Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rumah (Tanpa) Cerita


Pixabay

Samar-samar terdengar azan subuh dari masjid yang jauh dari rumah. Angin telah membawa suaranya hingga ke gendang telingaku.
Seperti biasa aku membuka jendela kamar,  terlihat langit dengan bintang timur yang mengerling padaku, masih gelap tapi aku suka aroma embun,  sebelum mentari mengucapkan selamat pagi. 

Menikmati pekarangan samping rumah yang ditanami singkong dan tomat ada pohon belimbing yang mulai berbunga. 
Aku beringsut menuju kamar mandi yang terlrtak di luar rumah. Ibu sedang menyiapkan sarapan, kulihat tungku perapian yang membara. Kami memanfaatkan kayu dari pohon asem yang ditebang di pekarangan belakang,  lumayan bisa menghemat bahan bakar yang masih menggunakan minyak tanah. 
Kunikmati udara pagi usai mandi melihat tomat yang mulai berbuah,  langit di timur sudah menguning,  rimbunan bambu meliuk-liuk tertiup angin. Kendaraan mulai berseliweran di jalan protokol depan rumah. Aku mulai mengayunkan sapu menyentuh dedauan yang luruh ke tanah lalu membakarnya.

Aku suka rumah ini,  walau terbuat dari kayu dan beralas tanah,  dengan jendela kaca yang lebar di depan dan samping. Aku bisa leluasa memandang di luar rumah. Ketika hujan aku akan berlama-lama duduk di depan jendela menikmati rintik air yang jatuh ke bumi, lalu membuat lukisan dan tulisan pada kaca yang berembun. Sambil menerawang pada masa depan,  akan kah aku mempunyai rumah seperti ini? 

Kututup album kenangan penuh cerita dan kisah cerah atau abu abu, ketika zaman belum berubah seramai dan serumit saat ini. Kini tak kudapati rumah seperi dulu, tak bisa kulihat hujan dari balik jendela kaca,  tak juga kunikmati bintang timur sebelum mentari mengucap selamat pagi. Kutempati rumah tanpa cerita jendela kaca dan pekarangan. 




Beranda,  11.04.2020
swarnahati 

Swarna
Swarna Mau panjang atau pendek terserah

3 komentar untuk "Rumah (Tanpa) Cerita"

Berlangganan via Email