Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Apakah Cita-cita Harus Terhapus Jarak dan Biaya?

Diolah dari Pixabay


Para pelaku bisnis properti dulu selalu mempromosikan dagangannya dengan menyebutkan bahwa lokasi perumahan dekat dengan fasilitas umum yang nota bene adalah tempat hiburan baik lokasi mall atau wisata juga kantor pemerintahan. Tapi saat ini bagi pembeli melihat lokasi perumahan akan berpikir lagi apakah dekat dengan sekolah negeri?  Bila jauh maka harus menpersiapkan biaya besar untuk sekolah swasta yang tidak murah. 

Bagaimana dengan yang sudah terlanjur jauh dari lokasi sekolah negeri?  Jawabannya mengelus dada dan berdoa agar ada kemudahan membayar biaya sekolah. 
Tempo hari sempat saya katakan pada anak saya,  agar tidak terlalu ngoyo belajar,  toh nanti bukan nilai yang dilihat, tetapi jarak dari rumah ke sekolah. Tapi bawaan anaknya biar leha-leha nilai lumayan lah,  senang juga melihatnya tapi jadi kandas cita-cita manakalah semakin ke sini namanya tergeser. 

Banyak di sekitar kami sekolah swasta yang bagus-bagus dengan biaya yang bagus juga hingga kami hanya gigit jari. Saya juga menghimbau pada para pemilik sekolah swasta untuk lebih memperhatikan tentang pendidikan bagi anak usia wajib belajar di sekitar lokasi sekolah. Jangan samakan dengan jual beli barang, melihat situasi saat ini lantas mematok biaya sangat tinggi. 3 juta,  5 juta,  7 juta,  10 juta. Waduh itu anak diajari apa saja sampai biaya jutaan? 

Mau tak mau harus legowo tingkat dewa, bila tidak bisa masuk ke sekolah negeri karena jarak bukan karena nilai, nilainya bagus kog. Dari peristiwa seperti ini, saya berharap semoga semua sekolah swasta bisa memberi fasilitas yang memudahkan siswanya,  baik dari segi mutu juga biaya. Selama ini standar mutu pendidikan masih digenggam oleh swasta yang biayanya mahal.
Seharusnya nilai Pancasila itu dipegang teguh agar bisa melakukan hal yang manfaat untuk sekitar. Ada hubungannya ya? Jelas ada, dan semua ajaran kebaikan pasti diberikan bukan? Kemanusiaan yang adil dan beradab,  sila berapa? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,  sila berapa? 

Saya pernah membaca di sebuah media sosial tentang utamanya hidup adalah harta atau usia yang manfaat bagi orang lain, bukan kuantitasnya yang ditumpuk sendiri. Semoga sekolah swasta yang masih membandrol harga tinggi bisa beradabtasi dengan kemampuan masyarakat. Karena sekolah negeri sudah menjadi milik masyarakat dengan jarak terdekat. 

Mas Nadiem,  maaf nama mas Nadiem saya sebut di tulisan saya ini, saya butuh bantuan anda,  saya tidak memprotes tentang sistem zonasi yang sudah berjalan, itu sudah rezeki mereka yang rumahnya dekat, saya hanya mengharap sekiranya Mas Nadiem bisa memberikan ajakan yang merakyat pada sekolah-sekolah swasta agar bisa memberi layanan dengan biaya lunak. Negara kita masih banyak yang berpendapatan pas-pasan Mas,  apa lagi saat ini ekonomi carut marut karena Covid-19,  banyak yang terancam PHK maupun yang sudah diPHK. Sekolah swasta juga harus mempunyai kepedulian tinggi pada pendidikan rakyat,  jangan hanya tertulis pada visi misi nya saja. Seolah sekolah swasta hanya milik orang berada saja atau untuk yang kemampuan akademik kurang. 

Kita hanya harus sedikit membuka mata hati  melihat semangat mereka yang masih ingin menimba ilmu.





Jumat, 5 6 2020

Tulisan ini selain sebagai uneg-uneg pribadi mungkin bisa mewakili suara hati para orang tua

Posting Komentar

5 Komentar

  1. Sekolah selayaknya tidak diperlakukan sebagai "barang dagangan" yang semata mencari keuntungan. Tetapi punya fungsi sosial

    Turut mendoakan agar memperoleh jalan terbaik.

    BalasHapus
  2. Ikut menyimak artikel bagus ini☺️👍

    BalasHapus
  3. Semoga Mbak Aliz diberikan kemudahan untuk menghadapi semua itu. Aamiin.

    BalasHapus
  4. Semoga mas Nadiem mendengar curahan hati kita ya ..aamiin

    BalasHapus