Header Atas - Panjang

Tawa Bayi di Tengah Malam



Ilustarasi gambar oleh republika.co.id


Baru saja Doni  pergi meninggalkanku. Handphone-ku berdering, dan setelah kuangkat, ternyata itu berasal dari Tante Dewi, orang tua Doni, temanku yang barusan keluar lewat pintu depan rumahku.

 

Dari seberang Telepon, kudengar suara Tante Dewi menangis sesegukan, sambil menceritakan bahwa anaknya, Doni baru saja di kebumikan. Menurut Tante Dewi; dari malam tadi Ia berusaha menghubungiku karena Doni  kecelakaan sore kemarin. Tapi katanya Handphone-ku mati dan baru bisa dihubungi siang ini.

 

Karena tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan, segera kukejar Doni ke halaman depan rumah dan memang saat aku tidak melihat ada siapapun disitu. Pintu pagar rumahku masih terkunci rapat, persis seperti pagi tadi saat aku membukakan pintu pagar buat Doni yang datang mengunjungiku.

 

Jadi? Siapa yang baru saja pamit pulang kepadaku sebelum Tante Dewi menelponku?

 

Mataku serasa berkunang-kunang menerima kenyataan bahwa sahabat karibku itu ternyata saat ini telah pergi mendahuluiku. Dan belum hilang rasa kaget dan kesedihanku tiba-tiba saja  telingaku mendengarkan ada suara yang bergemuruh di atas langit sana.

 

Di antara birunya langit kulihat ada asap tebal yang bergerak dan tengah meluncur  ke arah ku. Masih tidak percaya dengan penglihatan kedua mataku,  Ku- usap-usap kedua mataku dengan tangan kananku sambil terus menatap ke arah Pesawat terbang yang tengah meluncur deras ke arah perumahanku.

 

Dan

 

Tanpa berpikir panjang lagi  segera kulompati pagar Rumahku dan terus berlari menyelamatkan diri. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki  Aku terus berlari sejauh mungkin meninggalkan, Komplek Perumahanku.

 

Aku terus berlari tanpa berani melihat ke arah belakangku.

 

Boom!

 

Suara keras membahana itu terdengar jelas di telingaku. Aku berhenti dan melihat kearah suara keras dibelakangku itu. Di antara kepulan asap yang membumbung tinggi di angkasa. Pesawat yang tadi kulihat terbakar ekor nya itu telah menghancurkan beberapa rumah di Komplek Perumahanku.

 

"Ada apa Pak?"

 

Tanyaku pada seorang Bapak-bapak yang memakai Sarung dan berkaos warna hitam di depanku.

 

Menurut Bapak yang memakai kaos berwarna hijau dan mengenakan kain Sarung di depanku ada kecelakaan antara Mobil dengan Sepeda Motor yang tiba-tiba saja muncul di depan Pertigaan jalan ini.

 

"Bagaimana dengan Sepeda Motor yang menyebabkan kecelakan itu?" tanyaku pada lelaki paruh baya di depanku.

 

"Hilang begitu saja,"

 

Lelaki paruh baya itu berkata sambil berlalu meninggalkanku

 

"Hah! Hilang gimana?"

 

Belum sempat bertanya lebih jauh, Lelaki berkain Sarung itu sudah berlalu meninggalkanku.

 

Jika kondisi Mobil Ambulan ini saja sudah sedemikan parahnya, bagaimana dengan nasib penumpang di dalamnya?

 

Dari serpihan kaca Mobil yang sudah hancur berantakan itu Aku melihat pengemudi Mobil Ambulan itu sudah meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan. Dengan sedikit memasukan kepala ke dalam Mobil Ambulan yang sudah ringsek karena baru saja menabrak trotoar jalanan dengan kecepatan tinggi itu aku melihat ke bagian belakang Mobil Ambulan.

 

Darah segar berceceran dimana-mana, seorang Wanita muda terkapar bersimbah darah dengan kondisi retak di kepalanya, mungkin akibat terhempas dan terbentur akibat kecelakan hebat di Pertigaan jalan ini.

 

Aku celingak-celinguk melihat ke arah kerumunan orang-orang dibelakangku yang sepertinya tidak perduli dengan kondisi para penumpang di dalam Mobil Ambulan itu.

 

Setelah melihat ke arah kerumunan orang-orang dibelakangku, Aku kembali melihat ke dalam Mobil Ambulan naas itu dan di antara selangkangan Wanita malang itu kulihat ada sesosok Bayi yang tengah meminum air Ketuban ibunya.

 

Bagaimana Bayi ini bisa selamat dari kecelakaan hebat ini? Pikirku bergidik ngeri saat membayangkan mungkin saja Bayi ini telah meninggal dunia dan  hidup lagi.

 

Masih seperti tidak percaya, kutatap sesosok Bayi berselimutkan darah yang kulihat tengan meminum air Ketuban Ibunya itu. Seperti tau ada yang tengah memperhatikannya, tiba-tiba saja Bayi itu memutar kepalanya dan menatap liar ke arahku.

 

Belum hilang kekagetanku dengan semua kejadian yang baru saja terjadi hari ini, mulai dari kabar tentang meninggalnya sahabat karibku, Pesaawat Terbang yang jatuh menghancurkan beberapa rumah di Komplek Perumahanku, sekarang ada kejadian aneh ini lagi di depan mataku.

