Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Misteri Sajak Berapi

https://images.pexels.com

Beberapa tahun yang lalu….

“Kau benar-benar ingin putus denganku Ferna?” bisikan lirih itu keluar dari mulut Fandi.

“Setelah semua yang aku lakukan? Setelah semua yang aku korbankan? Termasuk meninggalkan rumah, orang tua dan keluarga? Juga cita-citaku menjadi pilot karena kamu tidak menyukainya?” Fandi melanjutkan dengan mata meredup. Tangannya mencengkeram pagar rumah Ferna kuat-kuat sampai tidak dirasakannya ada darah mengalir dari sela-sela jarinya yang terkena tajam sisi pagar besi.

Di balik pagar, Ferna hanya menghela nafas panjang. Keputusannya sudah bulat. Putus dengan Fandi adalah final. Tidak bisa lagi ditawar-tawar. Pemuda itu tidak punya masa depan!

Aku punya pilihan yang lebih baik dibanding dirimu Fandi. Ferna tersenyum samar sambil memperhatikan bayangan Fandi menjauh dari pandangan matanya.

------

Beberapa tahun kemudian……

Jika ada yang pernah
mendendam
Setinggi puncak langit, Itulah aku
Jika ada yang berpiutang darah
Sedalam lebar kawah, Itulah aku........

Sajak utuh berdaya magis itu dibaca berulang
-ulang oleh Ferna.  Gadis cantik berambut panjang itu sengaja membiarkan rambut sepinggangnya terurai.  Termasuk juga merias wajahnya lain dari biasanya.  Matanya nampak kelam karena maskaranya sengaja dipertebal.  Bibirnya dipoles dengan lipstick sewarna darah menghitam.

Ini harus aku lakukan!  Ferna membatin dengan geram.  Semua yang terjadi terlalu menyakitkan.  Aku tidak akan bisa hidup tenang sebelum dia merasakan panasnya api yang aku kirimkan.  Pekatnya darah yang tertumpah dari tubuh kalian Rendy dan Sisma.

Ferna sedang diamuk oleh amarah dan dendam luar biasa kepada mantan kekasih dan mantan sahabatnya itu.  Semuanya sudah menjadi mantan.  Semenjak dia memergoki mereka berkencan di belakangnya lalu memutuskan untuk menikah diam
-diam.  Sementara dia sudah dilamar oleh Rendy dan orangtuanya beberapa bulan sebelumnya.  Bahkan pesta pernikahan sudah disiapkan dengan matang.  Undangan sudah disebar.  Gedung, katering, dan para penyanyi sudah juga dibayar.

Yang paling menyakitkan Ferna tentu saja adalah kenyataan bahwa dia sudah berbadan dua tapi ditinggalkan begitu saja tanpa sepatah katapun dari Rendy.  Tahu
-tahu sahabatnya yang lain tergopoh-gopoh datang sambil membawa surat undangan.  Rendy akan menikahi Sisma di Bali pada tanggal bla bla, di gedung bla bla, hiburan bla bla.  Sungguh persetan semua!
----

Orangtua Ferna malu bukan main.  Dan ujung
-ujungnya Ferna menjadi sasaran kemarahan mereka.  Apalagi setelah Ferna dengan tersedu-sedu mohon ampun dan bercerita bahwa dia sedang hamil muda.  Ferna diusir!  Sempat terlunta-lunta dengan uang seadanya, akhirnya Ferna yang sudah putus asa dan berniat bunuh diri, diselamatkan oleh kedatangan om dan tantenya yang sedari dulu memang sangat dekat dan sayang kepadanya.

Sejak itu, Ferna tinggal dengan om dan tantenya.  Sambil menunggu bayinya lahir, Ferna bekerja apa saja.  Meskipun sebenarnya dia bukan gadis yang tertempa, tapi keadaan membuatnya tetap bertahan hidup.  Melahirkan bayinya dan membalas dendam kepada Rendy dan Sisma!

