Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Sebab Corona, Anies Masih Harus "Menjomlo"



PANDEMI virus corona tak bisa disangkal lagi ibarat monster mengerikan bagi seluruh penduduk yang ada di muka bumi, tak terkecuali Indonesia.

Betapa tidak, keganasan yang diakibatkan virus asal Wuhan, Provinsi Hubei, China ini selain mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa juga memporak-porandakan hampir seluruh sendi-sendi kehidupan. Baik itu, sosial, budaya, agama, pendidikan, ekonomi dan politik.

Bukan satu atau dua negara yang terpaksa menghentikan sebagian aktifitasnya. Hal tersebut dilakukan untuk satu tujuan, yakni mencegah penyebaran wabah pandemi virus covid-19 lebih meluas. 

Salah satu yang terkena dampak mewabahnya virus corona ini adalah pemilihan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Sejatinya, pemilihan orang nomor 2 di Ibu Kota negara ini dilaksanakan pada Senin, (23/3/20) pekan depan. Tapi, pada akhirnya terpaksa ditunda hingga wabah virus corona mereda. Adapun calon yang akan dipilih dalam sidang paripurna itu adalah dua Nurmansjah Lubis dari PKS dan Ahmad Riza Patria dari Gerindra.

Penundaan ini selain mengikuti himbauan Presiden Jokowi untuk melakukan social distancing atau tidak melakukan interaksi sosial di tempat keramaian, juga sebagai bentuk keprihatinan yang ditunjukan para anggota DPRD DKI Jakarta terhadap pandemi virus corona yang mewabah di tanah air.

Dilansir CNNIndonesia, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi menyebut bahwa keputusan penundaan sidang paripurna pemilihan Wakil Gubernur DKI Jakarta atas pertimbangan penyebaran virus corona di Jakarta yang masif.
"Saya baru saja menandatangani surat penundaan pelaksanaan paripurna pemilihan Wakil Gubernur DKI Jakarta sebagai bentuk keprihatinan terhadap pandemi virus corona yang terjadi," kata Edi lewat akun Twitter pribadinya @PrasetyoEdi_, Jumat (20/3).

Dengan adanya penundaan  sidang paripurna pemilihan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini secara otomatis mambuat sang Gubernur, Anies Baswedan harus tetap "menjomblo" alias masih harus berjuang sendirian mengurus Jakarta tanpa disertai pendamping.

Dengan masih berstatus "jomblo" bagi Anies boleh jadi ada untung dan ruginya. Untungnya, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini masih leluasa bergerak dan menentukan kebijakan-kebijakannya tanpa ada gangguan dari kepentingan politik lainnya. 

Tidak jarang terjadi dalam suatu pemerintahan (kepala daerah dan wakilnya) retak karena adanya beda pandangan dan kepentingan politik. 

Sedangkan ruginya adalah, Anies menjadi satu-satunya centra sorotan publik setiap kali ada kebijakan yang tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Disamping tentunya lelah karena segala sesuatunya harus ditangani sendiri tanpa ada bantuan dari wakil.

Anies "Ditinggal" Sandiaga Uno

Romansa kebersamaan antara Anies Baswedan dan Sandiaga Uno terpaksa berakhir pada pertengahan 2018 lalu. Pasalnya, Sandiaga Uno mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, karena harus mendampingi Prabowo Subianto sebagai Calon wakil Presiden pada Pilpres 2019 lalu.

Dalam kontestasi Pilpres yang sarat dengan perseteruan panas antara pendukung kedua pasangan yang dikenal dengan sebutan Cebong (pendukung Jokowi) dan Kampret (pendukung Prabowo) dimenangkan oleh Jokowi yang berpasangan dengan Ma'ruf Amin.

Prabowo yang asalnya musuh bebuyutan Jokowi, saat ini malah jadi pembantunya dengan menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan). Sedangkan Sandiaga Uno sendiri saat ini bergabung dengan Partai Gerindra di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.

Salam








Posting Komentar

4 Komentar