Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Perempuan yang Mengejar dan Lelaki yang Menghindar

Gambar: bacaan.id


1. Perempuan yang mengejar. 

Akulah perempuan itu.   
                              
Ini bukan tipeku,  bukan kebiasaanku. Biasanya para lelaki yang mengejarku, mencoba menarik perhatianku. Ini gara-gara lelaki sialan itu. 

Dia, lelaki itu, belakangan ini seperti membayangi gerak-gerikku. Di tempat parkir, super market, di tempatku bekerja, juga saat aku berada di apartemenku, aku merasa lelaki itu mengawasiku dari kejauhan. 

Awalnya aku risih,  jengkel, tapi kemudian... takut. Jangan-jangan lelaki ini seorang penjahat, psikopat, atau kelainan jiwa lainnya? Apakah nanti ia akan mengikat kedua tanganku, merobek-robek pakaianku, mencambukiku, atau...? 

Ah, tidak! 

Lelaki itu berwajah murung. Seperti memendam perasaan yang ia tidak tahu ke mana akan ditumpahkan. Entah kenapa ada perasaan ganjil yang menyelusup dalam hatiku. Ada perayaan iba, ada perasaan hangat kalau ia sedang memperhatikanku, ada perasaan nyaman - aku membayangkan -  dalam pelukannya. Ada...! 

Gila! Ini Gila! 

Aku tidak pernah mengenalnya, tidak pernah bertegur sapa, tapi kenapa aku  membayangkan telah mengenalnya begitu lama. Aku juga merasakan kini ia berada dalam satu ruangan denganku di kafe ini. Aku tahu ia duduk di sudut, sesekali memperhatikanku. Aku merasakan. 

Apakah kali ini ia akan menghampiri, menyapa, mengenalkan diri, kemudian bercengkerama hangat. Kemudian...? 
Ah, tidak. 

Tidak! 

Atau aku sendiri yang menghampirinya? Rasanya aku belum terlalu gila untuk bertindak sejauh itu. Atau sebaiknya aku..., heh, ke mana lelaki itu? Sekelebat bayangannya tertangkap sedang keluar dari kafe. Aku tak perduli, aku mengejarnya. 

Terlambat! Lelaki itu telah menaiki sebuah taksi. Dengan mobilku aku membuntutinya dari belakang. Rasanya cukup lama berputar-putar di tengah kota. Akan ke mana lelaki itu? Atau ia tahu kalau aku sedang mengikutinya? 

Taksi yang ditumpangi lelaki itu berhenti di sebuah sudut jalan. Aku memperhatikan dari jauh. Kulihat lelaki itu turun dan memasuki gang kecil. Cepat aku melajukan mobilku dan menghentikannya di tempat taksi tadi berhenti. Tapi lelaki itu sudah tak ada. 

Menghilang! 

Aku mencoba mengejar menyusuri gang itu. Bau got, musik dangdut yang dibunyikan keras-keras, sekelompok orang mengelilingi botol-botol minuman, siulan nakal, ucapan-ucapan kotor, dan orang-orang sedang bermain kartu. Pak, ada seorang lelaki lewat jalan ini? Lelaki? Bukankah kami semua ini lelaki? Apakah tidak cukup? Hahaha! 

Lelaki itu seperti ditelan bumi. 

***

Aku kini seperti orang tak waras. Aku kini berharap dapat bertemu dengan lelaki itu. Aku menyusuri kembali tempat-tempat di mana lelaki itu pernah mengikutiku. Tak ada. Lenyap. 

Kenapa lelaki itu seperti menghindar, setelah selama ini mematamataiku? Lelaki itu, ya lelaki itu, siapa dia sebenarnya? 

***

2. Lelaki yang Menghindar. 

Lelaki itu, akulah orangnya. 

Ada yang aneh dalam  diriku. Kenapa aku berubah pikiran setelah melihat perempuan itu, setelah berhari-hari memantau segala tindak-tanduknya. Bukankah ini saat yang tepat untuk mendekati, mencumbui, dan menghabisinya. Apa karena wajahnya mirip Cleo? 

Cleo, Cleopatra, perempuan cantik yang sangat kucintai, yang apa pun akan kulakukan untuk dia, yang kemudian jantungnya kumakan.

Ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Aku tak menyangka, bahkan Cleo sendiri mungkin tak menduga. 

Aku mendapati Cleo sedang bercinta dengan kawanku sendiri. Cerita klise, memang. Aku, marah, berkelahi, kemudian memukul temanku itu? Tidak. Marah, ya. Tapi aku tidak memukulnya. Aku hanya membenamkan peluru di kepala temanku. 

