Header Atas - Panjang

Leukimia Merenggut Lisa

 

Ilustrasi gambar - doktersehat.com

 

Lisa yang cantik, aktif, dan senang olah raga itu tiba-tiba terjatuh dan pingsan.  Tidak ada benturan atau tendangan. Semua serba tiba—tiba, usai dari kantin Lisa berjalan santai dengan Lena, sahabatnya. Sambil minum es buah, ia bercanda.

Bersama sahabatnya itu sudah pada tahu bagaimana mereka akrab sejak Taman Kanak-kanak. Rumah mereka berdua memang berselebelahan di kompleks dekat sekolah. Akrab sejak orok kata mereka kalau ada yang bertanya.

Sama-sama cantik, pinter, ramah, dan mereka cukup unik. Biasanya bersahabat itu satu pendiam satu cablak, atau satu alim satu nakal. Mereka berdua ini sama-sama cablak malah. Kehadiran mereka sudah diketahui karena keriuhrendahan mereka dalam bercerita.

Rumah mereka tidak terlalu jauh dari sekolah. Jadi mereka berjalan kaki. Nah sepanjang jalan ini mereka selalu saja becanda. Orang-orang sudah hafal siapa yang lewat kalau mereka sudah ngoceh itu. Ramai, tidak pernah kehabisan bahan bicara kayaknya.

Seolah kembar beda bapak dan ibu saja. Hobbi sama, penyuka membaca dan koleksi buku. Perpustakaan menjadi tempat favorit mereka. Di sini saja mereka diam dan alim. Beda 180o di tempat yang diharapkan sepi dan hening ini. mendiskusikan bacaan atau film sampai tidak bosan-bosan teman yang ada di sekeliling mereka.

Semua itu seolah terhenti pada pagi ini. seusai pelajaran olah raga, berubah  drastis keadaan.

Bruk, begitu saja jatuh. Dan geger halaman kelas VI B. Pak Boni yang sedang bercakap-cakap kaget dan sigap membawa ke UKS. Melihat ada darah dari hidung Lisa dan makin pucat, Pak Boni dan kepala sekolah berinsiatif membawa saja ke rumah sakit.

            Kalau berbenturan atau bertabrakan, tentu tidak akan ada yang kaget. Itu wajar dan biasa terjadi. Lha ini meskipun ramai lalu lalang siswa, toh tidak ada yang bersenggolan pun, apalagi menabrak. Berarti mungkin ada yang parah.

            Orang  tuanya dihubungi dan bersiap-siap ke rumah sakit. Usai istirahat kami masuk kelas masing-masing dan berdoa bagi kesembuhan dan kesehatan Lisa.

            Tidak lama dikhabarkan kalau Lisa akan lama di rumah sakit, karena menderita kanker darah. Kami, terutama anak-anak perempuan banyak yang menangis. Terutama Lena yang  watktu itu  berjalan bareng. Pun ia adalah sahabat baik di rumah ataupun sekolah.

            Bu Wati mengusulkan kepada kami, teman sekelas untuk mengumpulkan iuran dan besok membezuk ke rumah sakit. Kami dipesan untuk  tidak boleh bertanya macam-macam, mengatakan tentang penyakitnya, dan hal-hal yang sekiranya mungkin membuatnya sedih.

            Perjumpaan yang kami khawatirkan akan sedih malah menjadi gelak tawa karena Lisa yang melucu terus. Seperti  yang ia katakan sudah kangen es buah kantin yang kemarin belum sempat ia minum. Dan ia plesetkan jangan-jangan dihabiskan Ari, teman kami yang paling usil.

            Lisa sendiri yang bercerita, kalau nanti ia akan gundul dan teman-teman jangan kaget. Mau meledek juga boleh katanya. Ini yang membuat kami mau mewek sebenarnya. Tuh Bu Wati pun pura-pura ke kamar kecil, pasti nangis deh.

           

 

Kebiasaannya yang ceria dan cerewet membantunya lebih cepat dan tanggap situasi. Ia tidak terlihat depresi atau sedih. Malah memuat candaan yang malah membuat kami makin berat menahan tangis.

Ia mengatakan, tolong teman-teman jangan kasihani Lisa, kalau mau menangis menangis saja, tidak usah disembunyikan, Lisa sanggup kog.

            “Teman-teman, dan juga Bu Wati, nanti kalau Lisa sehat, Lisa mau sekolah, dan pas perlu rawat inap, Lisa akan izin, jadi sering bolong-bolong, boleh ya?” tanyanya dengan tegar tanpa ada air mata atau kesakitan.

            “Tentu boleh Sayang, yang penting sekarang adalah, Lisa sehat dulu ya, dan tidak usah banyak pikiran ya....” jawab Bu Wati dengan kasih.

            Sebulan kemudian Lisa terlihat masuk, agak kurus dan masih pucat. Namun ceria yang sama masih dominan. Entah apa iya bisa mengikuti pelajaran yang jelas bahwa kami telah bersepakat untuk mendukung kehadiran Lisa semaksimal mungkin. Tentu bukan untuk  pelajaran atau nilai sekolah, namun demi kesembuhan minimal demi semangat Lisa tetap terjaga.

