Header Atas - Panjang

Lelaki Dari Masa Lalu

 

 

 (Sumber: Koleksi Pribadi Ria Suharman- Senja dan Secangkir Kopi)

--------

“Kenapa kamu begitu menyukai kopi?” tanyaku sambil tersenyum menatap ke arah Lelaki yang terlihat begitu cuek di-mata-ku.

“Selalu ada kehangatan dari Secangkir kopi,” katanya pelan sambil membalas senyumanku.

“Trus?” 

Jujur saja aku sedikit penasaran mendengar jawaban Lelaki berkulit Sawo matang yang memiliki tinggi tubuh sekitar 165 cm dan tengah menyeruput kopi di depanku ini.

Aku kembali teringat saat pertemuanku pertama kali dengan Lelaki yang berasal dari masa lalu ku ini setelah sekian lamanya tidak pernah bertemu.

 “Dari Secangkir kopi aku belajar bahwa rasa pahit itu bisa dinikmati,” katanya pelan, sambil meletakan Cangkir yang berisi kopi secara perlahan di atas Meja.

“Hemm, itu makanya aku gak suka kopi,” kataku pelan, sambil menggigit ujung Roti bakar di tanganku.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Kulihat Ia mengambil sebatang Rokok, menyelipkan ke bibir-nya, lalu membakar dan menghisapnya dalam-dalam sebelum menghembuskan asap-nya secara perlahan.

“Sebab, pahit,” kataku spelan ambil mengibas-ngibaskan tangan kananku, berusaha menjauhkan asap Rokok yang hendak mendekat ke arahku.

“Hahaha.. trus apa yang kamu sukai,”

“Banyak,”

“Jenis minuman maksudku,”

“Oo, aku selalu menyukai air hangat,”

“Oo, bagus tuh, pantesan kamu terlihat begitu sehat, hehehe,”

“Hemmm, apa benar kamu betul-betul telah lupa dengan masa-masa kecil kita dulu?”

“Iya, maaf, mungkin aku Amnesia kali ya? Jujur saja, aku banyak sekali kehilangan memori tentang ingatan masa lalu-ku, terutama masa-masa kecil dulu,”

“Hemmm,”

“Kenapa?”

“Apa kamu dulu menyukaiku?”

“Lupa, hahahaha.., Kenapa nanyain itu?”

“Pingin tau aja,” kataku pelan.

Kucoba tatap kedua mata Lelaki bermata tajam di depanku. Ingin memastikan bahwa kedua mata itu juga tidak sedang ikut-ikutan membohongiku.

“Buat apa?”tanyanya pelan sambil menatap lurus kedua mataku.

Sepertinya Lelaki yang duduk di depanku ini mulai terlihat serius denganku. Sudah 15 Menit lebih aku dan dia duduk di tempat ini tapi sedari awal dia cuma terus berusaha mencandaiku.

Dan kini, sambil menatap kedua mataku dan menghembuskan asap Rokok dari dalam mulutnya secara perlahan-lahan dia menatap kedua bola mataku dalam-dalam.

“Nggak! Pingin tau aja,” kataku sedikit jengkel dengan sikap Lelaki di depanku ini yang dari semenjak bertemu denganku itu terlihat begitu santai dan sepertinya terus berusaha mencandaiku padahal aku tau bahwa dulu Lelaki di depanku ini begitu pendiam sekali.

“Apakah itu berarti bagimu?” katanya lagi sambil tersenyum menatapku.

“Iya,” kataku pelan sambil meremas-remas tissue di tangan kananku.

“Kenapa?”

“Aku gak tau,”

“Kamu kenapa sih?”

“Nggak! Kalau kamu gak mau jawab juga gak apa-apa,”

“Apa kamu menyukaiku?”

Tiba-tiba Lelaki bermata tajam itu menatap kedua mataku dalam-dalam. Sepertinya ada sesuatu yang hendak dia cari di dalam kedua mataku ini.

“Kok malah balik nanya sih?” kataku sambil membuang muka, berusaha menyembunyikan debaran jantungku yang tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari biasanya.

 

---------

Dua Puluh Tahun sudah berlalu semenjak pertemuanku dengan anak lelaki berusia 15 tahun yang saat itu masih mengenakan Pakaian Seragam Putih Biru. Anak lelaki pendiam yang sepengetahuanku nyaris tidak pernah berpacaran itu begitu menarik perhatianku saat itu.

Saat itu aku sendiri adalah seorang gadis kecil yang memiliki model rambut Bob dan begitu pemalu pada lawan jenisku, walau diam-diam dulu aku suka memperhatikan semua gerak-geriknya tapi jangankan untuk menyapanya, melihatnya saja terkadang aku sudah salah tingkah sendiri hingga tak jarang dulu aku lebih memilih jalan jalan lain dari pada harus berpapasan dengannya di lorong Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) tempatku menimba ilmu dulu.

Berawal dari  acara Reuni Sekolah beberapa waktu yang lalu dan semenjak acara itu aku kembali ingin mengetahui segala hal tentang Anak Lelaki yang di masa-masa kecilku dulu sempat menggoreskan namanya di dalam hatiku. Dan malam setelah acara Reunian itu aku hampir syok ketika tiba-tiba saja ada pesan masuk ke handphone-ku.

Saat itu aku hampir tidak percaya dengan penglihatan kedua mataku sendiri ketika membaca isi pesan singkat dari seseorang yang malam itu menyapaku dengan pesan singkatnya.

“Selamat malam Nisa, apakabar? Semoga sehat dan baik-saja ya? Ini aku, Deni.”

Hampir 15 Menit lamanya aku hanya mampu terdiam sambil menatap layar handphone-ku sebelum akhirnya kuberanikan diri untuk menjawab pesan singkatnya itu.

“Selamat malam Deni, kabarku baik, semoga kamu juga sehat dan baik-baik juga disana ya? Eh, kok kamu bisa tau nomor handphone-ku sih? Tau dari mana? Kemarin pas acara Reuni itu kamu datang ya? Oh iya, kamu lagi dimana sekarang? Eh yang kemarin kamu bawa itu orang rumahmu ya? Oh ya sudah berapa orang anakmu sekarang?” 



 

Posting Komentar

10 Komentar