Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Yuk, Sama-sama Belajar Menulis Cerpen

Ilustrasi. Foto oleh Detwold/ Pixabay.com 

Kesulitan pertama biasanya -  baik pemula maupun yang sudah terbiasa menulis -  adalah mengawali cerita. Terkadang kita berkutat cukup lama memikirkan kalimat yang pas. Jadi, bagaimana caranya?

Perlu diingat karakter cerpen itu sendiri. Cerpen itu singkatan dari kata 'cerita pendek'. Jadi kita membeberkan dan menyelesaikan masalah secara singkat. Tidak bertele-tele, tapi juga tidak terburu-buru. Jadi untuk mengawali cerpen sebaiknya digedor langsung permasalahan, dan masalah itu dikembangkan sedemikian rupa. Terserah tema apa yang mau diusung: Jatuh cinta, patah hati, cerita hantu, atau cinta yang menghantui ( seperti dirimu, ehm ), dst. 

Hindari banyak tokoh. Untuk cerpen cukup satu saja, lainnya hanya penguat cerita. Cerita cinta tentu ada pasangan, tapi tetap fokuskan pada satu tokoh saja. Penggambaran ( deskripsi ) watak tokoh juga jangan mengambil terlalu banyak. Entah tokoh itu ganteng, cantik, murah senyum, pemarah, humoris, playboy  ( bukan diriku ). Diceritakan sambil lalu saja, atau dimasukkan selintas dalam dialog. 

"Ternyata fitnah, ya, mengenai dirimu."

"Soal apa?"

"Kata temen-temen kamu itu cantik. Ternyata setelah aku lihat sendiri, nggak, tuh."

"Ya, aku memang jelek."

"Ya, salah kalau ada orang bilang kamu itu cantik. Padahal kan kamu..., lebih dari cantik, ya?"

***

Sama halnya deskripsi latar: angin semilir, panas membara, kota yang kumuh, ombak, pantai, dst, sebaiknya dihindari, karena membuat cerita akan bertele-tele. Kecuali kalau deskripsi latar itu untuk menguatkan cerita, atau bisa diceritakan selintas. 

Bagaimana cara bertutur. Mengambil orang pertama tunggal ( aku, saya ), atau bentuk orang ketiga tunggal (  dia, atau diselingi dengan menyebut nama tokohnya ). Tergantung nyamannya kita. Semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Untuk cerpen mungkin bentuk orang pertama tunggal  ( aku ) lebih mudah ( tetap tergantung kepada penulisnya  ). Untuk novel disarankan menggunakan bentuk orang ketiga tunggal (  dia ), karena kita bisa lebih mudah mengeksplorasi tokoh lain. Kita bisa menceritakan isi hati tokoh lain. Kalau dengan gaya "aku", tokoh "aku" hanya menduga-duga isi hati tokoh lain. Lagi untuk novel, kalau tidak terbiasa menulis, gaya bercerita dengan sudut "aku", di tengah jalan kita cepat kehabisan napas. 

Bagaimana dengan alur cerita. Alur maju: a, b, c..., dst, atau maju-mundur cantik ( flashback ), itu tetap tergantung nyamannya kita, dan kesesuaian cerita. 

Bagaimana komposisi cara bertutur. Apakah semuanya berbentuk narasi, semuanya dialog, atau gabungan keduanya. Sebaiknya untuk pemula adalah gabungan keduanya, ada narasi dan dialog. 

Sekarang mengakhiri cerita. Terkadang ini mengalami kesulitan, sama susahnya saat mengawali cerita. Tetap fokuskan pada penyelesaian konflik, jangan bertele-tele. Apakah itu dengan akhir twist ( kejutan ), menggantung, atau datar saja, itu hanya pilihan. 

Dan catatan penting, di akhir cerita pengarang jangan 'masuk'' dalam karangan. Yang dimaksud adalah jangan sampai pengarang menjadi juru dakwah, juru komentar, dan sebagainya. "Itu akibatnya kalau menggunakan narkoba...!" ;  "Nah, ini yang terjadi kalau kita sering bersedekah...!" ;  "Makanya jangan sering selingkuh, keluarga jadi berantakan...!" ; dst. Itu yang dimaksud pengarang masuk dalam karangannya. 

Dalam menulis harus jujur. Sebutkan kalau cerita yang kita tulis terinspirasi tulisan seseorang, atau dari sebuah puisi. Atau mengutip kata-kata, atau kalimat. Buat catatan kaki, dari mana sumbernya kalimat itu kita kutip. Dalam tubuh cerita biasanya ditandai dengan bintang, *), atau kalau lebih dari satu kutipan tandai dengan angka: 1), 2), 3), dst. 

Tapi ada yang murni sama sekali? Tentu saja ada. Contohnya, ya, cintaku padamu! Wkwkwk...! 

Semoga bermanfaat. 

13 komentar untuk "Yuk, Sama-sama Belajar Menulis Cerpen "

Budi Susilo 31 Mei 2020 15.25 Hapus Komentar
Keren. Bermanfaat
Ayah Tuah 31 Mei 2020 15.33 Hapus Komentar
Terima kasih Mas Budi
Dewi Leyly 31 Mei 2020 15.55 Hapus Komentar
Mantabs. Bermanfaat, ayah...
Aq biasanya susah untuk memulai, tp tak sanggup juga untuk mengakhiri...
😄😄🙏🙏
Warkasa1919 31 Mei 2020 16.22 Hapus Komentar
Keren yah, bermanfaat.☺️👍
Meduster 31 Mei 2020 17.02 Hapus Komentar
Sip deh
Apriani1919 31 Mei 2020 18.23 Hapus Komentar
Yuuuu aku juga mau nulis cerpen juga ah
Widz Stoops 31 Mei 2020 20.26 Hapus Komentar
Jadi pengen nulis novel tentang dirimu ... 😁
Ayah Tuah 1 Juni 2020 10.21 Hapus Komentar
Wadaow...
Ayah Tuah 1 Juni 2020 10.22 Hapus Komentar
Asyik
Ayah Tuah 1 Juni 2020 10.22 Hapus Komentar
Sip, juga
Ayah Tuah 1 Juni 2020 10.23 Hapus Komentar
Terima kasih Mas Warkasa 😀😀😀
Ayah Tuah 1 Juni 2020 10.24 Hapus Komentar
Jadi, jangan diakhiri. Sambung terus 😀😀😀
Ari Budiyanti 4 Juni 2020 20.04 Hapus Komentar
Terimakasih Ayah Tuah untuk artikelnya, sudah menambah pengetahuan saya bagaimana menulis cerpen. Salam hormat saya

Berlangganan via Email