Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Semprul dan Wanita Malam




 Gambar: perwara.com



*****
Gedebluukk

"Aaaa...,"

"Maaf..,"

"Mas siapa?"

"Semprul,"

"Asem! Ditanya kok malah mengumpat,"

"Maaf,"

"Iya, aku maafkan. Tapi Mas siapa?"

"Semprul,"

"Ndablek! Udah di maafkan kok malah mengumpat lagi,"

"Namaku Semprul Mbakyu,"

"Oalaah.. Tak pikir Mas mengumpat barusan,"

"Dimana aku?"

"Di atas tempat tidurku,"

"Iya, aku tahu ini tempat tidur Mbakyu. Maksudnya, sekarang ini aku lagi berada di mana? kok kedengarannya ribut banget suara musik di luar sana,"





"Kampung Cinta,"

"Kampung Cinta?"

"Iya, nama tempat ini adalah Kampung Cinta. Mas bisa memilih siapa saja untuk Mas cintai, dan Mas juga bisa mencintai siapa saja di sini,"

"Siapa saja?"

"Iya,"

"Termasuk Mbakyu?"

"Iya, Mas."

"Memangnya nggak ada yang marah kalau aku mencintai Mbakyu?"

"Nggak ada. Tapi aku yang bakal marah, kalau Mas Semprul nggak mau bayar setelah nanti bercinta denganku di sini,"

"Bayar?"

"Iya,"

"Jadi untuk mencintai Mbakyu aku harus bayar berapa?"

"Tergantung Mas Semprul mau pilih paket cinta yang mana?"

"Paket cinta?"

"Iya,"

"Seperti iklan Kentucky Fried Chicken aja pake paket segala?"

"Memang begitu aturan yang berlaku di Kampung Cinta ini. Terserah Mas Semprul mau pilih paket yang mana? Kalau paket dada Rp.50 ribu, dan kalau mau paket dada sama paha sekaligus cukup Rp.100 ribu saja, tapi itu cuma Sortem!"

"Apa itu Sortem?"

"Sorong di Tempat. Tidak di dalam kamar ini, noh di belakang pohon, di luar sana hi..hi..,"

"Maksudnya?"

"Hadeehh, susah memang kalau menawarkan jasa sama pelanggan baru. Mesti banyak-banyak bersabar..,"

"Maksudnya?"

"Geblek ah! Sebenarnya Mas ini siapa sih?"

"Aku Semprul Mbakyu,"

"Iya, aku tahu! Mas ini memang betul-betul Semprul. Maksudku Mas ini dari mana? Kok tiba-tiba bisa jatuh di atas tempat tidurku,"

"Aku dari Alam Rasa,"

"Apa itu? Maksudnya, Mas berasal dari kota yang bernama Alam Rasa? Kok kayaknya aku nggak pernah dengar ada nama kota itu didekat-dekat sini ya?"

"Yah begitulah kira-kira. Tempatnya jauh dari sini Mbakyu,"

"Terus, kok tiba-tiba bisa jatuh disitu?"

"Tadi sebenarnya aku mau pergi ke tempat kasus dugaan prostitusi online yang melibatkan artis peran VA itu. Aku penasaran mau lihat barang-barang pribadinya,"

"Mas mau lihat barang pribadi VA?"

"Menurut berita yang kubaca di beberapa media. Barang-barangnya itu, seperti kacamata, ponsel i-Phone X, satu kotak alat pengaman kontrasepsi serta celana dalamnya itu sekarang ini sudah di sita oleh pihak yang berwajib,"

"Terus Mas pingin liat barang-barang sitaan?"

"Bukan, aku penasaran sama barang pribadi seharga Rp.80 juta itu seperti apa,"

"Memang dasar Semprul tenanan Mase iki. Hi..hi..Bentuk barang pribadiku palingan juga nggak jauh beda sama bentuk barang pribadinya VA. Mas arep ndelok po?"

"Hemmm,"

"Kok hem, tapi aku penasaran, kok tiba-tiba Mas bisa jatuh di atas tempat tidurku? Apakah Mas ini adalah orang yang di kirimkan oleh Tuhan untuk menjawab doa-doaku semalam?"

"Menjawab doa?"

"Sudah beberapa malam ini aku sepi pelanggan, dan tadi malam aku berdoa sambil menangis. Semoga saja Tuhan berkenan mengirimkan seorang pelanggan satu saja ke kamarku malam ini,"

"Maksudnya?"

"Mas ini ndablek tenanan ya? Dari tadi aku sudah menjelaskan panjang lebar kok masih nanya maksudnya?"

"Aku bingung,"

"Aku juga bingung lihat Mas tiba-tiba saja jatuh di situ, untung tadi aku nggak sedang tidur-tiduran di atasnya,"

"Memang kenapa?"

"Aku kan jadi enak kalau Mas sampai jatuh menimpaku tadi, hi..hi.. Wes ah, sampean ini memang betul-betul Semprul tenanan ya, kebanyakan tanya. Jadi nggak nih?"

"Jadi apa Mbakyu?"

"Oalah... Ngapain Mas kesini kalau nggak jadi 'make' aku,"

"Maksudnya?"

"Sekarang Mas Semprul mau ambil paket yang mana? Kalau paket hemat harganya seperti yang aku sebutin tadi. Kalau mau paket spesial tinggal nambah Rp.300 ribu lagi, Mas bisa 'make' aku sepuasnya,"

"Waduh.. Aku nggak bawak duit Mbakyu,"

"Terus ngapain Mas jatuh kesitu kalau nggak bawak duit? Asem tenan!"

"Aku juga bingung, kenapa aku bisa jatuh di situ..,"

"Mas aja bingung, apalagi aku? Atau jangan-jangan Mas ini adalah Jin Tomang yang mau gangguin aku ya?"

"Bukan Mbakyu. Aku semprul,"

"Dasar Jin Semprul. Yo wess lah, kadung Mas sudah jatuh di atas tempat tidurku, dan aku juga sudah beberapa malam ini nggak dapat pelanggan, malam ini tak kasih diskon deh!"

"Maksudnya?"

"Mas boleh 'make' aku, hutang dulu nggak apa-apa. Tapi janji ya, nanti kalau sudah punya uang Mas bayar."

"Aku takut,"

"Takut apa? Takut di gerebek kayak artis Va itu? Tenang saja, kalau disini mah aman. Kami nggak pernah nunggak bayar setoran,"

"Aku takut dosa Mbakyu,"

"Dasar Semprul! Kalau takut dosa ngapain Mas datang ke tempat ini,"

"Gimana kalau kita ngobrol-ngobrol saja Mbakyu, nanti aku kasih tips deh,"

"Aku harus bayar sewa kamar ini permalamnya Rp.100 ribu Mas,"

"Artinya dalam sebulan untuk sewa kamar ini Mbakyu harus mengeluarkan Rp.3 juta? Kenapa nggak ngontrak rumah di luar saja? di luar sana dengan dengan uang sejuta Mbakyu sudah bisa mengontrak rumah bulatan, nggak cuma dapat  satu kamar yang isinya cuma ada satu tempat tidur kayak gini"
"Nggak bisa Mas, aku sudah terlanjur ada hutang sama Mami di sini,"

"Siapa itu?"

"Orang yang mengajak aku kesini. Dulu pas mau berangkat, aku ninggalin uang di kampung Rp. 10 juta buat biaya anakku yang Masih sekolah. Terus buat ongkos kemari dan sewa kamar ini permalamnya, sama buat kebutuhan makan dan minumku, total hutangku semua adalah Rp.30 juta dan belum bisa kulunasi sampe sekarang. Kalau aku mau pindah dari kamar ini ya aku harus bayar dulu semua hutang-hutangku sama Mami,"

"Ehm,. Maksudku sewa kamar Rp.100 ribu permalam itu menurutku kemahalan buat keadaan kamar ini, kamar mandinya saja di luarkan? Aku biasanya dengan Rp.150 ribu kadang malah dapat kamar yang sudah ber  Ac. Dan jug ada TV dengan kamar mandi berada di dalamnya,"

"Ya, kan beda situasinya Mas?"

"Maksudnya?"

"Mas kan nggak ada ngutang di situ? Kalau aku kan udah terlilit hutang duluan, jadi mau nggak mau ya berapa pun tarif yang di kasih oleh mami terpaksa aku terima,"

"Kenapa Mbakyu bisa sampe ke tempat ini?"

"Panjang ceritanya, awalnya dulu mami bilang pas menjemput aku di kampung dia bilang mau Masukin aku kerja ke tempat salon kecantikan, nggak tahunya malah di bawa ke tempat ini, dulu pas baru nyampe di tempat ini aku menolak pas di suruh melayani lelaki hidung belang. Ketika itu mami marah besar, dia minta aku lunasi semua hutang-hutangku saat itu juga yang katanya uangnya sudah habis Rp.20 juta, buat uang tinggalan di kampung dan ongkos membawaku kemari,"

"Tadi Mbakyu bilang buat tinggalan di kampung Rp.10 juta, memangnya kampung Mbakyu di mana kok sampe habis Rp.10 juta cuma buat ongkos kemari?"

