Header Atas - Panjang

Aku Ingin Telanjang Sebelum Memandang; Bongkahan Hati Penyair



" Aku Ingin Telanjang Sebelum Memandang; Bongkahan Hati Penyair"
______________
" Apa yang kau lakukan disini?. 
Melakukan ritual melawan cahaya dalam matamu?. 
Ataukah membuat titik temu antara mantra dan kata?"

 Kau duduk tanpa makna. 
Membiarkan orang-orang melewati tumbuhmu dengan banyak perkataan. 
Kenapa kau tak pulang?. 
Apakah kau memilih memandang sedang kau takut bertelanjang?. 

Lihat!, Kau kesepian Penyair. 
Wajahmu berjuta-juta luka saling memberi cerita. 
Berapa harapan yang ingin kau dekapi dingin tawanya?. 
Berapa bibir ombak yang kau pikul menuju surut penantian dari surat balasan?. 
Berapa banyak kau menyimpan semua doa kepada ingin?."

Berulang kali kalimat ini menyelimuti penyair. 
Entah sebagai patroli peringatan bahwa sejatinya cinta adalah kesendirian menulis puisi-puisi bisu.

 Ataukah bunyi jantung yang berkeliaran seperti sirene. 
Wangi kaki yang sudah berhenti, dalam hati ia berdiri : 

"Aku sedang berusaha untuk menolak benci."

Penyair itu kemudian duduk, sebagai tunduk yang bertanduk, ia sering berbisik : Memandang dan Telanjang

Kediri, 21 September 2020
Buah Karya: Abdul Azis Le Putra Marsyah

Post a Comment

7 Comments