Header Atas - Panjang

Apakah Bercerai Itu Tabu? (Bagian Enam)

 

 Lifestyle.okezone.com

 

<< Sebelumya

Bagian Enam

Jujur saja aku geram setelah mendengar semua kisah perjalanan hidup Fani selama berumah tangga dengan Lelaki itu. Aku tau siapa Fani sebenarnya. Sebelum Fani menikah dengan Lelaki itu, aku tau Fani tak pernah neko-neko dan tidak banyak tuntutan.

 

Fani orangnya asyik diajak berteman, meski berasal dari keluarga orang berada, tapi yang aku tau Fani itu orangnya tidak sombong. Aku ingat, waktu masih kuliah dulu Fani termasuk kembang Kampus, tapi Fani selalu tidak merasa begitu, ke lawan jenisnya juga kulihat dia terlihat malu-malu, di mataku dulu Fani itu orangnya sangat polos dan lugu. Makanya ketika tadi aku mendengar pengakuannya, aku seperti orang yang baru saja mendengar suara petir di siang bolong dan hampir saja terlompat dari tempat dudukku.

  

Memang dulu aku sempat bertemu setelah dia menikah dan saat itu Fani yang terlihat begitu aneh di mataku. Hingga saat itu aku sempat bertanya di dalam hatiku, “Ada apa dengan Fani?” Ketika itu di mataku Fani terlihat seperti liar, bebas di jemput siapa saja disetiap kegiatan, berbeda jauh ketika dia masih gadis aku belum pernah melihat dia berdua dengan laki-laki dan selalu membatasi diri dengan lawan jenis. Dan dimataku saat itu perbedaannya bagai langit dan bumi, hitam dan putih, bahkan ketika pertemuanku yang pertama dengannya setelah sekian lama itu aku seperti tidak mengenal Fani.

Waktu itu aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan diri sahabatku itu. Ada apa dengan Fani? Bertahun-tahun pertanyaan itu kusimpan di dalam hati hingga akhirnya terjawab sudah siang tadi.

Orang yang tidak begitu mengenalnya, mungkin akan menyalahkan Fani, seperti keluarganya sendiri yang selama ini selalu memaksa Fani untuk tetap bertahan bersama Lelaki brengsek itu. Bagi keluarga Fani, perceraian itu adalah hal yang sangat memalukan. Aib besar bagi keluarga!

 

Hingga sekian lama keluarga besarnyapun ikut menekan dirinya bahwa apapun yang terjadi dia harus terlihat baik-baik hidup berumah tangga bersama Lelaki brengsek itu dan itu semua demi nama baik keluarga.

 

Fani sadar bahwa apa yang sudah Ia lakukan bersama Lelaki pilihan keluarganya itu, lama-lama akan mendatangkan murka Tuhan kepada mereka. Fani lelah bersandiwara, Fani tidak mau menjadi orang munafik selamanya. Kehidupan rumah tangganya selama ini bersama Lelaki pilihan keluarganya itu hanyalah sandiwara belaka. Sebab kenyataannya walaupun status pernikahan mereka syah di hukum Negara, tapi Fani tidak mau selamanya membohongi dirinya sendiri demi nama baik di mata manusia.

 

Hubungannya dengan Lelaki pilihan keluarganya itu Cuma dagelan pernikahan semata, toh selama menjadi Istri dari Lelaki itu dia bebas pacaran dengan siapa saja, begitupun sebaliknya. Dan Lelaki itu cuma berkata, “Ini hanya rahasia kita berdua dan orang lain tidak perlu mengetahuinya!”

 

Dan ketika Fani mencoba untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada keluarga besarnya, mereka semua tidak ada yang mempercayai ucapannya bahkan malah terus memintanya untuk bersandiwara dengan alasan nama baik keluarga.

 

Saat ini Fani hanya ingin berubah, menjadi wanita baik-baik dan hidup bersama Anak-anaknya yang sudah terlanjur lahir dari rahimnya, buah dari pernikahannya dengan Lelaki itu. Jika mau jujur, sebenarnya Fani sendiri merasa berdosa dengan anak-anaknya, setiap kali teringat bahwa kedua orangtua mereka bukanlah orangtua yang baik bagi mereka.

 

Semua kemunafikan itu tertutup rapat dengan sempurna, dimana mereka berdua bisa menutupinya selama sekian tahun lamanya.


Catatan: Di buat oleh, Warkasa1919 dan Apriani1919.  Cerita ini berdasarkan pengakuan dari seseorang yang tidak ingin disebutkan nama aslinya, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu hanyalah ilustrasi semata untuk mempermanis cerita dan tidak ada unsur kesengajaan.

 


Posting Komentar

6 Komentar