlangsung di Bumi Pertiwi ini. 

Dua gulungan sebelumnya adalah daftar peristiwa mengerikan yang menjadi catatan sejarah. Beberapa dari sejarah itu, merekalah saksi matanya. Para ilmuan yang gugur akibat peristiwa itu tertulis namanya satu-persatu adalah sahabat-sahabat mereka dari seluruh mancanegara. Mereka direkrut oleh Badan Internasional Rahasia sejak kecil.

Potongan mimpi Wan Bumantara belum pernah dipublikasikan dikarenakan bagai kisah ramalan Nostradamus, ia termasuk penyair yang mendapat fasilitas Green Card atas kemampuannya membaca gejala alam seperti Abah Bashirah yang juga memiliki vision unik. Mengerikan. Wan Bumantara baru saja gantung diri mengakhiri hidupnya akibat tekanan yang luar biasa dalam jiwanya.

Tamat

28 September 2020


*Terinspirasi dari person nyata: Prof. Erry Amanda.

Bag. 1

https://www.secangkirkopibersama.com/2020/09/pak-tua-dan-sepotong-mimpi-penyair.html

Bag. 2

https://www.secangkirkopibersama.com/2020/09/pak-tua-dan-sepotong-mimpi-penyair_27.html

Post a Comment

10 Comments