 

Tiba -- tiba saja Bayi mungil yang masih berlumuran darah di mulutnya itu terbuka dan bisa kulihat dengan jelas gigi taringnya yang runcing-runcing itu  sebelum Ia tertawa ke arahku.

 

Melihat anak Bayi itu mulai berdiri, Aku  mundur dan segera berlari menjauhi Mobil Ambulan itu.

 

Langkah kaki ku baru berhenti di depan Kantor Polisi. Dengan maksud hendak melaporkan semua kejadian yang baru saja kualami, Aku segera mempercepat langkah kaki-ku menuju ke arah Kantor Polisi.

 

Kedua langkah kaki-ku terhenti saat melihat Wanita yang tadi kulihat telah meninggal dunia di dalam Mobil Ambulan itu saat ini tengah berdiri di depanku sambil menggendong Bayi yang tadi kulihat tengah meminum air Ketubannya itu.

 

Sisa-sisa darah segar masih mengalir di tubuhnya. Wanita muda dan Bayi di dalam gendongannya  itu tersenyum ke arahku. Di kening Wanita yang tadi kulihat telah meninggal dunia itu kulihat ada tanda yang sepertinya sudah tidak begitu asing buatku. Begitu juga di kening Bayi yang tadi sempat kulihat membunuh semua orang-orang yang tengah berkerumun melihat jenazah Ibunya di dalam Mobil Ambulan itu dengan gigitan mematikan di lehernya satu persatu.

 

Bulu kudukku meremang berdiri, tersurut mundur kebelakang saat mengetahui Wanita muda yang tengah menggendong Bayi itu bersama dengan beberapa orang yang mengenakan seragam Polisi itu ternyata memiliki tanda yang sama di keningnya.

 

Bagai melihat Hantu di siang bolong, secara reflek Aku memutar badan dan berlari sambil berteriak,

 

 "Tolong... Ada Hantu!"

 

Kedua bahu-ku terguncang dan masih antara sadar dengan tidak kulihat ada tangan seseorang sedang menyentuh bahuku sambil terus memanggil-manggil namaku.

 

Doni, orang yang Aku tau telah meninggal dunia dari telepon Mamanya itu ada di depanku.

 

Hemm...

 

Buyar rasa kantukku. Jam di dinding kamar tidurku masih menunjukan Pukul 03:00  dini hari.

 

Setelah Doni keluar dari dalam Kamar tidurku, Aku beranjak dari atas tempat tidurku, lalu pergi ke dapur. Secangkir Kopi hangat mungkin bisa menghilangkan rasa takutku akibat mimpi buruk tadi.

 

Setelah memanaskan air untuk membuat kopi dan mencampurkan bubuk kopi di dalam cangkir, sambil kembali mengingat mimpi buruku tadi, kuaduk cangkir berisi kopi di tanganku.

 

 "Sruup,"

 

Baru beberapa kali tegukan air kopi di dalam cangkir putih yang ada di tanganku, sayup-sayup telingaku mendengar suara Bayi yang sedang tertawa dari ruang tengah rumah kontrakanku bersama Doni dan Toni.

 

Bulu kudukku sontak meremang berdiri, dengan jantung berdetak kencang. Suara anak kecil yang baru saja kudengar itu begitu mirip sekali dengan suara Bayi yang kulihat tengah meminum air Ketuban ibu nya di dalam mimpiku tadi.

 

Rasa takut yang tengah menghinggapiku saat ini kalah oleh rasa ingin tauku yang begitu tinggi. Dengan jalan sedikit berjinjit dan mengendap-endap, dari Dapur kudatangi suara tawa anak kecil yang kudengar semakin jelas berasal dari dalam kamar Doni.

 

Sambil menahan nafas, bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi di dalam Kamar tidur Doni, kubuka pelan-pelan pintu Kamar Doni yang memang jarang dia kunci.

 

Sambil memegang pintu kamar si Doni, masih terbayang jelas semua yang telah kulihat di dalam mimpiku tadi, bagaimana Bayi itu meminum air Ketuban ibunya lalu memperlihatkan gigi-gigi taringnya yang tajam itu kepadaku, sebelum akhirnya kulihat Ia membunuh semua orang yang berkerumun itu dengan menghisap habis darah mereka satu persatu.

 

Klik!

 

Kreettt...

 

Pintu Kamar Doni kubuka secara perlahan sambil menahan. Dan dengan wajah pucat pasi kulihat Doni yang tengah duduk di atas tempat tidurnya sambil menelpon seseorang dengan Handphone di tangan kirinya.



“Ada apa Bro?”
Sambil menutup speaker Handphone di tangannya Doni bertanya sambil melihat heran ke arahku.



“Aku tadi mendengar suara ketawa Bayi di sini,” jawabku masih tegang, sambil terus menatap ke arah sekeliling kamar tidur Doni.



“Oo, itu suara nada dering panggilan Handphone-ku yang baru bro,” kata Doni sambil meneruskan pembicaraannya dengan seseorang di ujung telepon sana.


 Selesai 


Posting Komentar

6 Komentar

  1. Baca dari atas dah deg...degan...pas ke bawah pyarrrrrrrrπŸ˜πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ™„πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ™ biar gak tegang terus😁

      Hapus
  2. Ihh mimpi buruk serem juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ˜‚ jangan lupa baca doa sebelum tidurπŸ˜πŸ™πŸ™

      Hapus