Header Atas - Panjang

Pak Tua dan Sepotong Mimpi Penyair (1)


Di tangan Pak Tua itu tangis Wardin mereda. Sepotong permen coklat yang sungguh lezat yang disodorkan kepadanya membuatnya bisa melupakan kesedihannya.

Seorang pemulung mengorek bak sampah di depan sebuah rumah megah yang kerap ia lewati. Beberapa kali ia berharap ada beberapa barang yang bisa diambil dan terjual dengan harga lumayan tetapi, harapannya sia-sia.

Pagi ini bak sampah bertutup besi seukuran luas kamar mandi bersama tempat para pemulung melepaskan hajat dan mandi, menggoda seorang pemulung untuk mengubak isinya. Bak sampah itu sangat bersih bahkan sekadar debu malas hadir memenuhi dinding-dinding bak yang berwarna putih. 

Wardin penasaran sudah sepuluh kali ia membuka tutup besi dalam sebulan ini. Namun, harapan tinggal harapan bak sampah itu kosong dari benda apapun. Wardin terheran-heran sepertinya pemilik rumah ini terlalu kikir hingga sampah juga mereka telan agar tak usah berbagi dengan siapa pun.

Dua satpam yang berjaga di depan seakan hanya patung ajaib yang tidak pernah merokok sebatang pun sehingga tak ada puntung rokok sisa yang cukup panjang untuk Wardin isap. Lumayan, pikirnya daripada harus membelanjakan uangnya membeli rokok yang penting rasa penasaran untuk mengisapnya punah.

Hari ini Wardin sedang apes. Tak banyak barang yang bisa ia kumpulkan untuk dibawa ke hadapan Pak Hujang seorang pengepul yang menjadi andalannya untuk mendapatkan uang agar bisa makan bersama kakeknya. Orang yang sangat ia sayangi di dunia ini karena cuma kakeknya lah keluarga yang ia kenal.

Wardin terperangah, bak sampah bertutup besi yang sudah ia duga bakalan kosong ternyata menyisakan satu kotak kayu ukir. Ukurannya persis sebesar kotak sabun bila ditumpuk dua. Ah, kali ini sang pemilik rumah sedang berbaik hati rupanya. Segera ia pindahkan kotak yang masih mengilat warnanya itu ke dalam kantong selempang yang senantiasa dibawanya serta. Selain sebuah karung plastik.

Ia bergegas pulang untuk menemui sang kakek dan berharap kotak yang ditemukannya bisa menjadi hadiah yang dapat membuat kakeknya bahagia.

"Pak Tua, lihatlah apa yang kubawa, ini. Mahal tidak ya?" tanya Wardin penasaran. Ia ingin tahu reaksi kakeknya.

Yang dipanggil Pak Tua terlihat antusias manakala kotak kayu ukir berada dalam genggamannya. Belum pernah ia mendapatkan benda unik macam itu. Air mukanya serius memandangi kotak dan membolak-balikannya sebelum membuka apa isi di dalamnya. Wadin sebenarnya ingin membuka untuk mengetahui isinya, tapi ia ingin kakeknya yang mendapatkan kejutan itu.

Wardin memanggil kakeknya dengan sebutan Pak Tua begitulah permintaan orang tua itu ketika memungutnya di emper pasar. Umurnya baru lima tahun saat orangtuanya meninggalkannya begitu saja.

Di tangan Pak Tua itu tangis Wardin mereda. Sepotong permen coklat yang sungguh lezat yang disodorkan kepadanya membuatnya bisa melupakan kesedihannya. Kelezatan permen itu masih membayang di benak Wardin padahal sudah sepuluh tahun berlalu. 

Wardin tak keberatan memanggil Pak Tua pada kakeknya itu, sampai saat ini pun Wardin tak tahu nama sang kakek. Semua orang pun memanggilnya dengan sebutan Pak Tua.

Wardin menjadi pemulung meneruskan profesi Pak Tua. Kadang mereka masih berjalan berdua mencari barang, tapi Wardin iba tiap malam kakeknya kerap mengeluh punggung dan kakinya sakit. Sudah dua minggu ini Wardin memulung sendirian dan hasilnya memang tak sebanyak ketika bersama sang kakek. Sudah dua hari mereka berpuasa karena tak ada uang yang bisa dibelikan untuk makanan. 

Begitu kotak kayu hendak dibuka, terdengar suara Bu Didin, tetangga sebelah berjarak dua rumah dari rumah mereka, memanggil Pak Tua dan menyodorkan dua piring nasi lengkap dengan ikan goreng, tahu dan sambal terasi. Katanya sedang syukuran kalau suaminya seminggu lalu dapat pekerjaan di proyek dan mendapat uang yang cukup besar. 

“Terima Kasih Bu Didin, semoga rezeki Ibu makin berlimpah,” ujar Wardin sembari tersenyum bahagia. 

