Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Rumah Sakit Jiwa

https://images.pexels.com

Rumah sakit ini megah.  Bangunannya modern dengan design yang cukup futuristik artistik.  Parkirannya juga sudah menggunakan sistem parkir terintegrasi.  Arus keluar masuk kendaraan rapi dan tertib.  Pepohonan hijau melindungi pelatarannya dari terik.
Pengamanan juga cukup berlapis.  Satpam di depan gerbang.  Satpam di pos jaga depan bangunan utama.  Satpam di pintu masuk ruang utama.  Semuanya berseragam hitam-hitam.  Melambangkan kelam.  Mempertunjukkan warna yang tidak suka terhadap tawar menawar.
------
Siapa yang menduga bahwa ini adalah rumah sakit jiwa.  Tempat tubuh tubuh merana terpasung dalam keterasingan pikiran.  Orang-orang yang terbuang dari lingkungannya karena tidak sama dengan yang lain.  Gila. Tidak normal.  Membahayakan.

Sebuah mobil mewah berwarna silver masuk gerbang.  Disambut dengan hormat oleh satpam.  Diantarkan sampai parkiran.  Mobil parkir dengan lembut.  Sepasang kaki jenjang bersepatu sport terlihat turun dari balik pintu.  Satpam semakin dalam memberi hormat.  Rupanya Nerva.  Puteri Pak Jimmy, kepala rumah sakit.

Tanpa melirik sedikitpun pada penghormatan berlebihan satapam, Nerva membetulkan letak jaketnya yang agak kedodoran.  Mengangguk sedikit kepada satpam di pintu depan bangunan utama.  Lalu masuk dengan anggun diiringi tatapan kagum dan mendamba orang orang yang melihatnya.

Siapa yang tidak mengenal Nerva.  Gadis cantik putri bos.  Selain cerdas dan cantik, Nerva adalah dokter jiwa spesialis penanganan para psikopat.  Spesialisasi yang cukup mengerikan.  Namun semenjak dahulu, Nerva memang bercita
-cita menjadi seorang penakluk.  Jadi menghadapi orang-orang gila yang suka membunuh dan menganiaya, bukan apa apa baginya.  Bahkan cukup menyenangkan bagi Nerva.
------
Nerva baru saja lulus dari universitas terkemuka di Iowa USA.  Gadis ini mendapat predikat lulus dengan nilai terbaik.  Membanggakan sang ayah.  Membanggakan negara katanya.

Sekembalinya ke tanah air, Nerva langsung bekerja di rumah sakit ayahnya.  Rumah sakit jiwa swasta ini adalah salah satu rumah sakit jiwa terbaik di negeri ini.  Rumah sakit jiwa yang sangat mahal.  Hanya terjangkau bagi orang
-orang berkantung tebal yang ingin memisahkan anggota keluarga yang sakit jiwa dari rumah-rumah mewah mereka. 

Baru saja bekerja selama beberapa bulan di rumah sakit ini, Nerva sudah dihadapkan pada beberapa kasus pelik.  Rumah sakitnya kedatangan tiga orang psikopat titipan dari pengadilan tinggi.  Para penjahat yang tidak bisa divonis karena sakitnya ini, menyiksa dan membunuh beberapa orang ekspatriat di beberapa tempat yang terpisah.

Empat dari empat dokter yang ditunjuk pengadilan untuk memeriksa kejiwaan tiga orang ini, menyatakan dengan tegas bahwa mereka adalah psikopat.  Karena tidak bisa dihukum meskipun terbukti membunuh, tiga orang ini dibebaskan oleh pengadilan dari segala tuduhan.  Namun pengadilan juga memutuskan mereka harus dimasukkan ke dalam sebuah rumah sakit jiwa sampai akhirnya dinyatakan sembuh dan kembali melanjutkan proses persidangan.

Lima ekspatriat yang dibunuh semuanya berasal dari USA.  Kejadian pembunuhannya pun bermacam
-macam namun semua tergolong mengerikan.  Dua orang bernama Max dan Bob ditenggelamkan ke dasar sumur menggunakan pemberat.  Dua orang lainnya bernama John dan Tom dibunuh dengan meminumkan racun sianida berdosis mematikan.  Begitu tingginya racun sianida yang dipergunakan, kedua jenazah ekspatriat itu sampai melepuh.  Satu orang terakhir dibunuh dengan digantung di sebuah pohon besar di pinggir jalan.  Namanya Robert.  Sadis dan mengerikan.
------
Nerva sudah beberapa hari ini bertanggung jawab untuk mendapatkan pengakuan dari ketiga psikopat ini.  Dia yakin sekali bahwa tiga orang ini adalah psikopat.  Namun dia juga yakin bahwa tiga orang ini adalah psikopat yang cerdas dan paham apa yang mereka lakukan.  Dia akan mengungkapkan jati diri kejiwaan mereka agar pengadilan bisa menghukum mereka.  Orang-orang ini sangat berbahaya jika dibiarkan berkeliaran. Meski itu di rumah sakit jiwa.