"Ya itulah Mas, aku juga nggak habis pikir kenapa bisa jadi Rp.20 juta, padahal setahuku ongkos dari kampungku kemari nggak sampe sejuta,"

"Hemmm, kenapa Mbakyu nggak coba lari dari sini?"

"Itu sama saja dengan bunuh diri, dulu pernah ada yang mencoba lari dari sini, pas ketangkap langsung di pukulin sama tukang pukul yang menjaga tempat ini. Tempat ini di jaga oleh banyak Preman, kemarin aja ada tuh pelanggan temanku yang mereka pukulin sampe babak belur, karena siap minum dan 'make'cewek di tempat ini gak bayar,"

"Waduh.. Berarti aku bakalan di pukulin nih, karena nggak bawak duit ke tempat ini,"

"Ya enggaklah, kan Mas nggak ada 'makek' aku, lagian kan tadi aku bilang kalau pun Mas kepingin, tak kasih diskon, he..he.."

"Sudah berapa lama Mbakyu di tempat ini?"

"Sudah setahun Mas,"

"Terus sudah berapa tercicil hutangnya?"

"Boro-boro mau nyicil, seperti ini saja sudah dua malam aku nggak dapat pelanggan, mana bisa bayar sewa kamar. Ya terpaksa ngutang dulu sama Mami, besok-besok, begitu ada uang dari pelanggan, ya seperti biasa, langsung diminta sama Mami uang sewa kamarnya,"

"Hemm, berapa rata-rata pendapatan Mbakyu dalam satu malam?"

"Kalau ada yang booking satu malam ya Alhamdulillah bisa nyimpan, kalau cuma 'make' sebentar ya pas-pasan buat bayar sewa kamar, buat makan minum, besoknya ya ngambil sisa-sisa uang simpanan sebelumnya, kalau nggak ya ngutang dulu,"

"Hem gitu ya, terus untuk biaya hidup, maksudnya untuk makan dan minumnya. Berapa yang harus Mbakyu keluarkan dalam sehari selama di sini?"

"Untuk sekali makan Rp.25 ribu, jadi sehari semalam sekitar Rp.75 ribu. Cuma kadang kalau ada pelanggan yang baik, mereka biasanya nyuruh aku ngambil apa aja sih, kan aku gak ngerokok jadi pas disuruh beliin rokok-nya, aku ambil rokok buatku juga, terus nanti tak balikin lagi sama Mami, lumayan juga sih satu bungkusnya Rp.30 ribu,"

"Hem..Kenapa nggak Masak sendiri? Kan malahan bisa lebih hemat,"

"Enggak ada alat Masak di sini Mas?"

"Kenapa nggak beli alat Masak?"

"Mami nggak ngijinin,"

"Wa, susah juga ya,"

"Terus, anak Mbakyu di kampung, tahu gak Mbakyu kerja di tempat ini?"

"Ya enggaklah, bapak sama emak serta anakku tahunya aku sekarang ini kerja jadi PRT di kota,"

"Tiap bulan Mbakyu Masih ngirimin biaya buat sekolah anak?"

"Iya Mas,"

"Terus suami Mbakyu kerja apaan disana? Kok Mbakyu sampe bisa kerja di tempat ini?"

"Dia udah ninggalin aku, pas umur anakku genap setahun."

"Ehmm, ya sudahlah, aku pergi dulu ya. Dari tadi Wandu memanggil-manggilku terus. Oh ya nih. Gak banyak sih. Tapi setidaknya dengan uang ini, aku berharap Mbakyu nggak perlu susah-susah mencari pelanggan buat beberapa malam kedepan. Kalaupun ada, semoga Mbakyu bisa mulai menabung buat mencicil hutang Mbakyu sama mami,"

"Siapa itu Wandu? Eh Mas ini kebanyakan! Mas betul nggak mau 'make' aku?"

"Nggak, Terima kasih,"

"Tapi, gimana ini? Duh aku jadi nggak enak Mas,"

"Enggak apa-apa, lagian uang itu juga bukan uangku semua kok. Sebagian itu tadi uang Mami yang tak ambil pas dia lagi sibuk mengambil uang kembalian sisa uang pelanggan,"

"Dasar Jin!"

Selesai 




Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon dimaafkan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Cerita ini juga tayang di Secangkir Kopi1919 dan Kompasiana
 


Warkasa1919
Warkasa1919 Setiap cerita pasti ada akhirnya. Namun di dalam cerita hidupku, akhir cerita adalah awal mula kehidupanku yang baru.

2 komentar untuk "Semprul dan Wanita Malam"

Berlangganan via Email