Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Misteri Jalur Pendakian Bercabang Tiga

https://images.pexels.com

Kelima pendaki gunung yang tergabung dalam himpunan mahasiswa pecinta alam ini membereskan semua perlengkapannya di pos 1 pendakian.  Saatnya mendaki tengah malam nanti supaya sampai ke puncak saat fajar menjelang.  Mereka ingin menikmati sunset tiada duanya di lereng langit.  Ini adalah gunung ke sepuluh yang coba ditaklukkan pada momen tujuh belasan.

Andro, Safir, Medina, Anisa, dan Safina adalah para pendaki tangguh yang sudah teruji.  Mereka berlima selalu bersama
-sama dan memang sudah sehati.  Menaklukkan puncak gunung adalah passion. Bukan sekedar gagah-gagahan atau adu nyali.  Apalagi jika berhasil menancapkan Sang Saka di puncak pada saat ufuk mulai memerah dan serambi matahari mulai bergeser.  Itu kebanggaan luar biasa bagi mereka.

Mereka berlima sudah merundingkan segala sesuatunya dengan seksama.  Gunung yang satu ini mempunyai beragam tantangan.  Jalur pendakian terjal dan banyak cabang, kabut yang tiba
-tiba datang, masih adanya cerita tentang kemunculan macan dan hal-hal lain yang cukup menyeramkan.

Terutama cerita tentang tersesatnya kakak kelas mereka lima tahun yang lalu.  Sampai sekarang belum ditemukan.  Dua orang pendaki tangguh.  Laki
-laki dan perempuan yang merupakan pasangan kekasih.  Hilang tak tentu rimba saat melakukan pendakian di gunung ini.

Penyebabnya masih simpang siur.  Sebagian bilang karena kabut.  Sebagian lagi mengatakan karena sengaja bunuh diri sebab cinta mereka tidak direstui.  Bahkan ada sebagian kecil yang mengatakan bahwa mereka sebenarnya masih hidup dan menghilang di sebuah kota kecil di pelosok jawa.  Menjalani hidup sebagai pasangan suami istri yang bahagia. 

Namanya juga cerita bukan berita.  Pikir mereka berlima mencoba menyingkirkan semua cerita
-cerita buruk yang akan menghantui perjalanan pendakian mereka.  Yang pasti mereka sudah siap dan bertekad.
---------
Pendakian berlangsung cukup mulus di tiga jam pertama.  Jalurnya memang masih sedikit landai.  Lagipula cuaca sangat cerah.  Cahaya bulan purnama mengikuti langkah kaki mereka seperti jejak-jejak lampu pelita.

Dua jam lagi mereka akan menghadapi jalur paling berat di gunung ini.  yaitu ketika menemui jalur pendakian bercabang tiga.  Begitu pedoman yang mereka dapatkan dari petugas penjaga pos 1 tadi.  Ikuti arah berbelok ke kanan, jangan lurus atau ke kiri, itu pedoman selanjutnya.

Dan sampailah mereka di jalur pendakian bercabang tiga.  Bertepatan dengan meredupnya cahaya bulan yang selalu setia dari tadi.  Angin juga berhembus cukup kencang.  Suaranya bersiut
-siut seperti batang bambu bergesekan saat seruling Nabi Sulaiman ditiup. 

Andro memberi tanda kepada teman
-temannya untuk berhenti.  Suhu udara mendingin dengan cepat.  Kabut tebal tiba-tiba menghadang di hadapan mereka.  Jarak pandang tidak sampai satu meter.  Padahal mereka sudah menggunakan lampu senter berkekuatan tinggi dan anti kabut.  Tetap saja.  Melihat ujung jari saja mereka harus bersusah payah membelalak.
----------
Kelima sahabat ini saling berpegang tangan.  Ini adalah cara paling sederhana agar mereka tidak saling tersesat.  Sambil sedikit meraba-raba, Andro mengajak keempat temannya duduk di jalur yang licin dan mendingin.  Tangan Annisa yang bersarung tangan begitu erat menggenggam pergelangannya.  Andro tersenyum dalam gelap.

