Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

[Aku dan Sang Waktu] Sang Proklamator





 Aku dan Sang Waktu_Sang Proklamator_Gambar diolah dari berbagai sumber_Warkasa1919




“Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda
Hinggo pupusing jaman”


Di antara bebatuan dan tiupan angin yang menggugurkan dedaunan, Aku dan Wanita cantik yang mengenakan Kebaya pengantin berwarna hijau daun serta mengenakan Mahkota kecil di kepalanya itu berdiri tegak, sambil menatap ke arah Sunan Kalijaga yang saat ini tengah duduk di atas batu besar berbentuk pipih sambil menembangkan “Kidung Wahyu Kolosebo” yang jika kuartikan kurang lebih artinya seperti ini.


“Kujaga diri dari perbuatan nista dan sesuka hati
Dengan mengendalikan hawa, hawa nafsu angkara
Meski setan bergentayangan, selalu membuat gangguan
Sampai akhir zaman”




*****
Di antara sayup-sayup suara Sunan Kalijaga yang perlahan-lahan mulai menghilang, bulu-bulu halus di tengkukku meremang berdiri, saat ini Aku sudah tidak lagi berada di pinggir Sungai tempat dimana Aku dan Sang Ratu tadi berdiri sambil mendengarkan “Kidung Wahyu Kolosebo” di antara desiran angin dan gemericik air sungai.

Walau terasa asing dengan suasana yang baru saja berubah seiring tidak terdengarnya suara Sunan Kalijaga ditempat ini, masih berdiri tegak, kutatap sosok lelaki tampan yang memakai jas putih keabu-abuan yang mengenakan peci hitam di kepalanya tengah menatap ke arahku sambil memegang tongkat kayu.

Suara mesin jahit membuyarkan pandangan mataku kepada sosok Lelaki tampan yang tengah menatapku dari dalam cermin besar di depanku. Sedikit menoleh Aku melihat ke arah samping dari tempatku berdiri saat ini, kedua mataku langsung tertuju kepada sosok seorang Wanita yang sepertinya tengah hamil tua tengah duduk di depan mesin jahit Singer. Wanita yang tengah hamil tua itu kulihat sedang menjalankan mesin jahit di depannya dengan menggunakan tangan kanannya.

Dimana Aku?
Dimana Raden Ayu Setya Ninggrum yang tadi bersamaku?

Mataku berkeliling mencari sosok Wanita cantik yang selalu mengenakan kebaya pengantin berwarna hijau daun serta mengenakan Mahkota kecil di kepalanya itu. 

Sebelum Aku berada di dalam ruangan ini, wanita cantik berusia 27 tahun itu masih berdiri di sebelahku.

Pandangan mataku kembali tertuju ke arah Wanita berkerudung putih yang tengah menjahit bendera Merah Putih berukuran 2x3 meter di sebelah kananku. Masih menatap ke sekeliling ruangan ini, Aku kembali teringat dengan buku-buku sejarah yang pernah kubaca dulu. Melihat suasana di dalam ruang ini, sepertinya saat ini Aku tengah berada di masa sebelum Bendera Pusaka itu berkibar pertama kali di negara yang di masa depan itu kulihat hampir bubar jelang pesta demokrasi.



*****
Waktu berlalu begitu cepat dan perjalananku dari satu waktu ke waktu berikutnya bagaikan menyibak tirai yang begitu tipis di depanku. Saat ini, di antara kepulan asap tembakau dan cangkir-cangkir kopi yang isinya sudah tidak penuh lagi, sambil menghembuskan asap rokok merek State Ekspres 555, kutatap bayangan tiga orang lelaki di dalam cermin besar yang tengah berdiskusi di dalam ruang makan milik Laksamana Tadashi.

Jam di pergelangan tanganku sudah menunjukan pukul 03.00 dini hari, sambil sesekali meneguk kopi dari cangkir yang berada di sebelah kananku, di antara hembusan asap tembakau yang memenuhi ruang makan, satu persatu kalimat yang keluar dari bibir Achmad Soebardjo dan Mohammad Hatta kutuliskan ke dalam selembar kertas putih di depanku.