Selama beberapa kali memeriksa latar belakang, kondisi lingkungan dan keluarga.  Nerva menyimpulkan bahwa mereka ini membunuh lantara
n hobi.  Bukan karena khilaf atau terpaksa.  Tapi untuk membuktikan itu di depan pengadilan sangatlah berat.  Dia harus melawan empat ahli jiwa terkenal dan mematahkan diagnosa mereka dengan alasan yang ilmiah, rasional dan logis.
Ini butuh waktu, desis Nerva gemas.  Para dokter itu sedikit banyak dipengaruhi oleh fakta bahwa tiga orang itu ada yang merupakan anak jenderal, keponakan seorang menteri, dan cucu dari pengusaha terkenal. 
------
Pagi ini Nerva meminta tiga orang itu datang.  Dia sudah menyiapkan beberapa pertanyaan dan tes untuk mereka.  Tes itu akan dilakukan di ruang terpisah.  Mereka tidak boleh dikumpulkan.  Seperti ada chemistry aneh di antara mereka sehingga bisa saling menguatkan pernyataan atau mengelabuhi tes-tes yang dilakukan jika dilakukan secara bersama-sama.  Nerva sudah membuktikan itu.  Beberapa kali.

Tes dilaksanakan berurutan dengan disaksikan dan dikawal ketat oleh beberapa penjaga khusus.
------
Ruang 1. 
Pukul 9.00

Nerva meminta psikopat pertama bernama Gandra, menjawab beberapa pertanyaan.  Berhasil dijawab dengan tuntas.  Nerva lalu meminta Gandra menyusun beberapa balok yang sudah disiapkan.  Juga bisa diselesaikan dengan sempurna. 

Nerva penasaran.  Tes terakhir.  Nerva meminta Gandra membuat beberapa simpul tali seperti keahlian pramuka.  Kali ini Gandra agak kesulitan. Nerva tersenyum puas.  Gadis cantik bersenyum dingin ini meninggalkan Gandra.

Pukul 9.45
Gandra melepas nyawanya dengan menggantung diri di dalam kamar periksa.  Para penjaga terlambat mengetahui karena Nerva memang meminta mereka agar berjaga di luar pintu.  Bukan di dalam.

Ruang 2. 
Pukul 9.25

Psikopat kedua, Bernard mendapatkan tes serupa.  Berhasil lolos juga.  Hanya saja pada saat praktek permainan api dan kayu bakar, dia mengalami kesulitan. 

Pukul 10.00
Terdapat asap menerobos sela-sela Ruang 2.  Para penjaga berserabutan masuk ke dalam kamar.  Takut takut terjadi sesuatu.  Dan memang terjadi sesuatu.  Bernard hangus terbakar di ruangan itu dengan korek api dan botol kecil berisi bensin masih tergenggam di tangannya. Untunglah Nerva sejak 15 menit sebelumnya sudah pergi ke ruang 3.

Ruang 3.
Pukul 9.45

Psikopat ketiga, Densa mendapatkan tes yang sama.  Yang satu ini lebih cerdas dari yang lain, begitu pikir Nerva.  Tak apa,  yang paling utama adalah tes praktek yang paling menentukan.  Tes praktek bagi Densa agak lebih rumit dari yang lain.  Densa di minta untuk memegang sumpit bergantian tangan kanan dan kiri.  Kali ini gagal.  Memang sulit.  Nerva tersenyum sambil pergi meninggalkan Densa untuk pergi ke toliet.

Densa ditemukan tewas dengan sumpit menembusi matanya.  Lagi
-lagi para penjaga tidak menyadari.  Setelah mendengar jelas beberapa benda berjatuhan dari ruang 3 seperti ada yang sedang mengamuk.  Para penjaga masuk dengan sigap sambil menyiapkan diri. Menemui sosok Densa sudah tewas dalam kondisi yang mengerikan.
------
Suasana menjadi heboh.  Tiga orang psikopat tewas dengan cara yang berbeda-beda.  Nerva tersenyum puas di sudut kantin rumah sakit.  Menimang-nimang sebuah pisau kecil yang di keluarkan dari kantung bajunya.  Ini baru akan dipergunakan jika diperlukan saja.  Tiga psikopat itu tidak setangguh apa yang mereka pikirkan.  Begitu kesimpulan Nerva sambil melihat konsep ucapan doktrinisasi yang dipersiapkannya tadi malam.

Semua petinggi rumah sakit termasuk ayah Nerva datang melihat kegaduhan yang terjadi.  Masuk ke ruangan Nerva untuk bertanya-tanya.  Mendapati gadis itu tertunduk lesu di belakang meja kerjanya.  Dua orang bule gagah dan seorang berseragam polisi Indonesia duduk di depannya sambil mengeluarkan selembar kertas bertuliskan TAHANAN INTERPOL.

Suasana menjadi semakin heboh.  Nerva diborgol dan digelandang keluar ruangan.  Ayah Nerva berusaha menahan.  Salah satu dari tiga orang itu menjelaskan.  Nerva adalah buronan yang paling dicari oleh kepolisian USA karena melakukan pembantaian sadis di sebuah acara summer camp.  Nerva juga didakwa melakukan beberapa pembunuhan lainnya di negara bagian yang berbeda.  Di Amerika sana, Nerva memenuhi pemberitaan media cetak maupun elektronik.  Julukannya di sana Psycho Angel.

Sebelum dimasukkan mobil tahanan, Nerva mengangguk kecil kepada ayahnya.  Seperti mengucapkan salam perpisahan.  Dimasukkanya tangan ke saku jaketnya.  Sebuah foto seukuran postcard berada di tangannya.  Matanya sayu lalu beringas lalu tenteram kembali ketika melihat foto Robert sedang tersenyum berduaan dengannya di Grand Canyon.

Mata Nerva beradu dengan foto itu lama sekali.  Semua sudah terbalaskan sayang....
--------
Jakarta, 4 Juni 2017

Posting Komentar

3 Komentar