Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Sang Ratu

Dokpri

*****

Di hari bahagiamu. Jangan pernah sekalipun engkau berpikir bahwa Aku akan pergi meninggalkanmu. Engkau adalah belahan jiwaku. Aku adalah Adam-mu dan engkau adalah Hawa-ku. Jika Aku adalah siang maka engkau adalah malam. Karena engkau dan aku tercipta untuk saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.
Engkau adalah Ratu di dalam kerajaan hidupku. Kerajaan yang tercipta dari kesedihan dan kebahagiaan yang telah lebur menjadi satu. Engkau adalah Ratu malam yang di takdirkan Tuhan untuk menjadi Mahkotaku. Sebab engkau adalah Wijaya Kusuma. Bunga yang di takdirkan untuk menemani kehidupanku.


“Kenapa engkau menangis? Apa engkau menyesal karena telah di takdirkan Tuhan untuk menjadi pendampingku?”

“Tidak! Aku menangis karena bahagia. Saat ini aku bagaikan tengah bermimpi. Hingga detik ini pun aku masih seperti tidak percaya, bahwa di kehidupanku yang kedua ini pun engkau masih berada di sini.” jawab Wanita cantik yang kupanggil Ratu itu sambil tersenyum menatapku.

“Begitupun aku,” bisikku pelan.

Kembali kukecup lembut bibir sang Ratu yang masih menangis sesegukan di bahuku.

"Jika ini adalah mimpi, aku tidak ingin terjaga saat ini." kata sang Ratu pelan.

"Tidak! Ini nyata. Rasakan debar jantungku, rasakan hangat tubuhku, rasakan hembusan nafasku. Aku ada di sisimu dan akan selalu ada untukmu. Hapus air matamu, walaupun tubuh ini kelak tidak lagi sepenuhnya menjadi milikmu, tapi rasa dan hatiku adalah milikmu. Begitupun hati dan rasamu. Engkau milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku."

*****
"Berjanjilah,"

“Berjanji untuk apa?” tanyaku sambil menatap paras cantik wajah sang Ratu di sebelahku.

"Berjanjilah padaku, bahwa apapun yang akan terjadi, engkau tidak akan pernah meninggalkanku."

"Iya, Aku berjanji.” jawabku pelan, sambil tersenyum dan mengecup pelan kening sang Ratu.

*****
Malam ini adalah malam kelahiran sang Ratu. Dan di hari bahagianya itu Aku ingin menjadi orang yang pertama kali mengucapkan selamat untuk kebahagiannya itu. Tujuh tahun, Delapan puluh Empat bulan. Tiga Ratus Tiga Puluh Enam Minggu, Dua Ribu Lima Ratus Lima Puluh Lima Hari. Enam Puluh satu Ribu Tiga Ratus Dua Puluh Jam, Tiga Juta Enam Ratus tujuh Puluh Sembilan ribu Dua Ratus menit dan Dua Ratus Dua Puluh Juta, Tujuh Ratus Lima Puluh Dua  Ribu Detik Aku  dan sang Ratu telah menyatu di dalam ikatan suci. Ikatan suci yang terucap di hadapan Ilahi.

“Aku adalah cermin-mu, dan engkau adalah cermin-ku. Jauh sebelum engkau dan aku terlahir kedunia, aku adalah Adam-mu dan engkau adalah Hawa-ku. Dan jauh sebelum Tuhan menciptakan Dunia, dahulu kita telah menyatu di dalam Surga.

Aku adalah Fajar. Sang penggerak kehidupan yang ada di Dunia. Dan engkau adalah sang Ratu.  Ratu yang menyelimuti malam dengan kegelapan. Ratu yang menyelimuti anak--anak manusia saat tengah terlelap di alam mimpi. Ratu yang menjadi menjadi penyeimbang bahwa akan ada kematian setelah kehidupan. Ratu yang menjadi simbol gelapnya malam. Gelapnya malam yang di takdirkan mengiringi teriknya cahaya siang.

Kita adalah siang dan malam yang di ciptakan Tuhan sebagai wujud dari keseimbangan. Keseimbangan yang menjadi simbol dari ciptaan yang selalu berpasangan. Bahwa ada gelap setelah terang, begitupun sebaliknya.

Jika engkau adalah simbol kesedihan maka Aku adalah simbol  dari kebahagian. Dua simbol yang menjadi putaran roda--roda kehidupan. Dua simbol yang akan selalu ada hingga akhir zaman.

Untukmu yang selalu kupanggil Ratu. Hapus air matamu. Lepaskan sesaat jubah malammu, jubah yang menjadi simbol kesedihan di antara kebahagian.

Hari ini adalah hari bahagiamu. Langkahkan kedua kakimu. Lihat Aku dan Sang Waktu yang berdiri tegak menantimu di tempat ini.


****
Lihatlah siapa yang berdiri di antara Aku dan Sang Waktu. Lihatlah kebahagian yang tengah menanti kedatanganmu di tempat ini.

Engkau kaget melihat kebahagian yang tengah tersenyum sambil menghampirimu itu ternyata begitu mirip dengan dirimu yang sejati? Lihatlah bibirnya yang tersenyum ramah melihatmu, lihatlah kedua bola matanya yang begitu mirip dengan kedua bola mata indahmu.

Engkau kaget melihat gadis kecil itu mampu berjalan seimbang di antara kebahagiaan dan kesedihan?

Sambutlah Putri Mahkota yang tengah berjalan menghampirimu. Dia adalah perpaduan antara engkau dan aku. Perpaduan antara kesedihan dan kebahagian yang telah menyatu. Putri cantik yang menjadi Simbol bahwa engkau dan Aku pernah ada. Bahkan nanti jika Dunia ini sudah tak lagi ada.

-Sekian-
Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon dimaafkan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Posting Komentar

15 Komentar

  1. Ngucapinnya nnt tangggal 4 yaaa😁😊😊😊

    BalasHapus
  2. Ratu yang mana nih yg Ultah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ™„ratu yang mana yaπŸ˜…πŸ˜‚πŸ™

      Hapus
  3. Ratu yang mana nih yg Ultah?

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. Yuuk makan - makan... ☺️πŸ˜‚πŸ™

      Hapus
  5. Selamat ulang tahun putri mahkota...πŸŽ‚πŸ°

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih tante Dewi☺️πŸ˜‚πŸ™

      Hapus
  6. Balasan
    1. Silahkan masuk 😁

      Hapus
    2. Silahkan masuk.. mau minum apa? Kopi susu apa kopi hitam atau air putih tanpa kopi tanpa susuπŸ™„πŸ˜‚πŸ™

      Hapus
    3. Masuk ke kamarku yaak.. kita baca baca..

      Hapus
  7. Asyik ada yg ultah. Makan-makan nih

    BalasHapus