Cleo menjerit-jerit ketakutan, minta maaf. Aku hanya menyuruhnya untuk membersihkan badannya. Kemudian kami bercinta seliar-liarnya. "Kamu mau memaafkanku, kan?" Cleo masih khawatir dengan kemarahanku. 

"Ya," kataku pelan. Dan kulihat tubuh Cleopatra seperti terlonjak. Seperti halnya dengan kawanku, aku juga membenamkan peluru ke tubuh Cleo, di tengah tatap herannya. 

Menuntaskan kemarahanku, aku mendadak jadi kanibal. 

Sejak itu aku benci perempuan cantik. Aku kemudian memburu perempuan-perempuan cantik agar ia jatuh cinta padaku, kucumbui, lalu kubunuh. 

Hingga bertemu perempuan cantik itu. 

Seharusnya aku gembira, karena sepertinya perempuan cantik itu sudah masuk dalam jeratanku. Tapi itu tidak kulakukan. Bayangan Cleopatra seperti mengejar-ngejarku. Baru kusadari, ternyata aku tidak bisa benar-benar membenci Cleo. Aku masih mencintainya.

Dan perempuan cantik itu wajahnya mirip Cleopatra. Aku tidak ingin membunuh Cleo untuk kedua kalinya. Aku ingin pergi, pergi sejauh-jauhnya. Justru di saat itu bandul berbalik arah, perempuan cantik itu kini seperti mengejarku. 

Tidak. Aku tidak sanggup menemui Cleopatra dalam wujud perempuan lain. Makanya aku selalu menghindar dari keramaian. 

Perempuan cantik itu, tidak. Aku tahu ia selalu mencari-cariku ke tempat-tempat di mana aku sering singgah. Aku juga tahu perempuan cantik itu pernah mengikuti perjalananku. Aku belokkan ia ke tempat yang asing, ke tempat yang ia tidak duga sama sekali. Aku berhasil menghilang. 

Tapi kemudian aku berpikir. Perempuan itu, ya perempuan cantik itu, siapa dia sebenarnya? 

***

3. Perempuan yang mengejar dan lelaki yang menghindar. 

Pada suatu senja yang muram, di antara lorong-lorong pertokoan Kota Tua, dan penghuninya sudah pulang ke rumah masing-masing. 

Sunyi. 

Memang ada gaung yang memantul, entah disebabkan oleh apa. Suara-suara kendaraan di kejauhan. Burung-burung bertengger di kabel-kabel listrik. 

Di situlah mereka bertemu. Saat perempuan cantik itu lelah mengejar, saat lelaki tak bisa lagi menghindar. 

Mereka bertatapan dalam jarak yang dekat. Si lelaki terpesona dengan kecantikan si perempuan. Si perempuan langsung runtuh hatinya melihat tampilan si lelaki itu. 

"Kenapa kau selalu mengejar?" tanya lelaki itu. 

"Kenapa kau selalu menghindar?" perempuan itu balik bertanya. 

Mereka semakin dekat. 

Entah siapa yang memulai. Mereka berpelukan hangat. Berciuman liar. 

"Kau tak boleh lagi lari," perempuan itu tersengal.                                          

"Kau tak boleh mengejar lagi," napas lelaki itu memburu.                           

Hingga malam. Kemudian terdengar erangan, suara letupan, pekikan, juga suara terkejut berbarengan, "Kau?!" 

***

Pagi hari polisi menemukan dua sosok mayat berpelukan dalam keadaan telanjang. Si lelaki, dadanya tertancap pisau. Si perempuan tubuhnya berlubang terkena peluru. Mereka dibunuh, bunuh diri, atau saling bunuh? 

Polisi menduga-duga. 

***

Cilegon, 2019. 

Catatan. 
Cerpen ini pernah tayang di Kompasiana. 

Posting Komentar

15 Komentar

  1. Balasan
    1. Ternyata, memang ternyata.
      😀😀😀

      Hapus
  2. Owh sudah tayang di K, aku terlewat, belum membacanya. Bagus ya, kemarin masih dlm rencana membuat cerita model begini, cerita dari 2 tokoh dg model cerbung. Malah asik begini bacantmya langsung.

    Tapi gambarnya ganti donk, ngeri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini awal-awal nulis di K.
      Salam hangat.

      Hapus
  3. Wahhh.... keren 👍👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Bu Dokter. Salam hangat

      Hapus