Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Secangkir Kopi Rasa Beras Kencur

                                          https://unsplash.com/@hobiindustri

Manto memarkir becaknya di depan warung kopi Suminten. Sengaja ia niatkan mampir ke sana selepas narik sore itu. Bukan sengaja, tapi suatu keharusan lebih tepatnya, setelah kunjungan ke rumah Suminten kemarin  membuat Manto sulit tidur semalaman.
Hati Manto berdegup kencang. Merasa bersalah, sudah pasti. Dua hari lalu ia membohongi Suminten. Tedeng aling-aling lembur dipakainya sebagai alasan tidak mampir ke warung kopi Suminten sore itu.
Lembur yang dimaksud Manto sebetulnya adalah kunjungan memenuhi janjinya kepada Juju, si penjual jamu gendong keliling ketimbang mampir ke warung Suminten. Sayangnya saat Manto dan Juju sedang berduaan di bawah pohon nangka, si Bambang yang juga penarik becak sempat melihat mereka saat lewat membawa penumpang ke warung beras tidak jauh dari pohon nangka tersebut.
Entah apa yang kemudian disampaikan Bambang kepada Suminten tentang pertemuan mereka, yang jelas esok paginya saat mampir ke warung kopi muka Manto basah oleh tumpahan kopi yang dilemparkan Suminten. Untungnya kopi tersebut adalah kopi yang tidak habis di minum Ucok, tukang kredit panci keliling. Coba kalau kopi yang baru diracik, sudah melepuh kulit muka Manto!
Suminten sepertinya tidak terima saat Manto menjelaskan kalau memang tidak ada apa-apa antara ia dan Juju. Pertemuannya dengan Juju sore itu hanya karena ia ingin memenuhi janjinya untuk meminjamkan uang kepada Juju, jika ia mendapatkan uang tarikan lebih.
Juju sangat membutuhkan pinjaman itu, ia sudah kadung janji pada anak semata wayangnya si Otong, untuk membelikan sepatu sekolah warna hitam. Ya, ada peraturan baru di tempat Otong bersekolah, semua siswa diharuskan mengenakan sepatu hitam. Otongpun dipulangkan kerumah karena tak memakai sepatu hitam dan setelah kejadian itu Otong tidak berani masuk sekolah. 
Juju, penjual jamu gendong yang terkenal cukup bahenol itu memang sempat curhat kepada Manto, “Biarin deh kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, Juju lakonin asal si Otong bisa sekolah tinggi. Sedih juga rasanya si Otong kagak bisa sekolah gara-gara gag punya sepatu item” 
Mendengar itu Manto hampir saja tersedak jamu beras kencur yang diminumnya. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa berhutang budi pada Juju. Karena racikan jamu Juju yang diasumsi setiap harilah yang menjadikan badannya selalu fit hingga diumurnya yang sudah tidak muda lagi itu ia masih mampu mengenjot pedal becak bahkan mampu membuat Suminten pemilik warung kopi yang tak kalah bahenolnya dibanding Juju itu kesengsem dibuatnya.
Rasa berhutang budi itulah yang memacu semangat ngenjotnya agar ia dapat banyak penumpang dan dapat menyisihkan uang untuk dipinjamkan kepada Juju. Tapi tak pernah sedikitpun terlintas di benak Manto kalau niat baiknya justru membawa petaka tumpahan kopi ke mukanya.
Manto memberanikan diri untuk menjelaskan sekali lagi apa yang sebetulnya terjadi atas dirinya dan Juju. Namun niat itu diurungkan ketika tiba-tiba ia melihat ada sesuatu yang lain dari Suminten. Wajahnya terlihat sumringah, sebuah senyum manis dilemparkan untuk Manto. Pasti untuk Manto, karena memang tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
Manto girang bukan kepalang, dielusnya punggung Suminten, “Sayang, abang janji mulai sekarang tak akan pernah ada dusta lagi di tengah kita, tak ada tempat buat luka menganga di antara kita dan tidak ada tangis membasahi lembaran kasih kita. Tersenyumlah sayang. Senyummu adalah detak jantungku. Detak yang membuatku tetap dapat terus hidup ... mencintaimu ... “ 
“ Taelaah .. toet tekdung toet tekdung gentolet preetlah Mas!” Suminten langsung memotong rayuan pagi hari Manto, sambil meletakkan cangkir yang mengepul di hadapan Manto.
Sesaat Manto melongok cangkir di hadapannya. Kopi yang disuguhkan Suminten terlihat hitam pekat. Tidak seperti biasa, kopi untuk Manto kali ini di racik tanpa susu. Manto cuma bisa manggut-manggut mencoba meraba pesan yang  ingin disampaikan Suminten lewat cangkir itu. 
Di raihnya cangkir kopi yang masih mengepul, di tuangkannya air kopi dari dalam cangkir ke atas tatakan. Perlahan ditiupnya kopi yang hampir memenuhi tatakan itu. Di seruputnya sedikit. Rasa hangat mengalir ketenggorokannya.
Entah mengapa tiba-tiba ada sebuah rasa yang ia rindukan pagi itu. Rasa nikmatnya jamu beras kencur. Racikan Juju tentunya.

Widz Stoops, PC, Cinco De Mayo 2020











Posting Komentar

11 Komentar