Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Si Belah Mencari Tuhan (Bagian Lima)

 

Dokpri

 

 

Bagian Lima

 

<<  Sebelumnya

“Para Pekerja Seks Komersil (PSK) di tempat itu tertawa semua, tapi ada satu PSK yang tadi sempat menangis saat mendengarkan cerita Si Belah itu diam, lalu bertanya,” kata Jabrik setelah tawanya reda.

“Bertanya apa?” tanya Oneng sambil kembali melihat ke arah Lelaki kurang ajar yang sedari tadi masih terus berusaha menggodanya.

“Jika nanti engkau bertemu dengan Tuhan, tolong tanyakan, Aku akan dimasukan ke dalam Surga apa Neraka?” Jabrik menirukan ucapan PSK yang bertanya kepada Si Belah.

 

“Iya, terus apa jawaban Si Belah?” cecar Oneng karena penasaran dengan jawaban Si Belah kepada Wanita Penghibur yang bertanya kelak Ia akan dimasukan kemana.

“Baiklah.” Jabrik menirukan ucapan Si Belah kepada PSK yang bertanya kepadanya.

“Cuma begitu doank jawaban Si Belah? Trus,” tanya Oneng sambil melihat ke arah Jabrik yang tiba-tiba saja mengeluarkan sebungkus Rokok dari dalam kantung bajunya.

Oneng tidak sabar dengan lanjutan cerita tentang Si Belah. Oneng menggelengkan kepalanya, saat Jabrik menawarinya sebatang Rokok sambil berkata, “Oneng nggak merokok,”

Jabrik memasukan sebatang Rokok ke dalam mulutnya, membakarnya, lalu menghisap dalam-dalam dan menghembuskan asapnya secara perlahan-lahan.

“Dan Si Belah pun berlalu, meninggalkan para PSK di tikungan yang terihat begitu remang-remang di sudut malam,” Jabrik meneruskan cerita Si Belah sambil tersenyum ke arah Oneng.

“Iya, terus?” tanya Oneng sambil mengibas-ibaskan tangannya, berusaha menjauhkan asap Rokok yang mendekat ke arahnya.

“Setelah jauh berjalan, maka sampailah Si Belah ini di pinggiran kali, bertemu dengan seorang Perempuan tua yang tengah Sembahyang di atas batu kali,” kata Jabrik lagi sambil kembali menghisap Rokok di tangannya dalam-dalam.

“Nenek-nenek?” tanya Oneng, ingin memperjelas jawaban Jabrik barusan.

“Iya,” kata Jabrik sambil menyeruput Kopi Sanger.

“Hihihi.. Tadi Oneng pikir laki-laki,” kata Oneng sambil menutup mulutnya sendiri.

“Bukan! Kalau Laki-laki nanti disangka Sunan Kalijaga.” kata Jabrik kalem.

“Hihihi..Iya ya..,” kata Oneng lagi tertawa cekikikan sambil berusaha menutupi mulutnya ketika sedang tertawa. Menyembunyikan barisan gigi putihnya yang terlihat begitu bersih dan rapi dengan jari-jari tangannya.

“Hai Belah, mau kemana?” Jabrik menirukan ucapan Perempuan tua yang tengah duduk di atas batu kali.

“Kata siapa?”  tanya Oneng pada Jabrik.

“Kata Si Nenek di atas batu kali,” jawab Jabrik, menjelaskan ucapannya tadi.

“Oo,” kata Oneng sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.

“Aku hendak mencari Tuhan, Nek,” Jabrik kembali menirukan ucapan Si Belah.

“Terus apa kata Si Nenek di atas batu kali?” cecar Oneng penasaran dengan jawaban Wanita tua di atas batu kali.

“Si Nenek melihat Si Belah berulang kali, lalu tertawa ‘terpingkal-pingkal’mendengarkan perkataan Si Belah yang cuma memiliki tubuh sebelah dan terlihat begitu kotor sekali dimatanya. Si Belah ini ketika berjalan seperti orang yang tengah merangkak,” jawab Jabrik sambil melihat ke arah Oneng.

