Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Pintar Curhat = Pintar Menulis

                                            Sumber : Lampung Post



Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sering mendapat tugas dari guru untuk menulis saat liburan sekolah. Walaupun tema tulisan adalah bebas, tapi terus terang tugas tersebut adalah tugas yang paling saya tidak sukai. Saya selalu merasa tidak bisa menulis dan tidak tahu apa yang harus ditulis. 

Jadi jalan pintas yang saya ambil biasanya adalah dengan merengek kepada almarhum paman saya yang kebetulan seorang penulis dan juga pemimpin redaksi sebuah majalah terkenal saat itu. 

Sekali, dua kali dengan senang hati paman membantu. Maklum, saya memang dekat dengan beliau. Tapi lama kelamaan mungkin beliau berpikir, kalau dibantu terus kapan keponakanku bisa pintar? 

Hingga suatu hari, saya yang memang selalu ‘curhat’ tentang apa saja kepada paman, pada saat akan menceritakan tentang daddy saya yang tidak memenuhi janjinya untuk mengajak jalan-jalan ke kebun binatang, tiba-tiba menepis curhatan saya.

“ Paman sedang sibuk sekali, bagaimana kalau kamu tulis saja apa yang mau diomongin dan taruh tulisan itu di kamar, nanti pulang kerja paman baca!”

Saya yang memang sedang kecewa pada daddy saat itu, dengan penuh semangat menulis kekesalan saya diatas sepotong kertas, dan kemudian menaruhnya diatas tempat tidur paman.

Keesokan harinya, saat bangun tidur, saya mendapatkan secarik kertas yang berisi tanggapan dari paman.

“Paman mengerti kamu kecewa, terus sekarang kamu mau gimana?”

Sayapun membalas tulisan paman, “Janji itu harus ditepati, nanti saya akan tanya jadi kapan daddy akan ajak saya ke kebun binatang?”

Hari itu juga saat pulang sekolah, saya mendapat tanggapan tertulis dari paman. 

“Sudah bicara sama daddy? Apa jawabannya? Beritahu paman ya”

Malamnya setelah saya berbicara dengan daddy, sayapun kembali menulis hasil pembicaraan itu di atas secarik kertas dan kembali menaruhnya di kamar paman.

Dua hari setelah itu, paman memanggil saya.

“Nih, tulisan untuk tugas sekolahmu sudah selesai paman buat” katanya sambil menyerahkan secarik kertas penuh dengan tulisan tangannya. Sayapun mulai membaca tulisan itu. 

“Janji yang Tertunda” begitu judul tulisannya. Isinya? Ternyata adalah curhatan saya dengan paman tentang janji daddy.

“Ih, ini kan curhatan saya kepada paman tempo hari!”
“Emang iya, bagus kan? Hasil karyamu sendiri lho itu! Selama kamu suka curhat, itu tandanya kamu bisa menulis, jadi tidak perlu minta tolong paman lagi kalau ada tugas dari sekolah”

Kata-kata paman membuat saya tersipu. Malam itu paman menghadiahkan saya sebuah buku diary kosong untuk saya isi setiap hari.

Semenjak itu saya jadi sering menuliskan apa yang saya rasakan atau pikirkan ke dalam buku diary, entah itu hal yang sedih, mengecewakan atau hal-hal yang membahagiakan.

Lambat-laun menulis menjadi suatu hal yang biasa, sayapun tidak pernah lagi merengek kepada paman setiap ada tugas menulis dari sekolah. 

Untuk adik-adik yang ingin belajar menulis, bisa memulainya dengan apa yang pernah saya lakukan yaitu menuangkan ‘curhatan’ ke atas kertas. Semakin sering kita menulis, semakin terasah otak kita, ditambah dengan sering membaca, percayalah ide-ide untuk menulispun akan mengalir begitu saja. 

Selamat mencoba! 

Note : daddy adalah sebutan bapak dalam bahasa Inggris.

Widz Stoops - USA, 6/2/2020














Posting Komentar

6 Komentar

  1. Bener, aku dari SD biasa nulis di diary bisa curhat apa saja 😁😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai sekarangpun masih suka curhat dalam bentuk puisiπŸ˜‚πŸ™

      Hapus
  2. Curhat yang ditulis adalah kegiatan menulis.

    Keren mbak Widz

    BalasHapus
  3. Paman yg bijaksana dan daddy yg inspiratif ditambah mbak widz yg kreatif, kombinasi kerennnn πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  4. Buku diary sebuah catatan sejarah kita ya

    Salam mbak Widz

    BalasHapus