Header Atas - Panjang

Pak Tua dan Sepotong Mimpi Penyair (2)


Apa sih isi tulisan dalam kotak itu? Wardin tak berani lancang mencari tahu isinya. Wardin bersyukur Pak Tua yang sudah seperti kakek kandungnya itu berubah menjadi lebih saleh.

Setelah dua hari barulah Pak Tua beranjak dari kamar tidurnya. Hal pertama kali yang dilakukannya membuat Wardin tercengang. Sang kakek meminta Wardin untuk membungkus kue-kue kering dan barang-barang yang masih layak pakai untuk diserahkan pada tetangga. Bahkan selimut pemberian Wak Uti pun tak luput dari perintah Pak Tua untuk segera diserahkan pada yang lain.

Wardin tak kuasa menolak meski ia menyukai selimut lembut dan wangi pemberian Wak Uti. Tidurnya makin nyenyak dan mimpinya indah saat selimut hangat membalut tubuhnya.

Wajah Pak Tua nampak serius sekali tatkala meminta Wardin membenahi barang-barang pemberian serta seluruh barang yang tersisa. Perasaannya mulai gelisah, Pak Tua berencana untuk pergi jauh rupanya. 

Setelah seluruh barang habis dibagikan, Wardin melihat Pak Tua memegang gulungan kertas ketiga, berisi alamat yang harus dituju. Pak Tua dan dirinya akan berpergian tanpa bekal dan pakaian yang cukup. Hanya ada satu tas kecil yang berisi kotak kayu ukir dan sebuah dompet tanpa sepeser pun uang. 

Pak Tua berkemas dengan cepat dan Wardin pun tanpa banyak tanya mengikuti langkah kakeknya. Rumah tempat mereka tinggal dikunci dengan gembok kecil dan kuncinya diselipkan di bawah keset yang sejak dibeli beberapa tahun lalu, tak pernah dicuci.

“Pak Tua, kita akan pergi kemana?” tanya Wardin cemas, sikap Pak Tua sangat mengherankan semenjak kotak kayu ukir itu berada ditangannya. 

Wardin menghela nafas dalam-dalam saat dilihatnya mimik muka Pak Tua datar saja, Wardin mengerti kali ini tak ada waktu untuk banyak tanya.

Wardin berusaha menghubungkan sikap Pak Tua yang aneh, kotak kayu ukir dan sang penyair yang sengaja membuang kotak itu di bak sampah bertutup besi berdinding putih bersih. 

Dirinya baru menyadari bahwa kotak itu sengaja dibuang agar ditemukan olehnya. Diam-diam agaknya sang penyair itu sering memerhatikan tingkahnya. Berarti bukan dua kali dirinya berpapasan dengan penyair itu. Hanya pikiran Wardin terlalu fokus mencari barang yang bisa didaur ulang macam botol plastik dan kertas.

Wardin berusaha mengingat nama penyair kondang yang sempat dibacanya di surat kabar. Namanya cukup aneh, apa itu yang disebut nama pena?

Nusantara ataukah Bumantara? Ya, sepertinya Wan Bumantara. Sosok penyair kondang itu sangat unik, wajahnya memang biasa saja, perawakannya juga demikian hanya dandanan dan gaya berpakaian yang ia kenakan terlihat misterius. 

Topi hitam ala cowboy menutupi sebagian rambut ikal, hitam dan tebal yang dibiarkan tergerai sebahu. Kacamata minus berbentuk lingkaran bertengger di hidungnya yang bengkok. Cukup mancung untuk ukuran orang Indonesia pada umumnya. 

Baju ala desainer Itang Yunaz yang sempat Wardin dambakan untuk ia kenakan, ternyata menempel dengan elegan di tubuh penyair itu lengkap dengan sepatu boot kulit yang padu padan. Saku di pantat kiri yang berisi dompet tebal menarik perhatian Wardin. Kala penyair itu sedang bolak-balik membawa-bawa kotak kayu ukir di depan bak sampah bertutup besi.

Ia sempat berandai-andai dirinyalah yang sedang bergaya macam itu tapi yang jelas ukuran bajunya dan celana harus lebih panjang. Untuk anak yang masih berumur lima belas tahun Wardin memang terlihat jauh lebih tinggi. Tinggi Pak Tua sekira 160 centimeter Wardin kurang lebih sepuluh centimeter di atasnya. 

“Ayo, War segeralah naik!” seru Pak Tua menyadarkan Wardin dari lamunannya. Wardin terlongong mana mungkin naik angkutan kota tanpa membayar, ia malu bila Pak Tua nanti ditagih tak bisa membayar.

Entah kenapa pula Pak Tua tak banyak bercakap, cukup menunjukkan gulungan berisi alamat itu pada sopir angkot, lantas  dengan sigap sang sopir mengangguk. Dua orang ibu yang sedang duduk menunggu antrian penuh malah dipindahkan ke mobil yang mengetem selanjutnya.

