Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Menulis Itu Sesungguhnya Adalah Bercerita


Dokpri_SKB_Warkasa1919

Selama masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), lockdown, isolasi terbatas dan lain sebagainya, sekolah-sekolah diliburkan. Termasuk sekolah Dinni. Saat ini Dinni lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah bersama Ayah, Ibu serta Niek, adiknya yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP sementara Dinni sudah duduk di kelas 3 SMP.

Biasanya jika musim liburan telah tiba, Dinni, Niek, Ayah dan Ibu akan naik mobil dan berkunjung ke rumah Nenek Widz dan Kakek Budi di desa. Nenek Widz mempunyai ladang jagung. Biasanya Wella, Zaldy, Elang dan Arka juga selalu datang ke desa bersama mereka. Biasanya Dinni yang selalu mengajak teman-temannya itu jalan-jalan ke desa setiap kali musim liburan telah tiba.

Saat ini sekolah-sekolah tengah diliburkan akibat Pandemi, sehingga Dinni dan Niek terpaksa menghabiskan waktu liburannya hanya di dalam rumah saja, padahal biasanya jika musim liburan telah tiba Ayah selalu mengajak mereka dan teman-temannya pergi ke rumah Nenek Widz di desa.
Tetapi walau libur dan hanya berkegiatan di dalam rumah saja, Dinni dan Niek masih melakukan rutinitas seperti biasa, setelah bangun tidur, Dinni selalu merapikan tempat tidurnya terlebih dahulu, sebelum ia melakukan sholat subuh berjamaah bersama Ayah, Ibu dan adiknya.

Setelah sholat subuh berjamaah baru Dinni akan membantu Ibu untuk menyapu dalam rumah, sementara Niek terkadang kembali tidur lagi seperti biasa dan baru nanti Jam 06.30 WIB mandi dan selanjutnya sarapan pagi bersama-sama dengan Ayah, Ibu dan Kakaknya.

Ayah Tuah dan Ibu Fatimah selalu membiasakan Dinni dan Niek tetap melakukan kegiatan seperti biasa, walau tidak berangkat ke sekolah, tapi Ayah selalu meminta mereka untuk tetap membaca buku-buku pelajarannya.

“Kak, gimana sih caranya, biar bisa menulis cerita seperti ini,” tanya Niek pada kakaknya sambil menunjukan salah satu cerpen yang ada di dalam majalah anak-anak di tangannya.

“Ini adalah Cerita Pendek atau Cerpen.” kata Dinni kepada Niek, setelah ia melihat tulisan “Peri Gigi dan Ari, Si Dewi Bunga yang Baik Hati” yang menjadi judul cerita di Majalah anak-anak ditangan Niek.

“Itu Cerpen fiksi,” kata Dinni menjelaskan kepada Niek tentang cerpen yang baru saja dia baca.

“Oh gitu,” kata Niek manggut-manggut sambil melihat ke arah Dinni.

“Biasanya cerpen mengangkat berbagai macam kisah, bisa dari kisah nyata ataupun kisah fiksi.”

“Kak gimana sih caranya biar menulis cerita?” tanya Niek ingin tau,

“Untuk memulainya, kita bisa mulai menuliskan sebuah cerita itu dari apa yang pernah kita lihat, kita dengar dan apa yang tengah kita rasakan. Memang bagi orang yang sudah terbiasa dan mahir, membuat sebuah cerpen itu adalah hal yang sangat mudah, sebab menulis cerita itu sebenarnya seolah-olah kita sedang bercerita kepada orang-orang yang ada disekitar kita, hanya saja kita menceritakannya kepada mereka di dalam sebuah bentuk tulisan. Dan mereka mendengarkan apa yang kita ucapkan itu melalui membaca tulisan-tulisan kita”


Posting Komentar

13 Komentar

  1. πŸ˜‚πŸ˜πŸ˜ mba Niek adik aku yaaaa😁😁
    Nenek widzπŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..πŸ˜‚πŸ™ Nenek Widz belum bangun, aku kuatirnya beliau ngamuk, cucu nya pada nakal-nakalπŸ™„πŸ˜¬πŸ™

      Hapus
  2. Apik pak ketua....πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. terimakasih Peri..πŸ˜‚πŸ™

      Hapus
  3. Wah mantap nih pak Ketua, mengalir kisahnya secara luwes

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas☺️πŸ˜‚πŸ™ ikut meramaikan event buat mbak Aliz😁

      Hapus
  4. wah ada Dewi Bunga yang baik hati .. untung hanya judul cerpen ya haha.. jadi penasaran isi cerpennya.. oops salah focus. salam hangat pak Warkasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi..iya yang di baca Niek itu cerpen fiksi tentang Peri Gigi dan Ari, Dewi Bunga yang Baik HatiπŸ˜‚πŸ™

      Hapus