Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Cerita Waktu Karantina Mandiri




"Nak,  Nak jangan main jauh-jauh dulu lah,  ini bukan bulan libur sekolah,  kamu harus tetap belajar di rumah, banyak tugas."

"Hla kenapa kog gak boleh bermain?"

"Wabah Corona sudah merata di seluruh dunia, semua dihimbau untuk tinggal di rumah masing-masing, kamu harus patuh, gak boleh marah."

"Hla,  aku kan bosan bu,  tadi mau diajak main sama teman."

"Haduh,  tugas belum dikerjakan, sarapan juga belum kog bingung sama temannya. Nanti kalau temannya ke sini ibu kasih tau ya."

"Covid19 kog belum hilang juga ya Bu, kapan selesainya? Ayah juga masih kerja gak anteng di rumah saja."

"Nah itu dia,  kalau pegawai pemerintah bisa Work From Home,  kalau anak sekolah Study From Home,  kalau ayah kerjanya swasta kalau rejeki gak dijemput gak bisa beli beras."

"Owh"

"Mangkanya kamu harus rajin dan tekun belajar supaya pintar,  kelak kalau sudah besar bisa mempunyai pekerjaan bagus,  punya sawah ladang sendiri,  bisa ditanami palawija,  padi dan lain-lain untuk kebutuhan pangan."

"Nah,  kalau nanti misal Covid gak hilang bagaimana?"

"Gak tahu juga Nak,  bisa-bisa manusianya yang habis."

"Waduh, terus bagaimana  Bu?"

"Mangkanya yang patuh, kalau bukan urusan penting tidak usah keluar, walupun begitu di rumah tetap jaga kebersihan."

"Bagaimana, Bu?"

"Sering cuci tangan pakai sabun, jangan malas,  berjemur biar badan tidak lesu jam 07.00 sampai 09.00, sinar matahari bagus untuk badan,  sambil olahraga,  gerak badan,  makan yang bergizi, bahagiakan hati,  yang sabar tidak boleh marah,  semua juga ada di rumah kog,  kalau ada kepentingan keluar pakai masker ya,  kalau sampai rumah segera ganti baju,  lalu dicuci. Ngerti nggak? Kalau masih ndak ngerti entah sudah."

"Enak di desa ya,  kalau bosan bisa jalan-jalan ke sawah.  Hla kalau di perumahan sini portal ditutup semua katanya lock down."

"Iya, di desa enak tidak bingung virus, tapi yang dari kota ke desa harus hati-hati,  khawatir virusnya ngikut,  kasihan yang di desa. Sudah keburu siang nanti belum ngerjakan tugas sudah ngantuk. Ibu mau nyuci dulu kalau ada yang tidak bisa,  ditanyakan."

"Nggih."

"Ingat,  jangan bersin sembarangan,  ditutup dengan tangan lalu langsung cuci tangannya,  kalau matanya gatal sekwra cuci muka,  virus bisa masuk lewat lupang hidung,  mata dan mulut, jadi hati-hati jangan meremehkan. Pesan Nabi anazofatu minal iman,  kebwrsihan itu bagian dari iman,  nah buktikan sekarang. Dilarang jorok."

"Kemari ada yang meludah sembarangan di depan rumah."

"Kasih tahu,  tidak peduli walau orang tua,  biar gak jorok gitu. Karena penularan virus melalui cioratan ludah,  yang bisa menempel dimana saja."

"Iya."

"Terus wabah ini kapan selesainya? Sebentar lafu puasa Ramadan lalu Lebaran,  bagaimana? Kepingin ketemu mbah putri."

"Berdoa yang banyak,  istighfar ya, tinggal lomoat saja ke rumah mbah."

"Bawa semprotan yang banyak."

"Iya."

"Hla saudara yang dari Jakarta bagaimana?"

"Kasihan juga nanti bagaimana ya,  di sana sudah gak dapat pekerjaan."

"Halah,  gak tahu, pening Bj

"Halah kirangan kah mumet Bu."

"Eh,  harusnya ibu yang bilang begitu,  Sudah ah ngobrol sampai azan zuhur. Segera solat."

"Iya."




Beranda ngopi, 08.04.2020
_______________________
Catatan: tulisan ini adalah terjemahan dari konten cerpen "Mangsa  Karantina Mandiri" yang tayang di Kompasiana dalam bahasa Jawa. 

Posting Komentar

3 Komentar