Header Atas - Panjang

Menantimu

Dokpri Warkasa1919



Hari-hari yang aku jalani saat ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Kota yang kutinggali saat ini termasuk zona merah akibat Pandemi. Aku perhatikan, hal yang paling mencolok semenjak musim Pandemi ini adalah jauh sekali berkurangnya para pengunjung ke warung kopi ini, tempat yang biasa aku pakai untuk melepas penat dan juga rindu.

Semenjak wabah Corona ini merajalela, hal yang membedakan hari ini dengan hari sebelumnya hanyalah sepucuk surat ini. Sepucuk surat yang aku terima dari seseorang yang jauh di mata namun terasa begitu dekat di hati ini seperti telah menumbuhkan semangat yang baru buatku.

Hari – hari yang kujalani semenjak musim virus Corona ini merajalela di tempat ini masih seperti biasa, hanya saja saat ini lebih banyak berdiam diri di dalam rumah, mengikuti anjuran pemerintah.

Selepas adzan ashar berkumandang dari mushola yang terletak persis tiga rumah dari tempat tinggalku saat ini, melalui seorang kurir, surat ini kuterima.

Dari sampul dan alamat pengirim surat ini berasal, aku tahu bahwa surat ini berasal dari Wanita cantik berkacamata yang memiliki tubuh tinggi semampai, wanita yang selalu terlihat begitu anggun dan seksi dimataku.

Di awal kalimat surat ini, ia buka dengan mulai bercerita. tentang suatu masa, dimana, dulu aku selalu mengajaknya untuk mencicipi secangkir kopi susu bersamaku.

Membaca kata demi kata yang tertulis begitu rapi diatas kertas berwarna merah jambu ini, aku seperti tengah mendengarkan wanita cantik yang memiliki tinggi badan 170 cm itu tengah bercerita sambil sesekali menyeka air mata di depanku.

Dan menatap lembaran kertas ini aku seperti tengah menatap wajah yang aku tahu bahwa hingga hari ini ia masih menantikan kehadiranku di dekatnya.

Di pergantian waktu, aku dan wanita yang tengah menangis sambil menuliskan surat ini pernah meyeruput secangkir kopi susu di tempat ini. Saat itu bekas bibirku dan bibirnya pernah menyatu di cangkir kopi yang saat ini tengah berada di dalam genggamanku.

Di lembar terakhir surat ini ia berkata,”Aku selalu ingin kembali mereguk kenikmatan kopi susu bersamamu.”



Dan dari surat ini, aku tahu, bahwa hingga detik ini ia masih tetap menanti kehadiranku di dekatnya. Seperti aku yang selalu berharap untuk selalu bisa berada di dekatnya.

-Selesai-





Posting Komentar

7 Komentar

  1. Mantap cerpennya πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi..makasih..makasih..πŸ˜‚πŸ™

      Hapus
  2. Walaupun aku berkacamata, yang jelas wanita dicerpen ini bukan aku, karena tinggiku bukan 170cm ha..ha,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ™„ kupikir tinggi badan mbak Widz 170 cm, ternyata bukan yaπŸ™„πŸ˜‚πŸ™

      Hapus
  3. Yesss... Keren....!!πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik.. ada peri gigi nongol disiniπŸ˜‚πŸ™

      Hapus