Muka ibu-ibu itu nampak masam. Pak Tua melambaikan tangan tanda meminta maaf, tiba-tiba saja mereka pun tersenyum rela. Aneh!

“Hendak kemana sebenarnya kita ini, Pak Tua?” tanya Wardin penasaran. Saat itu angkot melaju sudah hampir satu jam. Sebenarnya Wardin lapar sekali, tetapi untuk meminta makan pada kakeknya itu di situasi macam sekarang agaknya kurang pantas. 

“Sebentar lagi, Nak!” timpal pak sopir tiba-tiba. 

“Sepuluh menitan lagi. Nanti kau akan sampai di rumah Abah Bashirah,” lanjut Pak sopir itu dengan lantang.

Wardin makin bingung siapa pula Abah ini? 

Sepertinya ia orang yang sangat penting dan dikenal oleh pak sopir itu dengan baik. Akhirnya rumah yang dituju sudah nampak. Pak sopir menunjukkan tempatnya. Ia segera memutar balik angkotnya, wajahnya nampak sumringah. Tak ada tagihan seperti yang dikhawatirkan Wardin. Bagai sudah ada kesepakatan tak tertulis buat tamu Abah Bashirah tak ada yang perlu dibayar. Atau apa? Wardin benar-benar bingung semuanya nampak tak masuk akal. 

Baru saja kaki mereka hendak melangkah ke arah rumah yang asri dengan halaman penuh pepohonan dan bunga yang berwarna-warni, seorang lelaki berusia limapuluh tahunan tergopoh-gopoh. Ia langsung membungkuk dan mencium tangan Pak Tua dengan takzim. Lelaki itu mempersilakan Pak Tua masuk ke rumah yang cukup luas namun terlihat sederhana saja. 

Tak ada perabotan mewah seperti di rumah Bu Danti yang pernah Wardin kunjungi saat diundang selamatan khitanan putranya. Semua anak yatim piatu dekat rumah ia undang dan beri hadiah uang.

Tak ada kursi atau meja hanya ada tikar anyaman yang menjadi alas untuk mereka duduk. Wardin dan Pak Tua dengan sabar menanti sosok Abah Bashirah yang benar-benar tak dikenalnya. 

Seorang bapak berperawakan tinggi tegap muncul dari arah kamar tidur satu-satunya di ruangan itu. Pakaian yang dikenakan serba putih dengan peci putih menutupi rambut yang masih nampak hitam di usia setara Pak Tua taksir Wardin. Kharismanya sungguh berbeda. Wardin belum pernah menatap wajah yang demikian tenang dan berwibawa.

Tingkahnya pada Pak Tua pun membuat Wardin terheran-heran, mereka berpelukan erat dan hangat bagai dua orang bersaudara yang sudah lama tak jumpa.

“Selamat datang Pak Tua, akhirnya tiba jua di sini, Kakanda,” ujar Abah Bashirah.

“Maafkanlah Adikku, pesanmu baru kuterima beberapa hari lalu. Ternyata benar barang milikmu ada ditanganku kini. Gulungan-gulungannya masih lengkap. Tak kusangka kau sudah ada di tanah air sejak lama,” jawab Pak Tua teramat lancar.

Wardin terlongong jadi sebenarnya siapa Abah Bashirah dan apa hubungannya dengan Pak Tua semuanya masih menjadi teka-teki di benaknya.

Lalu apa hubungannya antara penyair, mereka berdua dan kotak kayu ukir yang ditemukannya?

Wardin sudah tak sanggup lagi berpikir, perutnya keroncongan. Sebelum sempat ia membisikkan sesuatu pada Pak Tua, Abah Bashirah berujar,”Kemarilah Nak, kita ke dapur, sudah kami siapkan makanan untuk kita santap.”

Apakah kebetulan atau memang benar bisa membaca pikirannya, Abah Bashirah memang lelaki yang bijak. Wardin segera menyambut undangan makan menuju dapur. Benar saja nasi dan lauk-pauk terhidang sangat menggiurkan. 



Wardin tak mau berteka-teki lagi, saat ini sudah waktunya untuk memanjakan perutnya.

Bersambung.


Posting Komentar

5 Komentar

  1. Kyknya Wardin ini tetanggaan sama pak Warkasa.hihihi
    Hai mbak😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ™„ itulah yang bikin aku kaget pas bacanya tadiπŸ˜‚

      Hapus
  2. “Ayo, War segeralah naik!” seru Pak Tua menyadarkan Wardin dari lamunannya. Wardin terlongong mana mungkin naik angkutan kota tanpa membayar, ia malu bila Pak Tua nanti ditagih tak bisa membayar.

    πŸ™„ Kok nama panggilannya mirip gitu yaπŸ™„πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tokohnya Dinwar panggilannya Din bukan war πŸ˜‚πŸ˜ŠπŸ€£ nama tokohnya d balik ahπŸ˜€

      Hapus