Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menulis itu Seperti Berbicara dengan Temanmu

Gambar oleh StockSnap dari pixabay.com

Sering terdengar keluhan: menulis itu susah ya? Tetapi sebaliknya, banyak orang bisa demikian lancarnya berbicara panjang lebar dengan teman-temannya. Padahal perbedaan menulis dengan berbicara adalah tentang persoalan "menuliskan" dan "menuturkan" gagasan yang ada.

Sesederhana apapun, gagasan (ide) selalu ada di dalam kepala manusia yang ingin disampaikan kepada orang lain. Umumnya kita terbiasa dengan budaya verbal sehingga banyak gagasan disampaikan secara lisan, misalnya cerita legenda, hikayat, dan cerita lisan lainnya yang turun temurun.

Sejarah mencatat, di Indonesia tradisi tulis-menulis muncul pada abad ke-empat dengan menggunakan aksara Pallawa yang berasal dari India Selatan. Peninggalan prasasti di kerajaan Kutai Kalimantan dan Tarumanagara Jawa Barat merupakan bukti sejarah.

Kembali ke topik bahasan. Gagasan-gagasan yang ada di kepala dilontarkan dalam bentuk pembicaraan, obrolan, bahkan gosip kepada orang lain. Panjang pendeknya pembicaraan tergantung kepada seberapa banyak gagasan tersebut. Benar tidaknya tergantung kepada seberapa banyak informasi sahih yang telah diperoleh, baik melalui mendengar maupun membaca.

Mengapa pembicaraan tersebut tidak dituliskan saja, agar terdapat jejak aksara yang dapat dinikmati oleh orang lain dalam waktu yang tidak terbatas dan juga bisa dibaca oleh banyak audiens?

Berikut disampaikan cara sederhana untuk menuliskan gagasan, apakah pada diary, buku tulis, blog, atau bahkan diterbitkan dalam bentuk buku.

Gagasan
Gagasan adalah hasil olah pikiran yang diperoleh dari perenungan atau muncul dari inspirasi sesaat. Gagasan bisa orisinal, buah pemikiran sendiri atau hasil adaptasi dari ide orang lain, yang penting bukan hasil plagiasi (nyontek). Segera gagasan tersebut dituliskan, kendati masih berantakan dan acak-acakan, yang penting tidak lenyap dari pikiran. Buat orang lain mengerti tulisan itu dengan menambah kosakata dan melakukan penataan gramatikal.

Penambahan Kosakata
Gagasan yang telah ditulis, agar dibaca kembali. Hindari pengulangan kata dan kalimat agar tidak "boros". Jika terpaksa ada kata yang berulang, cari persamaan kata. Tujuannya agar pembaca tidak cepat merasa bosan membacanya. Perkaya tulisan itu dengan kosakata yang enak dicerna. Untuk memperkaya perbendaharaan kata, mau tidak mau, seorang penulis harus rajin membaca buku. Kian banyak pustaka dibaca kian kaya kosakata yang dimiliki.

Menata Gramatikal
Bahkan gagasan yang ditulis secara acak-acakan telah mengandung tema tulisan. Tema inilah yang hendak disampaikan kepada pembaca. Penataan tata bahasa adalah memperbaiki tulisan berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penataan gramatikal akan mencakup penataan logika penyampaian sehingga pembaca mudah mengerti. Semakin bagus tata bahasa dan nalar penulisan, semakin mudah tulisan dipahami oleh pembaca. Perhatikan juga target pembaca yang dituju, bacaan remaja akan berbeda dengan karya tulis ilmiah.

Baca Berulang-ulang
Hasil karya tulis sebaiknya dibaca berulang-ulang, apakah masih ada persoalan gramatikal yang mesti disempurnakan, atau penalaran yang belum begitu pas, atau mungkin penambahan kosakata agar tulisan semakin cantik, atau bahkan mesti dikurangi karena terlalu boros.

Bacakan Kepada Kerabat atau Sahabat
Tulisan atau artikel yang sudah jadi, akan lebih baik jika dibacakan kepada kerabat atau sahabat. Tujuannya untuk memperoleh gambaran bahwa tulisan itu dimengerti, bukan untuk mengacak-acak dari nol. Tujuan terpenting adalah membuat orang lain nyaman dengan "mengobrolkan" tulisan, sebagaimana berbicara kepada temanmu.

Tulisan adalah Hasil Karya Berharga
Sesederhana apapun karya tulis, sejelek apapun karya tulis adalah hasil cipta pikiran yang kita sendiri bisa menghargainya. Ihwal penilaian orang lain adalah subyektif. Satu-satunya cara untuk menjadi penulis hebat adalah memulai menulis, sesederhana dan sejelek apapun hasil karya tulis itu. Dengan sering menulis, cepat atau lambat, hasil karya tulis akan semakin banya dibaca.

Jadi, berbicaralah kepada teman-temanmu tentang gagasanmu dengan tulisan dan ia akan menjadi hasil karya yang juga bisa dinikmati oleh orang lain, disamping melakukannya secara lisan.

Semoga bermanfaat.

18 komentar untuk "Menulis itu Seperti Berbicara dengan Temanmu"

Ayah Tuah 31 Mei 2020 11.00 Hapus Komentar
Mantap πŸ‘πŸ‘πŸ‘
Budi Susilo 31 Mei 2020 11.37 Hapus Komentar
Terimakasih Ayah
Warkasa1919 31 Mei 2020 16.27 Hapus Komentar
Mantap masπŸ‘ vote HL deh..πŸ˜‚πŸ™
Apriani1919 31 Mei 2020 18.19 Hapus Komentar
KerenπŸ‘
Budi Susilo 31 Mei 2020 19.43 Hapus Komentar
Terimakasih mas Warkasa
Budi Susilo 31 Mei 2020 19.43 Hapus Komentar
Terimakasih mbak Dinni
Widz Stoops 31 Mei 2020 20.21 Hapus Komentar
Keren iniih...
Anis Hidayatie 1 Juni 2020 03.36 Hapus Komentar
Sae ini mas.
Dewi Leyly 1 Juni 2020 03.39 Hapus Komentar
Apik sanget, pak Budi..πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘
Niek 1 Juni 2020 14.51 Hapus Komentar
Sangat bermanfaat Pak BudiπŸ‘
Budi Susilo 2 Juni 2020 06.59 Hapus Komentar
Terimakasih mbak Widz
Budi Susilo 2 Juni 2020 06.59 Hapus Komentar
Matur sembah nuwun Bu Anies
Budi Susilo 2 Juni 2020 06.59 Hapus Komentar
Terimakasih mbak Dewi
Budi Susilo 2 Juni 2020 07.00 Hapus Komentar
Terimakasih mbak Niek
Ari Budiyanti 4 Juni 2020 19.57 Hapus Komentar
terimakasih Pak Budi artikelnya bermanfaat sekali. salam hormat saya
Budi Susilo 5 Juni 2020 19.28 Hapus Komentar
Terimakasih sama-sama Bu Ari
Meduster 7 Juni 2020 23.38 Hapus Komentar
Keren semua
Budi Susilo 8 Juni 2020 16.28 Hapus Komentar
Artikel Bu Ester juga keren

Berlangganan via Email