Header Atas - Panjang

Bianglala Cemburu (1)


Dua jam sudah kepala Prinita tertekuk memandangi gawai canggih yang belum lama dibeli. Seharga uang gajiannya selama dua bulan. Lumayan menguras isi tabungannya. 

Tangannya lincah mengetik kata demi kata menjawab candaan sahabat-sahabatnya di whatsapp group. Prinita sadar Mas Hasto suaminya sudah menatapnya tajam semenjak setengah jam lalu. 

Tapi Prinita tak peduli, rasanya letih juga harus menuruti kemauannya terus-menerus. Hasto punya aturan ketat dan tinggi soal mengurus rumah, mengurus anak, berpakaian, bergaul dan hal remeh-temeh lain. Sepertinya bila dibukukan aturannya bisa setebal novel. 

"Ehem...," suara batuk Hasto memecah keheningan

"Bu Prinita Sativa, sudah dua jam lewat," tegur Hasto bernada menahan geram sembari mengatupkan kedua bibirnya dengan kuat.

"Tunggu sebentar!" sahut Prinita tanpa mengalihkan pandangannya. Tangannya tetap lincah menekan huruf-huruf yang ada di gawainya.

Hasto beranjak dari sofa merah jambu yang sudah mulai terasa panas didudukinya sejak tadi. 

"Prin, nanti gawaimu kusita kalau kamu tak mau berhenti memainkannya," perintah Hasto tegas. Ia bersiap merebut gawai dari tangan isterinya. 

Prinita kembali menatap tajam suaminya, heran rasanya melihat Mas Hasto yang selalu mengatur hidupnya sampai hal detail. Sesekali bersantai di hari libur, rasanya tak masalah. 

Sejak dini hari ia sudah membereskan rumah, menyiapkan sarapan, mengantar anak-anak ke tempat les bahkan menyikat kamar mandi pekerjaan yang biasanya jadi tanggung jawab Bi Yuti. 

"Semua tugas sudah saya kerjakan dengan baik, Mas Hasto." sergah Prinita dengan nada tinggi.

"Iya, betul. Kamu sudah berjam-jam memegang gawai. Ini tanggal berapa? Kamu tidak ingat? Masa mau kau sia-siakan hari ini cuma melakukan pekerjaan soliter macam itu?" tanya Hasto beruntun.

"Ya ampun, hari ini hari perkawinan kita!" seru Prinita terkejut, berarti sudah tiga tahun berturut-turut ia melupakan hari perkawinannya. Pantas Mas Hasto begitu tajam menatapnya. 

"Ini semua gara-gara Neo," batin Prinita perih, Hasto Guntoro suaminya terabaikan.

Baru saja ia memperbincangkan Neo bersama sahabat-sahabatnya. Betapa menariknya Neo hingga bisa menyita pikirannya setiap saat. Ia rela menyingkat waktu tidurnya hanya untuk memikirkan Neo.

"Maaf, Prin sampai terlupa, ini lima belas tahun perkawinan kita." imbuh Prinita sembari meraih tangan Hasto dan menciumnya lembut. Dada Prinita sesak karena sesal.

Pandangan mata Hasto melunak, ia tahu ada jurang lebar yang memisahkan antara dirinya dan Prinita beberapa tahun belakangan.

Wajah Prinita masih saja secantik dulu, bahkan kini terlihat lebih cantik. Ada binar yang tampak sangat terang di mata isterinya saat terlibat hubungan baru dengan Neo.

Sementara Hasto merasa dirinya beranjak menua meskipun masih gagah menurut teman-teman kantornya tetap saja sakit ginjal yang dideritanya lima tahun lalu, membuatnya makin ringkih.

Ah, Neo memang sudah menggoda Prinita sedemikian kuat.

Hasto sadar Prinita bukan wanita biasa. Ia wanita yang cerdas dan pekerjaannya sebagai content writer pasti menyita waktu. Waktunya habis di depan laptop, di ruang kerja. 

Ruang itu awalnya kamar utama disulap jadi ruang kerja yang komplit dengan peralatan high end

Dan di kamar itu pula Prinita bergumul  dengan Neo. Hasto bisa apa? Prinita menjadi andalan keluarga untuk membiayai obat dan perawatannya serta pendidikan tiga anak mereka.

NeoMedia, calon majalah baru, proyek sepuluh milyar yang menyita waktu Prinita, membuat Hasto kadang cemburu.

(Diterbitkan di grup KBM)


Posting Komentar

8 Komentar

  1. 😁😁 halo mba Desi😊

    BalasHapus
  2. Kirain...πŸ™„

    Rupanya Neo itu majalah yaπŸ™„πŸ˜‚πŸ˜‚ ending yang tak terdugaπŸ˜€πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus