Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bergaul dengan Santun

Merdeka.com

Hari ini, setelah selesai  aktifitas di dapur dan bersih-bersih diri, aku iseng mengecek  jumlah WAG alias grup di gawaiku,  wah ternyata ada 60 grup. Padahal aku sudah hapus grup yang dianggap tidak perlu. Kalau tidak dihapus bisa dibayangkan,  lebih dari 60 grup yang aku punya.

Setiap grup aku pelajari dulu, siapa saja yang bergabung di grup itu, dan aku memposisikan diri dengan siapa aku bergaul.

Macam-macam kriteria yang aku  temukan di setiap grup, dari 60 grup, ada 18 grup literasi. Di grup literasi yang aku ikuti,  kebanyakan mereka  senang meng-share hasil karya sendiri dan senang jika diapresiasi orang lain, tapi kurang suka  mengapresiasi karya orang lain, ini masih  sering aku temui. Tapi biarlah aku tak memikirkan orang yang tidak peduli.

Sering kali orang-orang yang mengapresiasi karya kita itu orang jauh, di luar lingkungan kita,  kalau di lingkungan sendiri  jangan harap mereka senang kita mengirim  karya, seringnya karya kita dianggap tidak ada.

Aku selalu lihat situasi kalau mau mengirim tulisan, karena ada grup Kepala Sekolah ketika ada teman sering ngirim tulisannya, ehhhh sama senior malah disindir-sindir, jadi aku putuskan seperlunya kalau mau mengirim karya di sana, tapi yang anehnya sesama penulis juga ada yang seperti itu ketika orang lain mengirim karyanya dianggap tidak ada, kalau dia setiap saat mengirim karyanya, kalau dia  dianggap senior di grup itu langsung deh pada muji, tapi kalau masih junior di lewat saja hehehe, jadi curhat, ga apa-apa ya?.

Begitupun ketika bercanda, karena dari candaan orang dapat menilai sifat asli  kita seperti apa, jangan sampai candaan kita kebablasan dan memancing ke arah  negatif atau mesum. Kalau laki-laki mungkin dianggap biasa tapi kalau perempuan? Entahlah.

Dari grup yang aku ikuti, gegara candaan yang kelewatan sampai ada teman yang keluar  grup dan tidak mau gabung lagi, karena tidak berkenan dengan candaan di grup yang dianggap diluar batas dan merasa tidak nyaman, aku hubungi temanku kenapa keluar grup karena itu grup alumni, dia curhat bla...bla...bla  dia jadi baper.

Jadi menurutku,  biarkan grup itu  untuk ajang silaturahmi bukan untuk memecah belah pertemanan. Dan menempatkan diri kita berada dimana dan bergaul dengan siapa.

Mohon maaf ini sekedar nasehat untuk diri sendiri.

Adsn1919

Apriani1919
Apriani1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam karena itu membuat aku tiada secara perlahan

15 komentar untuk "Bergaul dengan Santun "

  1. Kalau aku, juga sering baper an... eh, maksudnya sering laper... apalagi kalau temen temen nulis artikel kuliner... hix hix... harus siap siap masker (biar mulut berhenti mengunyah)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku bagaimana dong mba, mohon maaf ya jika jarang interaksi πŸ€—πŸ˜„

      Hapus
    2. Sama donk Ba-Per alias bawaan laper terus πŸ˜‚

      Hapus
    3. Tenang saja mba Ester aku juga banyak kelewat ga bisa disapa semua πŸ˜‚

      Hapus
  2. Waah aktual nihπŸ˜‚πŸ˜πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ pengalaman disetiap grup beda2 dengan sifat orang beda2 πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜€

      Hapus
  3. Ayo nulis cerpen lagi yah 😁

    BalasHapus
  4. Ha ha ha setiap orang punya gaya masing-masing
    Mau baperan atau tidak sebaiknya kita hargai, mau tetap tinggal atau keluar pun kita hargai, merdeka buat setiap orang untuk memilih

    Aku kira begitu. Jadi ketika ada yang keluar grup, tidak perlu memandang dari sisi negativ yang kita bangun.

    Belajar membangun siai positif itu lebih bermanfaat

    Ok leskooo be positive

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan berfikir negatif say, ini pengalaman teman SMP di grup 😁😁 di grup alumni harus kebal jadi ini Bukan berasumsi 😁 aku nanya sama dia karena teman dekat akuπŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
  5. Mbak.. kalo ada grup yang mo bagi2 duit, daftarin aku yaa πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi iya nnt aku cari grup yang bagi2 uang😁😁

      Hapus

Berlangganan via Email