Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Episode Kecil pada Suatu Senja yang Basah

Ilustrasi. Sumber: Pixabay.com 

"Kafein dapat membuat jantung melompat-lompat."

Katamu, pada suatu senja yang basah. Juga bibirmu. Dan deretan gigimu yang rapi. "Ini sudah gelasmu yang ketiga," lanjutmu lagi sambil merapikan anak-anak rambutmu yang jatuh di kening. 

Pendingin ruangan terasa makin menggigit. Sementara di luar pun gerimis belum reda. Pelayan berseliweran mengantar minuman. "Kentang gorengmu tidak dihabiskan?" 

Kamu hanya senyum tipis, seraya membetulkan krah sweatermu. Di sudut ruangan Shawn Mendes dan Camila Cabello melompat dari speaker stereo, suara mereka menghentak lembut. Senorita membuat jemariku mengetuk-ngetuk meja. "Ngliatin apa, sih?" tanyamu.

"Matamu. Aku baru berpikir, kukira, matamu masuk tiga besar terindah di dunia."

"Penyair memang paling bisa kalau untuk nggombal. Heh, kamu masih menulis puisi?"

"Sampai setengah tahun ke depan kayaknya,  nggak."

"Nggak? Kok pake target waktu?"

"Aku selalu gagal menulis puisi kalau ingat kamu. Kamu sendiri, dari ujung rambut hingga ujung kaki, adalah puisi tersendiri. Puisiku nggak bisa menandinginya."

Kamu memeletkan lidah.                 

"Boleh minta tolong?"

"Apa?"

"Boleh minta mata kamu?"

"Ih, kamu makin ngawur."

"Aku serius. Itu untuk anakku."

Kamu gemetar. "Jadi, jadi..., kamu sudah punya anak?" 

Aku menggeleng. 

"Aku nggak mengerti."

"Ya, anakku. Anakmu. Anak kita nanti. Aku ingin matanya seperti matamu. Kamu mau?" kataku sambil meletakkan kotak kecil berbalut beludru merah. 

Aku membukanya. 

Kamu terpana melihat sebentuk cincin di dalamnya. 

"Ka-kamu...?"

Aku mengangguk. 

Matamu berkaca-kaca. Tapi bibirmu tersenyum. 

***

Cilegon, 2019. 


Catatan. 
Cerpen ini pernah tayang di Kompasiana. 

Posting Komentar

10 Komentar