Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Work From Home, Diantara Dapur Ngebul dan Risiko Corona


HIMBAUAN Presiden Joko Widodo untuk belajar, beribadah serta bekerja di rumah (work from home) memantik pro kontra. 

Di satu sisi bisa dipahami bahwa maksud Jokowi ini adalah demi kebaikan bersama dalam menanggulangi, menangani dan mencegah semakin meluasnya pandemi virus corona (covid-19). 

Hingga tulisan ini di posting, merujuk pada informasi yang disampaikan pemerintah melalui juru bicara khusus penanganan virus corona, Achmad Yurianto, jumlah kasus yang positif terinfeksi virus asal Wuhan, Provinsi Hubei China ini adalah 172 pasien. Lima diantaranya dinyatakan meninggal dunia dan delapan orang berhasil disembuhkan. (Kompas.com).

Dengan jumlah total yang terkomfirmasi positif itu memang tak bisa disangkal cukup mengkhawatirkan dan tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan terus meningkat.

Sebagaimana diketahui, virus corona mulai ditemukan penyebarannya di Indonesia sejak Presiden Jokowi mengumumkan dua Warga Negara Imdinesia (WNI) asal Depok, Jawa Barat, per 2 Maret 2020 lalu. Sejak itu penyebaran pandemi virus covid-19 sulit dikendalikan. 

Dalam rentang waktu 16 hari, pasien positif virus ini bertambah 170 pasien atau jika dirata-ratakan mencapai 10 kasus lebih per hari.

Berkaca pada kasus di atas, dimana terjadi lonjakan jumlah pasien positif virus corona cukup signifikan. Hal lumrah jika pemerintah mengambil langkah untuk membatasi pergerakan atau interaksi warga. 

Hal ini tentu saja guna meminimalisir penularan virus corona dimaksud. Karena pergerakan atau penyebaran virus ini rentan terjadi pada interkasi atau kontak langsung secara fisik, antara si pihak yang terindikasi pisitif dengan pihak lainnya.

Mungkin, sistem work from home atau bekerja di rumah ini sebagai langkah efektif dan efisien guna membatasi penularan dan tidak berpengaruh signifikan terhadap warga masyarakat yang memiliki pendapatan bulanan. 

Warga masyarakat seperti ini setidaknya tidak lagi memikirkan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari selama sistem ini diberlakukan. 

Tapi, bagaimana dengan nasib jutaan penduduk tanah air lainnya yang menggantungkan hidupnya dari sektor informal, seperti buruh lepas, sopir angkot, Ojol, dan para pedagang kecil.

Sudah bisa dipastikan dengan diberlakukan work from home ini menjadi kerugian tersendiri. Pasalnya, secara langsung telah menghambat dan memutuskan income atau pendapatan mereka.

Setidaknya, keluhan tersebut penulis dapatkan dari beberapa pedagang kecil yang berhasil diajak ngobrol. Mereka menjerit dan bingung memikirkan nasibnya jika hal ini terus terjadi dengan waktu yang cukup lama. 

"Pami kieu teras, bisa-bisa dapur moal ngebul, kang." ( Kalau seperti ini terus (work from home) bisa-bisa dapur tidak ngebul, kang).

Keluhan di atas jelas hanya sebagian kecil. Penulis yakin di luar sana masih sangat banyak warga masyarakat yang bergerak pada sektor informil merasakan hal serupa.

Artinya, hal ini jangan sampai luput dari perhatian pemerintah. Jangan hanya ingin menghindar dari "cengkraman" penyebaran virus corona lantas harus mengorbankan sendi-sendi kehidupan lainnya.

Penulis sadar bahwa ini jadi dilema bagi pemerintah. Satu sisi harus mampu memproteksi atau melindungi warganya terhadap penyebaran virus covid-19. 

Tapi, pemerintah pun harus bisa memikirkan bagaimana nasib jutaan penduduk lainnya yang penghasilannya kembang-kempis dari hasil harian. Jangan sampai terlepas dari virus corona malah terjebak pada masalag baru, kemiskinan akut.

Untuk itu, penulis sangat berharap, sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait work from home juga diimbangi dengan kebijakan lain yang tidak membuat rakyat susah semakin susah. 

Masalahnya kebijakan yang diberlakukan dua pekan terhitung dari 16 maret, mungkin saja bisa diperpanjang jika ternyata virus covid-19 masih terus merajalela dan semakin menelan banyak korban. Ini dipastikan akan membuat masyatakat semakin sulit.

Lalu, apa yang harus dilakukan pemerintah? 

Merujuk pada usulan Ketua Umum (Ketum) Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie supaya pemerintah memberikan bantuan langsung tunai alias BLT terhadap masyarakat yang berpenghasilan harian patut dipikirkan pemerintah. 

Menurutnya hal itu adalah yang paling cepat membantu masyarakat melewati masa-masa sulit seperti saat ini.

Dilansir suara.com, usulan Grace di atas diungkapkan melalui akun twitter pribadinya, Selasa (17/3/20).

Masih dilansir Suara.com, mantan reporter atau pembawa acara salah satu TV Nasional ini juga mengapresiasi langkah Presiden Jokowi yang menghentikan rencana kunjungan kerja dan perjalanan dinas pemerintah.

Dalam kesempatan itu, Grace meminta agar  anggaran yang sebelumnya digunakan untuk melakukan perjalanan dinas bisa dimanfaatkan untuk membeli alat uji virus.

"Dana tersebut bisa digunakan untuk program BLT sekaligus membeli alat uji vrus corona sebanyak-banyaknya, agar masyarakat bisa memeriksakan diri secara gratis."

Boleh jadi apa yang diungkapkan Grace Natalie tersebut berbau pesan politik guna mendapat simpati massa. 

Kendati demikian, terlepas ada atau tidaknya kepentingan politik, apa yang diusulkan Grace rasanya perlu disikapi dan dipikirkan serius oleh pemerintah. 

Memang bukan hal mudah, tapi langkah ini patut diupayakan. Tentunya pemerintah tidak ingin, masyarakat lepas dari virus corona tapi tingkat angka kemiskinan meningkat.

Sebagai penutup, sekali lagi penulis berharap pada pemerintah, tolong pikirkan bagaimana caranya dapur masyarakat tetap ngebul dan virus corona pun "angkat kaki" dari tanah air. Terimakasih.

Salam




5 komentar untuk "Work From Home, Diantara Dapur Ngebul dan Risiko Corona"

  1. Waah.. harusnya ada tombol buat vote 'aktua'l nih🙄😁

    BalasHapus
  2. Akhirnya muncul juga 😁

    BalasHapus
  3. Puyeng juga klo kelamaan, bagi yang kerjanya ketemu orang..

    BalasHapus
  4. Semoga segera usai wabah ini, kasihan rakyat kecil.
    Yang berduit nasih bosa tersenyum kenyang yang enggak? Meriang

    BalasHapus
  5. Iya pengen kerja keluar rumah lagi. Ngajar di sekolah. Semoga segera berlalu wabah ini

    BalasHapus

Berlangganan via Email