“Iya,” kata Oneng sambil berusaha membayangkan bagaimana kondisi Si Belah.

“Nenek di atas batu kali itu bangkit dari tempat duduknya, turun dari atas batu, menunjuk ke arah batu kali yang terlihat cekung di depannya lalu berkata kepada Si Belah di sampingnya; saat aku pertama kali sembahyang di atas batu ini, dulu batu ini cembung, tapi lihat batu ini sekarang, saat ini permukaan batu kali yang awalnya itu cembung, saat ini sudah menjadi cekung akibat terlalu lama aku beribadah di atas batu ini,”

 

Jabrik berusaha menggambarkan dan menirukan ucapan Nenek di atas batu kali kepada Si Belah saat terjadinya percakapan antara Si Nenek dan Si Belah.

 

“Iya” jawab Oneng yang sepertinya mampu menangkap apa yang tengah di gambarkan Jabrik saat terjadinya percakapan antara Si Belah dan Nenek di pinggir kali.

“Si Belah kaget, batu sungai yang awalnya cembung itu bisa berubah menjadi cekung dan itu akibat terlalu lama di pakai oleh Si Nenek untuk beribadah. Si Belah membayangkan; begitu banyaknya amal ibadah yang sudah di kerjakan oleh Si Nenek selama ini.” Jabrik berusaha menggambarkan suasana kebatinan dan pikiran Si Belah saat itu.

“Iya, kebayang sudah berapa lama Si Nenek beribadah di atas batu kali itu.Terus?” tanya Oneng lagi sambil memandang ke arah lain.

 

Oneng tidak berani menatap kedua mata Lelaki kurang ajar di depannya ini. Masih jelas di dalam ingatannya, saat tadi tanpa sengaja melihat kedua bola mata Lelaki misterius de depannya ini, sekilas tadi Ia seperti tengah melihat bayangan dirinya yang tengah disetubuhi oleh Lelaki kurang ajar ini, di tempat ini, di atas Meja tempat mereka sedang berbincang-bincang saat ini.

 

“Setelah tawanya sedikit reda. Si Nenek kembali berkata kepada Si Belah; Aku saja yang sudah beribadah siang malam seperti ini, tidak pernah sekalipun di temui Tuhan di tempat ini, apalagi kamu yang kayak begini? Hehehe.. Tapi baiklah, nanti kalau kamu memang benar-benar bertemu dengan Tuhan, tolong tanyakan aku masuk Surga apa ya?”

Jabrik kembali menggambarkan suasanan saat terjadinya percakapan antara Perempuan tua dan Si Belah di pinggir kali.

“Terus?” tanya Oneng lagi sambil kembali mengambil Tissue dan mempermainkannya dengan kedua tangannya di atas Meja.

“Baik Nek, jawab Si Belah. Si Belah lalu pamit kepada Wanita tua di pinggir kali dan kembali melanjutkan perjalannya mencari Tuhan,” Jabrik kembali berusaha menggambarkan suasana percakapan antara Si Belah dan Si Nenek di pinggir kali.

“Si Nenek yakin bakalan masuk Surga ya?” tanya Oneng sambil melihat ke arah Jabrik.

“Iya. Kan amal ibadah si Nenek sudah banyak sekali,” jawab Jabrik sambil senyum-senyum sendiri.

“Iya ya, kan sudah ibadah siang malam di atas batu kali,” kata Oneng pelan.

 

Bersambung

 

Catatan: Di buat oleh, Warkasa1919 dan Apriani1919. Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Cerita ini juga Tayang di Secangkir Kopi Bersama.

 

Bahan bacaan : 1, 2, 3, 4

Warkasa1919
Warkasa1919 Setiap cerita pasti ada akhirnya. Namun di dalam cerita hidupku, akhir cerita adalah awal mula kehidupanku yang baru.

6 komentar untuk "Kisah Si Belah Mencari Tuhan (Bagian Lima)"