            Kami sering lebih cerewet dan khawatir dengan kesehatan Lisa dari pada dirinya sendiri. Seperti mengerjakan tugas atau ikut dalam kegiatan. Kami tidak tega melihat wajah pasinya itu.

            Sebulan masuk, ia lagi-lagi pingsan. Dan kali ini sudah tidak kaget. Karena pihak rumah sakit sudah membekali kami dengan penanganan pertama. Tidak lama ia sudah siuman dan ditawarkan untuk diantar pulang atau biar dijemput? Ia memilih dijemput. Dan orang tuanya tidak lama kemudian sudah datang dan membawa pulang Lisa.

            Paginya Lisa tidak bisa hadir di sekolah lagi dan berlangsung sekitar seminggu. Pagi itu ia datang lagi dan lebih kurus. Rambutnya sudah habis sama sekali. Ia tidak mengenakan topi ataupun kerudung. Pilihan yang tentu tidak mudah. Rambut Lisa panjang, lurus, dan sangat hitam. Kini botak.

            Anak paling bandel pun tidak ada yang meledek kondisi Lisa. Kami sudah dibekali dengan baik mengenai hal ini. Dan ternyata efektif. Sama sekali tidak ada yang meledek. Malah kami cenderung kasihan jadi mana tega menghina.

            Sudah hapal kami dengan kedatangan dan Lisa yang tiba-tiba tidak datang. Usai rawat inap biasanya lebih kurus dan lebih pucat. Namun semangat dan riangnya masih sama. Seperti pas datang dengan kepala plontosnya malah ia mengajak macho-machoan, dengan si Ryo yang paling gagah di antara kami.

            Teman-teman yang bandelnya minta ampun selalu diberi pengertian, pengarahan untuk menjaga sikap, kata, dan perbuatannya. Kalau sampai membuat Lisa menangis, mereka akan dihukum yang sangat berat pokoknya. Pendekatan melalui wali kelas dan orang tua pada mereka yang bandel-bandel ternyata berhasil.

            Kerja keras banyak pihak turut membantu dokter dan pihak medis untuk memberikan penyembuhan bagi Lisa. Syukur semua berjalan dengan semestinya.

            Gelak tawa asli, bukan kesedihan yang ada. Dan itu membuat binar mata Lisa lebih besar dan memberikan dampak baik bagi kondisinya.

            Tiga bulan kemudian dokter menyatakan kalau mukjizat itu ada dan Lisa benar-benar sembuh dari kanker darahnya. Sama sekali tidak ada yang berbahaya lagi. Hanya memang masih harus kontrol untuk melihat dan mengantisipasi keadaan yang bisa sangat memburuk.

            Khabar yang menyenangkan bahwa Lisa, teman kami bisa melewati masa sulit itu. Dan dokter juga mengatakan kalau dukungan kami ikut membantu kesembuhan Lisa. Bantuan masih diminta untuk kami tetap menjaga dan membantu Lisa tetap semangat, dan tetap bergembira, terutama mencegah agar ia tidak lelah sehingga daya tahan tubuhnya bisa tetap prima.

            Pilihan Lisa untuk tegar mampu melawan ganasnya kanker. Ia tentu tidak lupa berobat dan dalam penanganan yang intensif oleh tenaga profesional. Sikap batin yang  tidak kenal menyerah, lingkungan yang mendukung untuk tegar sangat membantu. Bagaimana penyakit itu perlu dilawan, bukan takut, namun juga tahu batas.

            Pelajaran berharga. Siapapun bisa sakit. Tidak ada yang mampu menolak, namun perlakuan terhadap penyakit itu menjadi penting. Ceria, optimis, penuh harapan, sangat memberikan dampak baik untuk mendapatkan kesembuhan. Keceriaan di dalam menghadapi penyakit itu bekal melawan yang tidak mudah.

            Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Semua serba mungkin jika ada kehendak. Apapun menjadi bisa diatasi jika mau di dalam dan bersama Tuhan tentu saja.

            Keceriaan yang sama pelan namun pasti kembali pada duet Lena dan Lisa. Lena selama ini menjadi pemurung. Malah menjadi keprihatinan guru-guru jangan-jangan nanti malah Lena yang depresi dan bisa mempengaruhi kesehatan fisiknya. Syukur dengan membaiknya keadaan Lisa, Lena juga menjadi lebih baik.

            Sikap kami yang mendukung selama Lisa sakit diapresiasi dokter dengan menyatakan sekolah kami bisa menjadi percontohan di mana bisa mendampingi anak pengidap kanker dengan sangat baik. Dukungan keluarga dan teman itu hal yang luar biasa, berdampak bagus, dan membantu dalam banyak hal.

            Kondisi Lisa makin baik dan pemeriksaan juga menyatakan sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kini jadwal kontrolnya makin jarang dan itu adalah tanda-tanda kesembuhan makin mendekati kenyataan.

            Semangat hidupnya membuat daya tahan tubuhnya sanggup melawan sel kanker yang mau menyerang. Dan itu sudah terbukti. Mukjizat itu nyata.


Salam dan Kasih

Posting Komentar

9 Komentar