“Sama-sama, Nak! Makan yang kenyang ya, kalau kurang ambil lagi saja ke rumah Ibu,” timpal Bu Didin tak kalah senang melihat Wardin anak remaja yang kurus tapi cukup tinggi itu bahagia. Bu Didin iba melihat nasib Wardin.

Kotak itu pun disimpan dulu di dalam lemari pakaian Pak Tua yang catnya nampak kusam. Sebelah kakinya sudah diganjal dengan batu bata agar seimbang. Pak Tua dan Wardin menyantap hidangan lezat itu dengan nikmatnya.

Wardin baru sadar entah kenapa tiba-tiba semua orang nampak peduli pada mereka. Seakan semua orang ingin membagikan barang milik mereka dengan Pak Tua. Setelah Bu Didin ada Pak Sanih dan Wak Uti yang juga datang memberi selimut, sarung dan kue-kue kering yang lezat. 

Wardin menduga apa karena kotak kayu itu?

Pak Tua juga nampaknya sama bertanya-tanya soal itu dalam batinnya. Wardin memang memerhatikan sang kakek seperti memikirkan sesuatu. Diam-diam Wardin mengintip apa yang dikerjakan kakek di kamarnya yang bertirai putih tipis berwarna kecoklatan karena termakan usia. Kakeknya sedang membuka kotak kayu dengan penuh kehati-hatian. Ternyata terdapat beberapa lembar kertas yang digulung-gulung kecil nampak seperti catatan belanjaan.

Pak Tua membaca gulungan pertama. Wajahnya terlihat pucat. Bibirnya bergetar hebat. Ada ketakutan terbaca di wajah kakek yang keriput dan tirus. Gulungan kedua dibuka setelah gulungan pertama digulung rapi dan dimasukkan kembali ke dalam kotak. Saat membacanya sang kakek jatuh terduduk, tulisan dalam gulungan itu membuatnya menangis tersedu-sedu. Air matanya tumpah membasahi baju dan bantal. 

Wardin ingin membantu kakeknya mengusap air mata itu, tapi ia malah ikut menangis tersedu-sedu menyaksikan Pak Tua dalam kepedihan begitu rupa. Apa yang dibaca sang kakek hingga kesadarannya hilang timbul seperti itu. 

Wardin berusaha mengingat kembali pemilik kotak kayu itu pernah dilihatnya dua kali hendak membuang kotak itu tetapi nampaknya mengurungkan niatnya sekarang kotak itu berada dalam genggaman kakeknya. 

Wardin ingat betul ia pernah menemukan wajah yang sama di tumpukan surat kabar yang diserahkan pada Pak Hujang untuk dikilo, seminggu lalu. Meskipun Wardin belum pernah bersekolah tapi Pak Tua rajin mengajarnya membaca, berhitung bahkan mengaji makanya ia bisa tahu pemilik kotak kayu itu seorang penyair terkenal rupanya.

Usia penyair itu masih muda, nampak berumur di bawah empatpuluh tahun. Sukses membawanya pada kekayaan yang berlimpah. Rumah dan mobil mewah milik sang penyair sering dilihat Wardin saat bolak-balik membuka tutup bak sampah. 

Rupanya kotak kayu itu memang berisikan hal penting penyair itu, tapi apa?

Mengapa Pak Tua sampai menangis? 

Gulungan ketiga dan keempat belum dibaca, akankah kakeknya sanggup membacanya?

Dua hari berlalu, Pak Tua tak keluar dari kamar. Wardin hanya bolak-balik membawakan makanan dan seember air yang diminta kakeknya untuk bersuci. Sebuah kitab suci yang lama tergeletak berdebu di atas lemari kini terbuka lebar di hadapan sajadah di atas bantal. 

Rupanya kakek salat dan membaca Alquran. Alangkah mengherankan, sepertinya ada lecutan keras yang menyadarkan jiwa kakek hingga semua yang sudah ditinggalkan kini dikerjakan lagi.

Apa sih isi tulisan dalam kotak itu? Wardin tak berani lancang mencari tahu isinya. Wardin bersyukur Pak Tua yang sudah seperti kakek kandungnya itu berubah menjadi lebih saleh.

Bersambung

26 Desember 2020


Posting Komentar

13 Komentar

  1. Balasan
    1. Kelak ada di sambungan berikutnya... Mau Saya buat hanya dua atau tiga episode saja kok... Terima kasih telah membacanya Pak Budi Susilo...

      Hapus
  2. Ahai..akhirnya muncul lagiπŸ˜‚πŸ™ di tunggu lanjutannya☺️πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap. Insyaallah Pak Warkasa... Terima kasih sudah mengajak kemari ya...

      Hapus
    2. Heheha saya yang berterima kasih mbak Desi mau bergabung menjadi bagian dari keluarga besar SKB ini☺️πŸ™

      Hapus
    3. Sama-sama Pak Wardin... eh... Warkasa... :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih sudah membacanya Ayah Tuah... Semoga sambungannya bisa memuaskan rasa kepenasarannya ya...

      Hapus