Tak lama berselang setelah melahirkan.  Ferna menyerahkan bayinya untuk dirawat om dan tantenya.  Dia bilang mau mencari pekerjaan di Bali.  Om dan tantenya dengan senang hati menerima dan berjanji untuk merawat anak Ferna sampai Ferna bisa kembali dan sanggup untuk menghidupi diri mereka sendiri nanti.

Ferna memang benar pergi ke Bali.  Mendapatkan pekerjaan dari teman kuliahnya dulu.  Sambil bekerja, Ferna mengumpulkan dan mempelajari buku
-buku magic dan mistik.  Semuanya hanya tertuju pada satu titik tujuan.  Balas dendam!

Ferna mengulang lagi membaca sajak
-sajak berapi.  Sajak itu didapatkannya dari sebuah buku tua yang hampir lapuk.  Dia membeli buku yang tinggal satu-satunya itu dari seorang tua bungkuk bermata sebelah buta yang saat itu lewat depan kantornya.

----

Rendy dan Sisma berulang kali tertawa terbahak
-bahak menyaksikan kelucuan buah hati mereka.  Ini malam jumat.  Hari jumatnya libur.  Jadi mereka memanfaatkan long weekend ini untuk bercengkerama. 

Mereka tinggal di Bali sejak menikah beberapa bulan lalu.  Selain agar dekat dengan lokasi kerjanya, Rendy juga mengambil jarak sejauh
-jauhnya dari Jakarta. Kota dimana Ferna tinggal.  Rendy sadar bahwa dia sudah sangat menyakiti gadis itu.  Namun dia juga tidak mau terganggu dengan terror Ferna sehingga memutuskan menjauh.

Rendy menggendong anaknya memasuki kamar tidurnya yang mungil.  Gadis kecil itu sudah tertidur.  Gadis kecil hasil pernikahannya dengan Sisma.  Pernikahan yang harus segera dilaksanakan karena Sisma sudah hamil 5 bulan waktu itu.  Rendy tersenyum kecut.  Dia sadar bahwa dia laki
-laki perayu ulung yang berhasil meniduri 2 orang sahabat sekaligus.  Dua-duanya hamil dan menuntut untuk dinikahi.  Dia memilih Sisma.

----

Di dalam kamar tidur, Rendy dan Sisma berbincang
-bincang kecil membahas rencana keberangkatan liburan esok harinya.  Mereka akan pergi berlibur ke luar negeri. 

Saat tengah asyik berbincang, tiba
-tiba listrik padam.  Rumah jadi gelap gulita.  Buru-buru Rendy menyalakan emergency lamp.  Penerangan di kamar sekarang samar-samar.  Mereka melanjutkan pembicaraan.

Belum beberapa menit dari listrik padam tadi, terdengar suara gamelan yang terdengar sangat dekat.  Bukan hanya dekat.  Tapi suara gamelan itu berasal dari kamar mereka!  Suara gamelan itu terdengar begitu nelangsa.  Menyayat hati siapapun yang mendengar.  Rendy berdebar
-debar sambil memeluk Sisma yang meringkuk ketakutan.  Ini tidak biasa!  Ada sesuatu yang sedang terjadi!

Benar saja, emergency lamp mati mendadak.  Suasana gelap gulita.  Kali ini Rendy harus menyalakan lilin.  Beberapa lilin yang menyala itu hanya mampu menerangi sudut kamar saja.  Malah menimbulkan bayangan
-bayangan yang menakutkan ketika api lilin tertiup angin yang samar.

Bayangan itu membentuk berbagai macam silhuet wujud.  Mengerikan!  Sementara suara gamelan semakin kencang saja mengitari kamar.  Semakin memelas dan nelangsa.  Lalu kejadian menakutkan berikutnya tiba.  Suara gamelan memelan.  Namun malah kini ada suara tembang atau pantun atau sajak yang menggema di ruangan kamar yang luas itu. Silhuet yang dibentuk oleh api lilin adalah silhuet tubuh perempuan.  Dan silhuet itu tidak berubah bentuk apa
-apa lagi.  Karena api lilin sekarang menyala tegak.  Tidak berontak meski angin tetap bertiup.  Sungguh ngeri dan misterius.