*****

Teks Proklamasi Indonesia diketik ulang oleh Sayuti Melik. Bertempat di sebuah rumah hibah dari Faradj bin Said bin Awadh Martak yang berada di Jalan Pegangsaan Timur 56, dihadiri antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Pada pukul 10.00 pembacaan proklamasi dilakukan, selanjutnya bendera Merah Putih yang sebelumnya kulihat di jahit oleh seorang Wanita yang tengah hamil tua itu dikibarkan tepat pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 tahun Masehi disamping Drs. Mohammad Hatta yang berdiri disebelahku. 




*****
Setelah proses pembacaan teks Proklamasi dan pengibaran Bendera Pusaka selesai dilakukan, tiba-tiba saja Aku telah kembali berada di pinggir Sungai, berdiri di sebelah Sang Ratu dan Sunan Kalijaga di depanku.


“Apa yang engkau lihat” tanya Sunan Kalijaga sambil menatapku.

“Kulihat ada seorang Wanita yang tengah meneteskan air matanya karena merasa terharu sambil terus menjahit bendera Merah Putih itu, pembacaan teks Proklamasi dan pengibaran bendera Merah Putih untuk yang pertama kali nya di negara yang baru merdeka itu.” jawabku sambil melihat ke arah Sunan Kalijaga dan Raden Ayu Setya Ninggrum di sebelahku.

“Apa yang engkau rasakan saat berada disitu?” tanya Lelaki tua di depanku itu sambil turun dari atas batu pipih yang sedari tadi di dudukinya itu.

“Di 1945 Aku bisa melihat dan merasakan suasana kebatinan orang-orang yang yang begitu antusias menyambut kemerdekaan dan entah kenapa Aku merasa saat itu seperti tengah berada di dalam diri Sang Proklamator itu,” kataku pelan.


Aku kembali teringat pada sosok lelaki tampan berpeci hitam yang memakai jas putih keabu-abuan di dalam cermin besar yang selalu tersenyum penuh percaya diri di depanku.


“Tongkat Komando berbahan kayu ini bukan tongkat kayu biasa, seorang ulama karismatik asal Banjar yang telah mengikat tali persaudaraan dengan Soekarno, saat itu telah memasukan “Mustika Kalimosodo” kedalam cemeti berwujud tongkat yang selalu dibawa kemana-mana oleh Sang Proklamator itu. Kekuatan ghaib yang berada di dalam Tongkat Komando itu berfungsi untuk mengendalikan orang-orang yang berada di sekitar pemegang tongkat ini,”
Sunan Kalijaga berkata sambil memperlihatkan tongkat kayu yang saat ini berada di dalam genggaman tangannya itu kepadaku.

Bagaimana mungkin tongkat kayu yang di tahun 1945 itu kulihat berada di dalam genggaman tangan Sang Proklamator itu, saat ini telah berada di tangannya? Padahal tadi, sebelum Aku kembali ketempat ini, tongkat yang terbuat dari kayu itu masih berada di dalam genggaman Sang Proklamator.

“Bawalah “Mustika Kalimosodo” ini ke masa depan, pergunakan Tongkat Komando milik Sang Proklamator ini untuk menengahi pertikaian antara dua kelompok besar yang saat ini tengah bertarung memperebutkan kursi kekuasaan.
Pergilah, sebelum Negara besar yang bernama Indonesia itu hancur berantakan karena perang saudara akibat beda pilihan.” Lelaki tua berwajah teduh di depanku itu menyodorkan tongkat kayu di tangannya ke arahku.

Walau sedikit ragu, tapi setelah Wanita cantik yang mengenakan Kebaya pengantin berwarna hijau daun serta mengenakan Mahkota kecil di kepalanya itu kulihat menganggukan kepalanya sambil tersenyum ke arahku, segera kusambut uluran tangan Sunan Kalijaga yang memberikan Tongkat Komando milik Sang Proklamator itu kepadaku.




Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Bahan bacaan: 1, 2,



Posting Komentar

8 Komentar

  1. Keren ini, ceritanya sangat dalam πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan..heheheπŸ˜‚πŸ™πŸ™

      Hapus
  2. Sae sanget...πŸ˜ŠπŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada peri gigi..belum tidur yaπŸ™„πŸ˜‚πŸ™

      Hapus
  3. Bisa jadi, perang saudara yang berdarah-darah akan terjadi. Devide et Impera sedang terjadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga itu semua tidak terjadi ya om Bud..

      Hapus
  4. Balasan
    1. Hehehe... Terima kasih sangat udah berkenan membacanya mbak WidzπŸ˜‚πŸ™

      Hapus