Andro dan Anisa memang sepasang kekasih yang saling mencintai.  Sejak bergabung bersama dalam team pendakian lima tahun lalu, keduanya seperti tersedot pada magnet masing
-masing.  Tak terpisahkan.  Dalam kuliah maupun petualangan pendakian.  Sayangnya orang tua Anisa yang keduanya dosen tempat mereka kuliah sama sekali tidak setuju Anisa berhubungan dengan pemuda gondrong petualang itu.

Tidak bermasa depan, begitu kata Ayah Anisa.  Tidak sopan, begitu kata Ibu Anisa.  Anisa tentu saja tidak sependapat dengan ayah dan ibunya.  Andro adalah seorang pejuang gigih.  Gadis ini sangat yakin, dalam kehidupan sesungguhnya kelak, Andro akan menjadi imam yang baik dan tangguh.  Setangguh kelihaiannya dalam mendaki gunung sesulit apapun.

Andro hanya gondrong dan acak acakan.  Bukannya tidak sopan.  Pemuda ini selalu menerapkan unggah ungguh jika berhadapan dengan orang yang lebih tua.  Anisa pernah mengatakan ini kepada ibunya.  Ibunya hanya menggelengkan kepala tak sepakat.  Anisa tak tahu mesti bagaimana menjelaskan kepada kedua orangtuanya.  Yang dia tahu bahwa ayah dan ibunya sudah punya calon lain untuknya.  Seorang dokter anak kolega mereka yang baru lulus dari Amerika.  Anisa tahu bahwa dia akan menolak sekeras
-kerasnya jika dipaksa.  Andro adalah belahan hatinya.
----------
Suasana di jalur pendakian bercabang tiga semakin tidak karuan.  Kabut tebal menguasai keseluruhan tempat.  Angin dingin menambah situasi semakin mencekam.  Kelima sahabat ini tidak bisa berbuat lain selain tetap duduk dan bergandengan tangan.  Mereka tidak bergerak seinchipun dari tempat mereka karena ini sangat berbahaya.

Anisa merapatkan duduknya ke Andro.  Ini adalah situasi paling tidak tentu yang pernah mereka temui selama melakukan puluhan pendakian.  Haruskah mereka menunggu sementara waktu terus berjalan dan bendera siap ditancapkan saat fajar menyingsing?

Andro berusaha menajamkan penglihatannya.  Ada sesuatu di depan sana!  Dua titik cahaya kecil namun sangat terang dan sanggup menembus kabut.  Andro berbisik kepada Anisa mengenai apa yang dilihatnya.  Gadis ini mengangguk mengiyakan hal yang sama.  Tidak sadar bahwa anggukannya tidaklah kelihatan. 

Anisa berbisik kepada Safina di sebelahnya.  Safina berdehem gugup tidak paham apa yang disampaikan Anisa.  Dia tidak melihat apa
-apa. Semuanya gelap gulita.  Tak urung Safina tetap menyampaikan hal itu kepada Medina dan Safir di sebelahnya.  Pemuda pemudi itu batuk-batuk mengatakan hal yang sama dengan Safina.  Tidak ada apa-apa di depan sana.
---------
Andro mengambil keputusan.  17 Agustus pagi mereka sudah harus menancapkan Sang Saka di puncak gunung ini.  Dan sekarang kesempatan mulai terbuka dengan adanya dua titik sinar yang menerangi di depan sana.  Sekarang atau tidak sama sekali!  Kabut ini diperkirakan lama tidak akan pergi.  Mungkin menunggu sampai matahari menyinari bumi kembali.

Anisa setuju.  Safir, Medina dan Safina awalnya ragu
-ragu, namun mau tidak mau akhirnya sepakat juga setelah melihat betapa bersemangatnya suara Andro dan Anisa meyakinkan mereka. 