----

Bayangan itu membesar dengan cepat.  Gamelan semakin pelan.  Suara tembang atau sajak itu semakin kuat.

Jika ada yang pernah
mendendam
Setinggi puncak langit, Itulah aku
Jika ada yang berpiutang darah
Sedalam lebar kawah, Itulah aku
Bacakan sajakku jika kau ingin meminum darah musuhmu
Bacakan sajakku jika kau ingin membakar tubuh musuhmu
Bacakan sajakku jika kau ingin berapi
Bacakan sajak Nini Sunggeni

Rendy dan Sisma merinding bukan main.  Rendy dan Sisma hafal Ini suara orang yang mereka kenal bertahun
-tahun.  Suara itu menyelusup masuk ke dalam jiwanya.  Sangat dalam.  Tiba-tiba Rendy merasa sangat pedih dan sedih.  Nelangsa. 

Sisma berbeda lagi yang dirasakannya.  Dia merasa tubuhnya terhisap oleh suatu kekuasaan gaib.  Mengobrak abrik keharuan dan penyesalan yang begitu dalam.  Sakit sekali dadanya.  Sisma ingin berteriak.  Namun yang keluar hanya suara uh uh saja. 

Sisma merasakan sesuatu yang hangat merayapi tubuhnya.  Seluruh tubuhnya.  Lalu keluar dari pori porinya.  Sisma memperhatikan dengan teliti di bawah sinar lilin yang sangat tipis. Darah! Oh Darah!  Ya Tuhan.

Sementara Sisma dihisap pelan
-pelan darahnya entah oleh kekuatan apa, Rendy mengalami hal yang hampir serupa.  Tubuhnya panas bukan main.  Dia belum pernah seperti ini sebelumnya.    Tubuhnya benar-benar super gerah. 

Sisma sekarang tergeletak di atas tempat tidur di atas genangan darahnya sendiri.  Wanita itu sudah tidak bergerak tanpa nyawa yang seharusnya menempel di tubuhnya.  Sisma mati dalam keadaan mengering.  Darahnya dikuras sampai habis.

Rendy terbelalak hebat.  Dia menyaksikan istrinya meregang nyawa dengan hati yang masih nelangsa tanpa bisa dikendalikan.  Panas dari dalam tubuhnya juga semakin membara.  Lalu terjadilah percikan
-percikan api kecil di tubuh Rendy.  Percikan itu menyebar ke seluruh badannya. 

Rendy menjerit putus asa.  Dia mencoba berlari ke kamar mandi untuk memadamkan api.  dia berhasil mencapai kamar mandi.  Rendy tergesa
-gesa membuka shower.  Menyiram seluruh tubuhnya agar percikan api itu mati. Akibatnya, begitu air menyentuh tubuhnya, secepat itu pula api berkobar hebat melahap seluruh tubuhnya!  tubuh Rendy hangus tidak bisa dikenali lagi.

----

Ferna menyaksikan api di lilin yang dinyalakannya sebagai bagian dari upacara tenung itu menyala besar menghabiskan lilin dengan seketika.  Rendy mati!  Ferna juga melihat gelas kosong di samping lilin tiba
-tiba saja sudah penuh terisi cairan berwarna merah.  Darah segar! Sisma mati!

Ferna tersenyum puas.  Tuntas sudah!

Mendadak terdengar seseorang menggumamkan sajak berapi itu dengan gema hebat di kamar tempatnya melakukan upacara.  Listrik padam seketika. 
Suara gamelan menghentak-hentak lalu memelan.  Sajak itu semakin terdengar dahsyat.  Ferna merasa panas berputar-putar dalam tubuhnya.  Sebelum kesadarannya menghilang dalam kematian, Ferna masih sempat mengeluh dalam hati.

Ada seseorang di luar sana sedang membaca sajak berapi yang ditujukan kepadanya.  Seseorang yang sangat membencinya.....

Medan, 25 Mei 2017


Posting Komentar

10 Komentar