Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Kisah Si Belah Mencari Tuhan (Bagian Tiga)

Dokpri

 

Bagian Tiga

<< Sebelumnya

 

"Iya, kan menurut mereka, untuk bisa bertemu dengan Tuhan itu harus terlebih dahulu meninggalkan dunia, sedangkan mereka semua masih pada hidup di dunia," jawab Jabrik sambil tertawa lebar saat melihat wajah Perempuan muda yang tadi terdengar mendesah di telingannya itu saat ini telah berubah, dari bersemu merah menjadi merah padam karena merasa dongkol dengan sikap Jabrik barusan.

"Hihihi.., iya ya, terus Si Belah mengurungkan niatnya untuk pergi mencari Tuhan?" jawab Oneng yang sengaja tertawa cekikikan untuk menyembunyikan kejengkelannya pada Lelaki kurang ajar di depannya itu.

"Tidak, Si Belah ini tipikal orang nekat dan masa bodo, jadi semua aturan yang ada di dunia ini, terutama tentang tata cara menyebut dan menyembah Tuhan dia tabrak semua." jawab Jabrik datar, seperti orang yang tidak merasa bersalah dengan apa yang telah diperbuatnya.


Jabrik berdiri dari tempat duduknya, menggeser kursinyaa lalu beranjak pergi, meninggalkan Oneng seorang diri.


"Waduhh! Eh, mau kemana Mas?" tanya Oneng saat melihat Jabrik pergi meninggalkannya begitu saja dan saat ini telah celingak-celinguk di luar Warung Kopi nya.

 "Toilet dimana?" tanya Jabrik sambil kembali ke dalam Warung Kopi.

"Haduh, Mas ini bikin kaget Oneng aja, kirain mau pergi dan lupa membayar Kopi nya, hihihi.. Nyari toilet kok kesitu. Di dalam situ Mas," jawab Oneng sambil menunjuk ke arah dalam bagian Warung Kopinya yang ada tulisan "TOILET BELOK KIRI".


Sekian lama, Jabrik akhirnya muncul dan hendak kembali duduk di kursi yang tadi dia duduki sambil tersenyum ke arah Oneng yang masih setia menantinya di depan Meja dan Kursinya yang tadi.


"Mas, pintunya belum di kancing," kata Oneng sedikit jengah saat melihat resleting celana Jabrik masih belum tertutup dengan sempurna di depannya.

"Masak sih?" jawab Jabrik yang hendak duduk di kursi dan kembali berdiri serta hendak kembali ke Tolilet yang tadi.

"Bukan pintu yang itu Mas, tapi pintu yang ini." jawab Oneng sedikit malu-malu sambil melirik ke arah celana panjang milik Jabrik yang bagian depannya masih terbuka lebar.

"Oo yang ini," kata Jabrik sambil mengancingkan resleting celana panjangnya pas di depan Oneng yang tersipu malu melihatnya.

"Awas loh, nanti kalau terbang susah nangkapnya, hihihii..," jawab Oneng sambil tertawa dan menutup mulut dengan kedua tangannya.

"Gak bakalan terbang, udah jinak kok! Kalau Mbak gak percaya, tangkap aja." Jabrik tertawa lebar sambil menggoda Oneng yang masih duduk di depannya.

"Asem,"batin Oneng sambil memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.

"Artinya Si Belah enggak mau percaya bulat-bulat dengan apa-apa yang sudah di jelaskan oleh masing-masing para pemeluk agama yang Ia jumpai selama di perjalanannya mencari Tuhan, Ia tidak takut dikatakan kafir apalagi di cap murtad oleh para penganut agama yang ia tinggalkan di dalam kemarahannya karena melihat tingkah laku Si Belah yang dimata mereka begitu keras kepala,"

Jabrik kembali melanjutkan ceritanya yang tadi sempat tertunda setelah kembali duduk sambil berusaha meraih tissue di atas Meja yang kebetulan letaknya lebih dekat dari tempat duduk Oneng di depannya. 

Oneng dengan sigap mengambilkan tissue dan segera memberikannya kepada Jabrik. Jabrik menerima tissue pemberian Oneng lalu mengelap kedua tangannya yang terlihat basah itu setelah kembali dari Toilet tadi. Setelah selesai mengelapkan kedua tangannya dengan tissue pemberian Oneng, Jabrik kemudian memberikan tissue bekasnya itu kepada Oneng kembali.

"Si Belah benar-benar mencari cara agar bisa bertemu dengan Tuhan di dunia, mencari ilmu sampai ke akar-akarnya. Seperti ilmu filsafat ya?" tanya Oneng sambil menerima tissue bekas pemberian Jabrik

Oneng berusaha untuk tetap waras dengan tetap berprasangka baik; bahwa tissue bekas di tangannya itu bukan tissue bekas mengelap tangan Lelaki lelaki kurang ajar itu setelah tadi tangannya itu sempat dipergunakan untuk memegang-megang "anunya" sehabis buang air kecil di Toilet tadi.


"Lama-lama Si Belah jadi terlihat aneh di mata orang-orang yang dijumpainya," kata Jabrik sambil tersenyum-senyum saat melihat ke arah tissue bekas miliknya yang masih di genggam oleh Perempuan muda di depanmya.

"Pastinya." Jawab Oneng.


"Iih!" kata Oneng sambil membuang tissue bekas di tangannya saat sadar masih menggenggam Tissue bekas milik Lelaki konyol di depannya sedari tadi.

"Si Belah dianggap seperti orang yang tidak mengerti ilmu Agama," kata Jabrik lagi sambil kembali menatap ke arah bagian dada Oneng.

"Iya," jawab Oneng, sedikit risih sambil kembali memastikan bahwa kancing-kancing bajunya kemeja yang Ia kenakan itu tidak ada yang terbuka.

"Walau Si Belah telah tau bagaimana cara menyebut dan menyembah Tuhan dari semua Agama yang ada di dunia, tapi Ia tidak mau mengikuti cara-cara mereka," kata Jabrik sambil tersenyum dan kali ini menatap kedua mata Perempuan muda bertubuh sintal di depannya.


Oneng kaget dan langsung membuang mukanya saat beradu pandang dengan kedua mata Lelaki konyol di depannya. Sebab saat tanpa sengaja menatap kedua bola mata Lelaki di depannya itu dia seperti tengah melihat dirinya.

"Terus gimana?" tanya Oneng, sambil berusaha menahan debar jantungnya.

"Hehehe...Si Belah cuma tertawa sewaktu para pemeluk agama itu menyebutnya seperti orang gila,"

Jabrik terkekeh sambil membasahkan kedua bibirnya saat melihat Oneng yang tadi sempat melihat kedua bola matanya itu, saat ini tengah tertunduk malu dengan rona merah di kedua pipinya.

 


Bersambung

 

Catatan: Di buat oleh, Warkasa1919 dan Apriani1919. Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. 

 

Bahan bacaan : 1, 2, 3, 4

Posting Komentar

6 Komentar