Header Atas - Panjang

Cerita Anak (Cita-Cita yang Tidak Kesampaian)



"Panti jomblo, tempat berkumpul semua orang yang masih jomblo", kata Anak Sulung memberi penjelasan kepada adiknya.

Bermula dari tontonan di salah satu stasiun televisi, ketiga anak ini saling berebut untuk memiliki sesuatu yang menurut mereka keren. Keinginan anak usia 10 tahun, 8 tahun dan 4 tahun. Ingin punya mobil terbang, mobil yang bisa jalan di air dan ingin membangun rumah dari emas. 

Ikut dalam pembicaraan mereka yang seru, aku juga tidak mau kalah tentang semua cita-citaku sedari kecil. Cita-cita yang tidak kesampaian ๐Ÿ˜

Mereka memanggilku Inang, artinya Ibu. Walaupun bahasa daerah tapi mereka tidak malu dengan sebutan itu. Bahkan ketika di sekolah mereka selalu menyebut Inang jika bercerita kepada gurunya. Terkadang guru merekapun memanggilku Inang. 

"Sebenarnya Inang juga punya banyak cita-cita sewaktu kecil yang sampai sekarang belum tercapai. Jadi Inang pengen kalian nanti yang mewujudksn cita-cita Inang", kataku memulai.

"Emang apa aja cita-cita Inang?", sahut mereka.

"Sebenarnya Inang pernah berkeinginan jadi pendeta tapi tidak jadi. Inang harap Abang nanti bisa jadi pendeta. Pendeta harus bisa jadi teladan dan juga bisa jadi pemimpin. Pendeta juga harus pintar dan bijaksana dan taat aturan. Inang pilih Abang yang jadi pendeta. Gimana, Abang maukan?", kataku kepada Si Sulung.

"Kamu harus baca Alkitab loh Bang", kata Si Anak Tengah.

"Membaca Alkitab bukan cuma pendeta tapi semua orang yang mengaku dirinya Kristen. Kalau agama Islam brarti membaca Alquran. Semua orang harus membaca kitab suci agamanya", kataku memberi penjelasan.

"Kalau aku jadi apa Nang?", tanya Si Anak Tengah dengan tidak sabar.

"Bentar", jawabku. Aku ingin berbicara kepada Si Bungsu dulu.

"Dulu Inang juga pengen jadi dokter tapi karena tidak lulus di Perguruan Tinggi Negeri akhirnya batal. Jadi Inang ingin Atha nanti jadi dokter", kataku kepada Si Bungsu.

"Oke, siapa takut. Atha juga pengen jadi dokter kok", jawabnya.

"Jadi dokter itu harus sabar dan pintar. Tidak boleh malas. Kalau ada orang yang sakit malam-malam, Atha harus mau bangun", kataku memberi penjelasan.

"Lebih baik Atha jadi penari atau model aja Nang. Atha suka joget-joget sama foto-foto. Uangnya bisa lebih banyak daripada dokter. Harusnya Dokter tidak boleh marah-marah tapi Atha malah marah-marah mulu", kata Si Sulung.

"Atha mau jadi dokter", katanya dengan nada tinggi.

"Gitu doang langsung ngegas, ngegas,ngegas", kata Si Anak Tengah.

Anak Tengah dan Bungsu ibarat Tom and Jerry. Diego dan Atha, dua nama yang paling sering kusebut di rumah ini. Mungkin ini sebabnya nama Diego lebih tenar di tetangga karena sering aku teriakin haha...

"Nang, mana yang lebih bagus jadi dokter, penari atau model?", kata Si Sulung.

"Sama saja. Semua bagus asal ditekuni", jawabku.

"Aku jadi apa Nang?", ulang Si Anak Tengah.

"Diego mau jadi apa saja bebas, terserah saja asal pekerjaan yang benar", kataku.

"Diego enak banget bisa jadi apa saja", protes Si Sulung.

"Tunggu dulu, Inang belum selesai. Dari dulu Inang pengen punya sekolah, rumah sakit sama panti jompo. Jadi Diego harus mewujudkan ini nanti. Gitu loh Bang", kataku melanjutkan.

"Oh, dengar tuh Go", kata Si Sulung.

"Apa tadi kata Inang Go? Kamu harus punya apa?", tanyaku untuk memastikan.

"Sekolah, rumah sakit sama yang satu lagi yang aneh", jawab Si Anak Tengah cuek.

"Apa sih yang aneh, asbun kamu", kataku.

"Panti jomblo, tempat berkumpulnya semua orang yang masih jomblo", tiba-tiba saja Si Sulung nyamber. Lucu rasanya mendengar dia memberi penjelasan tetapi malah salah haha...

"Eh, bukan panti jomblo tapi panti jompo. Tau Jompo enggak?", kataku.

"Enggak, makanya tadi aku bilang aneh", kata Si Anak Tengah sambil matanya tetap ke tv.

"Jompo itu tua. Jadi panti jompo itu tempat orang yang sudah tua, mungkin di rumahnya tidak ada yang mengurus karena anaknya sibuk semua. Daripada dia kesepian, lebih baik di panti jompo, banyak teman dan ada yang ngurusin", kataku memberi penjelasan.

"Oh aku baru tahu. Kenapa enggak tinggal di rumah anaknya saja kalau sudah tua?", tanya Si Anak Tengah.

"Ya barangkali anaknya jauh atau diluar negeri semua. Lagipula anaknya kan sibuk kerja, tidak bisa jagain orangtuanya yang sudah tua", lanjutku.

"Nanti Inang kalau sudah tua tinggal di rumahku saja, aku bikin kamar spesial buat Inang", kata Si Anak Tengah.

"Tidak, Inang tinggal di rumah Atha. Rumah Atha nanti bagus kok", ujar Si Bungsu.

"Inang di rumahku saja, rumahku terbuat dari emas. Aku akan membuat kamar yang keren untuk Inang", kata Si Sulung.

"Dirumahku"
"Dirumahku"
"Enggak, dirumahku"
"Dirumahku saja"

Mereka bertiga memperebutkan ibunya. Semoga cinta mereka terhadap ibunya tidak berubah, cukup seperti ini saja.

Love you Dovan, Diego, Liatha.





Posting Komentar

6 Komentar