Header Atas - Panjang

Bersama Para Penulis di SKB Mewujudkan Impian Masa Kecil saya

                             (Dokpri)

Saya pernah dalam satu masa mengirimkan sebuah foto rangkaian bunga sangat cantik karya florist ternama. Kemudian foto tersebut di facebook dikomentari oleh Ibu dari sahabat karib saya. Mamih, begitu saya memanggil Beliau. 

Komentar Mamih sangat memberikan dorongan positif untuk saya. Saya tidak ingat kalimatnya dengan persis, tapi isinya tentang sebuah harapan kalau saya bisa juga jadi seperti florist ternama tersebut.

Saya yang tidak paham maksud Mamih, maka bertanyalah saya pada Beliau. 
Mamih menjelaskan dalam komentar berikutnya, bahwa saya bisa menjadi apa saja yang saya inginkan, asal percaya pada kemampuan diri dan mau berusaha mewujudkannya. Perbincangan singkat ini sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu, namun masih tetap saya kenang.

Ini menjadi sebuah kalimat motivasi tingkat tinggi untuk saya pribadi. Saya memang tidak terlalu meikirkan setelahnya, tapi saya bukan melupakannya sama sekali. Sejak kecil sebagai penggemar buku cerita, saya selalu membayangkan masuk dalam cerita yang saya baca. 

Misalnya waktu SMP, saat membaca kisah petualangan lima sekawan atau trio detektif, saya akan membayangkan  kalau ada satu tokoh tambahan dalam cerita, yaitu saya. Saya akan masuk dalam cerita petualangan tersebut dan jadi salah satu partner dari tokoh-tokoh utama. 

Bahkan saya juga sering mengimajinasikan saya mengobrol dengan penulis cerita petualangan favorit saya tersebut. Ambil contoh saya seolah berdiskusi dengan Bapak Alfred Hitchock atau Ibu Enid Blyton. Misalnya saya menanyakan kenapa jalan ceritanya begitu. Saya ikut membayangkan seandainya bisa saya masuk dalam cerita karangan dua penulis besar ini, kira-kira tokoh seperti saya mendapat peran sebagai siapa?

Kalau saya ingat semua itu, ada rasa geli tersendiri. Mungkin itu caranya saya menikmati karya fiksi dan mengagumi para penulis buku karya fiksi favorit saya tersebut. Kalau Anda ada pengalaman apa? 

Lalu apa kaitannya dengan nasihat Mamih dengan cara saya membaca kisah fiksi di masa remaja saya? Tanpa saya sadari, saya sebenarnya sedang bercita-cita menjadi penulis buku. Nasihat Mamih mengingatkan saya sekarang kalau saya berhasil mewujudkan salah satu impian masa kecil saya.

Mengapa saya menuliskan kisah ini? Sebenarnya ini menjadi pengingat bagi saya pribadi tentang pencapaian saya di dunia tulis menulis. Pernahkah saya membayangkan menjadi penulis buku yang sesungguhnya? Hampir jarang. Saya hanya mengandai-andai saja tapi tioak terlalu memikirkan dengan seirus.

Saya hanya mengikuti hati saya, ketika ingin menulis, jadilah tulisan. Setiap inspirasi yang muncul segera saya jabarkan dalam kata-kata. Hingga suatu ketika salah seorang teman saya, mbak Widz Stoops (demikian saya menyapa Beliau) meminta saya ikut menulis di blog Secangkir Kopi Bersama ini tentang tips menulis. 

Awalanya saya bingung juga mau menulis apa. Tapi saya menulis saja apa yang pernah saya praktekkan di sekolah. Saya mengajar anak-anak SD. Maka sayapun menulis tentang tips menulis untuk anak usia SD. Sudah itu saja. Tak ada terpikir lain-lain. 

Mbak Widz ternyata menanggapi sebuah kegelisahan teman kami lainnya, Ibu Aliz. Bu Aliz resah dengan ketersediaan buku-buku literasi untuk disumbangkan ke sekolah saat akhir tahun ajaran atau kelulusan siswa. 

Saya pun hanya punya pemikiran sederhana, saya ikut saja berbagi tips menulis ala saya. Belakangan saya baru paham kalau karya-karya kami akhirnya dibukukan. Saya bersama beberapa anggota penulis di blog SKB ini akhirnya sudah menyumbangkan ide kami untuk dunia literasi sekolah mulai SD, SMP dan SMA.

Akhirnya buku itu terbit juga. Ada sukacita tidak terkira dalam diri saya melihat nama saya tertera sebagai salah satu penulis buku. Saya ingat lagi nasihat Mamih. Saya bisa menjadi siapa saja atau apa saja yang saya inginkan. 

Jika saya pernah ingin menjadi penulis, ternyata asal saya ada usaha konsisten menuju ke sana, maka saya pasti bisa. Tentu saja harus ada usaha nyata dari kita sendiri. Jika kita diam saja tanpa tindakan nyata, bagaimana bisa mencapai cita-cita? 

Syukur kepada Tuhan. Tuhan menolong saya dengan bertemu orang-orang yang punya minat sama di dunia tulis menulis. Tanpa kesempatan yang Tuhan berikan, saya juga tiak bisa mencapai semua prestasi ini. Bagi saya, ini sebuah prestasi. 

                          (dokpri)

Semoga di kemudian hari, saya akan mendapat kesempatan lainnya untuk menulis buku karya saya sendiri. Semoga buku karya kami bersama, para penulis blog Secangkir Kopi Bersama bisa berguna bagi dunia literasi anak bangsa. 

Salam literasi
3 Juli 2020

Note: Dokpri foto by Aprianni Dinni SN and edited in photocollage by Ari Budyanti


Posting Komentar

8 Komentar