Andro dan Anisa mengikuti dua sinar kecil yang terang sekali dan seolah menuntun mereka kemana harus melangkah.  Perlu waktu lebih dari tiga jam mengikuti sinar itu sampai akhirnya mereka sampai di bibir puncak gunung.  Dan kabut tidak ada sama sekali di sini.  Cahaya bulan telah bertahta kembali di langit.  Andro melirik jam tangannya yang berpendar.  Jam empat pagi!
---------
Sambil menancapkan bendera Merah Putih diiringi angin berhembus pelan dan ufuk memerah di arah timur, kelima muda mudi ini sungguh merasa bersyukur mereka berhasil menuntaskan misi pendakian ini.  Safina, Medina dan Safir menyisihkan sementara teka-teki apa yang menuntun Andro dan Anisa hingga berhasil menembus kabut tebal dan menemukan jalur yang tepat untuk sampai di sini.

Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa Andro dan Anisa dituntun oleh sesuatu yang tidak kasat mata.  Dua sinar kecil terang sampai lepas dari kabut.  Andro dan Safina hanya sempat menyaksikan dua sinar kecil terang itu menghilang di suatu tempat yang ditandai dan diingat
-ingat oleh Andro dengan menancapkan sebuah bendera kecil almamater mereka.  Andro sempat berbisik kepada Anisa untuk menyelidiki tempat itu saat mereka turun nanti.

Setelah cukup beristirahat dan menikmati puncak gunung yang luar biasa indah dan sangat romantis itu, kelima sahabat ini memutuskan untuk turun.  Andro dan Anisa benar
-benar melaksanakan niat mereka. Sinar matahari sudah terang benderang saat mereka akhirnya menemukan bendera kecil itu. 
Bendera kecil itu tertancap di pinggir sebuah jurang terjal kanan dan kiri.  Tapi mata mereka yang terlatih cukup bisa melihat ada bendera yang sama tertancap dan berkibar di sisi bawah jurang sebelah kiri.

Andro mengambil binokuler dan mengamati dengan seksama.  Bendera itu memang bendera almamaternya.  Sudah robek
-robek dan lusuh termakan usia.  Mata binokuler Andro lalu terpaku pada tulang belulang tidak jauh dari bendera itu tertancap.  Andro terdiam beberapa lama tidak sanggup bicara. Mereka menemukan tulang belulang sepasang pendaki yang hilang itu!  Sepasang pendaki yang saling mencintai namun tidak direstui dan akhirnya terkubur bersama dalam keabadian cinta mereka di puncak gunung yang juga mencintai mereka.
---------
Andro menggenggam tangan Anisa erat-erat.  Sepasang pendaki yang meninggal itu mengarahkan  mereka untuk tetap berjuang mencapai tujuan menancapkan Sang Saka di puncak gunung megah ini.  Seolah juga menyampaikan pesan kepada Andro dan Anisa yang saling mencintai ini untuk tetap memperjuangkan cinta mereka yang tidak direstui.  Walau sampai maut menjadi saksi terakhir bersatunya mereka.

----------
Jakarta, 13 Juni 2017

8 komentar untuk "Misteri Jalur Pendakian Bercabang Tiga "

Budi Susilo 11 Maret 2020 09.30 Hapus Komentar
Akhi yang bagus... Mantab
Warkasa1919 11 Maret 2020 09.35 Hapus Komentar
Selamat datang di rumah baru kita mas Mim☺️🙏
Widz Stoops 11 Maret 2020 10.36 Hapus Komentar
Wahh .. udah cepet posting ajaa
Apriani1919 11 Maret 2020 13.32 Hapus Komentar
wuiiihhhh pak mim
mim 11 Maret 2020 20.05 Hapus Komentar
hihihi nuhun
mim 11 Maret 2020 20.05 Hapus Komentar
siyap Mas W!
mim 11 Maret 2020 20.06 Hapus Komentar
he egh ya
mim 11 Maret 2020 20.06 Hapus Komentar
wuaahhh
xixixi

Berlangganan via Email