Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Secangkir Kopi Susu




Dokpri




*****
"Itu siapa?" tanyaku sambil menunjuk ke arah dua orang yang tengah asik berbicara di antara keremangan cahaya.

Di ujung sana. Di atas Sofa Minimalis, saat ini Aku tengah melihat dua sosok tubuh sedang duduk berdua. Sosok yang pertama memakai pakaian berwarna putih, ada sayap berwarna putih menyembul dari balik punggungnya. Sedangkan sosok yang kedua adalah sosok Lelaki setengah tua, mengenakan jubah panjang berwarna hitam yang menutupi tubuh hingga ke kepalanya.

"Yang satu itu Malaikat," kata Wanita cantik berjilbab panjang warna hitam di sebelahku ini sambil menunjuk ke arah orang yang kulihat mengenakan pakaian serba putih, dengan sayap yang juga berwarna putih terlihat menyembul dari balik punggungnya.

"Dan yang itu?" tanyaku lagi, sambil menunjuk ke arah Lelaki berjubah panjang warna hitam yang duduk di sebelahnya.

"Itu Iblis," katanya lagi,  tanpa menoleh ke arahku.

"Ayo cepat," kata Wanita cantik berjilbab panjang ini, seraya menarik jemari tanganku, agar secepatnya menghidupkan laptop di depanku.


Ku ikuti permintaannya. Kunyalakan laptop di atas Meja. Sambil menunggu  proses loading-nya selesai, kubakar sebatang rokok. Lalu kembali menatap ke arah dua orang yang sedari tadi kulihat sepertinya tengah bersitegang antara satu dengan yang lainnya.


"Mungkin mereka belum minum kopi," pikirku.


Kulihat Meja, di depan tempat dua sosok yang sepertinya tengah berdebat itu. Di atas Meja di depan kedua orang yang terlihat begitu samar dari tempat dudukku itu terlihat kosong melompong dan sepertinya tidak ada apa-apa disitu. 

Ingat kopi, aku ingat Wanita cantik berjilbab panjang berwarna hitam yang biasa meracikkan secangkir kopi susu buatku. Dan saat Aku melihat ke samping. Ternyata Wanita cantik berkulit kuning langsat, yang biasa memakai jilbab panjang berwarna hitam itu sudah tidak ada lagi di sebelahku.

Kuambil cangkir yang berisi kopi susu. Dengan sedikit menggeser kursi, Aku segera beranjak dari tempat dudukku, meninggalkan laptop yang masih terus menyala di atas Meja. 
Dengan langkah pelan, Aku datangi dua sosok yang kulihat tengah duduk berdua, di antara keremangan cahaya, di salah satu ruangan itu.


*****
Sambil duduk di sebelah Lelaki yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam, yang jubahnya itu menutupi hingga kepalanya, kutaruh secangkir kopi susu yang tadi di buatkan oleh Wanita cantik berjilbab panjang itu sebelum dia pergi meninggalkanku.


Lelaki setengah tua yang memakai jubah panjang berwarna hitam itu tersenyum ke arahku.


"Apa itu?" tanyanya
Lelaki setengah tua yang memakai jubah panjang berwarna hitam kepadaku, sambil melihat ke arah cangkir yang berisi kopi susu yang masih terlihat begitu hangat di depannya itu.

"Kopi susu, minumlah." jawabku pelan, menawarkan secangkir kopi susu kepada
Lelaki setengah tua yang memakai jubah panjang berwarna hitam yang duduk di sebelahku.

"Ha..ha.. dia menawarkan secangkir kopi susu kepadaku, padahal ada kita bertiga di tempat ini." 

Tiba-tiba Lelaki setengah tua yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam di sebelaku ini tertawa. Ada sedikit rasa bangga di dalam nada suaranya.


Lalu, setelah meneguk kopi susu, yang baru saja aku tawarkan kepadanya, Lelaki setengah tua yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam itu mengangguk--anggukkan kepala. Seperti orang yang tengah menikmati sensasi rasa yang baru saja di kenalinya.

"Nah! Mantap." katanya lagi sambil menepuk--nepuk pundak sebelah kananku, dengan tangan kirinya.

"Engkau sudah lihat bukan?  Di zaman sekarang. Aku sudah tidak perlu lagi memakai tipu muslihatku, agar anak--anak manusia yang ada di dunia ini mau mengikuti langkahku. 
Lihat! Bahkan saat ini Aku tidak perlu lagi bersusah payah untuk mendatangi mereka. Saat ini malah mereka  sendiri yang datang menemuiku di tempat ini.
  
Jadi bisa aku pastikan, bahwa kelak akulah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Kelak akan lebih banyak anak--anak manusia yang akan Aku bawa masuk ke dalam Neraka dari pada yang bisa engkau bawa masuk ke dalam Surga," kata Lelaki setengah tua yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam itu lagi sambil tersenyum lebar menatap ke arah temannya.

Lelaki setengah tua yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam itu tertawa bangga ke arah Lelaki yang berpakaian serba putih, yang tengah duduk terdiam di depannya. 

"Hemmm... Hari gini kok masih berdebat soal siapa yang paling banyak membawa anak--anak manusia masuk ke dalam Surga atau ke dalam Neraka. Yakin? Masih ada manusia yang takut masuk ke dalam Neraka dan ingin masuk duluan ke dalam Surga?" 

Tanyaku sambil tersenyum. Sambil melihat ke arah lelaki yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam di sebelahku itu. Setelah tawanya sedikit reda.

"Maksudnya?" tanya lelaki berpakain serba putih, yang sedari tadi hanya diam itu penasaran dengan perkataanku.

"Minumlah... Agar tahu jawabannya," kataku lagi sambil tersenyum menatapnya. Lalu Aku sodorkan secangkir kopi susu yang barusan di minum oleh Lelaki yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam itu kepada Lelaki berpakain serba putih yang duduk di depanku.



Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon dimaafkan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan

Posting Komentar

5 Komentar