Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Misteri Burung Dekuk

https://images.pexels.com

Beberapa kali Ambar menghentikan langkah.  Menajamkan pendengaran terhadap suara-suara itu yang berulang;

Kuuk…kuuk…kuuk

Suara itu seperti menghitung setiap langkah kaki Ambar.  Mengikutinya dengan kengerian yang sesungguhnya.  Baru-baru ini Ambar mendengar cerita dari neneknya mengenai misteri burung Dekuk.  Neneknya bilang, setiap kali burung Dekuk berbunyi maka lepaslah satu setan memasuki gerbang dunia fana. 

Cobalah hitung berapa kali burung Dekuk itu berbunyi.  Sebanyak itulah setan berbagai bentuk terlepas ke dunia ini.

Ambar bergidik!  Dia sudah menghitung berapa kali tadi burung Dekuk itu berbunyi.  Belasan kali!  Berarti sudah belasan setan berlepasan di sekitar sini.  Hiihh!  Mana jalan ke rumahnya masih cukup jauh lagi.

Ambar menyesal kenapa dia tadi menolak ketika Sena menawarkan untuk mengantarnya.  Dia sedang marah kepada pemuda ceriwis dan playboy itu.  Dia sudah menolak berkali-kali lamarannya.  Tapi pemuda itu memang sableng.  Untuk kesekian kalinya melamar untuk menikahinya.  Tadi malah dengan sedikit memaksa.  Gendeng! 

Lagipula bapak ibunya pasti tidak setuju.  Kakek Sena terkenal sebagai dukun hitam di desa itu.  Bibit bebet bobot pasti jadi pertimbangan berat keluarga dalam mencari jodoh Ambar.  Tadi saja Ambar terpaksa memenuhi permintaan ibunya untuk rewang di rumah Sena karena tidak enak jika tidak ada yang mewakili. 

Ibunya sedang sakit.  Jadi akhirnya Ambarlah sebagai putri tertua yang datang rewang.

Ambar mengedikkan kepala.  Biarlah aku tanggung kengerian ini sebentar saja. 

Kuuk…kuuk…kuuk…kuuk…kuuk

Suara burung Dekuk itu ramai sekali.  Ambar tak sanggup lagi menghitung.  Lagipula untuk apa dia menghitung?  Satu setan saja sudah menakutkan.  Apalagi ini sudah puluhan setan.

Ambar memutuskan berlari.

-----

Ambar mendadak berhenti.  Di depannya berdiri sesosok tubuh tinggi besar.  Hitam.  Duh genderuwo!  Ambar membatin sambil gemetaran tidak karuan.  Bayangan itu hanya diam.  Tidak mendekatinya.  Tapi menghalangi jalannya.

Ambar bergegas balik arah.  Ada kantor kelurahan di simpang yang sudah dilewatinya tadi.  Ini sudah pukul 9 malam.  Suasana malam di desa jam segitu tentu saja sudah sunyi.  Ambar menguatkan tekadnya.  Berlari ke arah dia datang.  Ambar tidak berani menoleh.  Takut sekali genderuwo itu ternyata ada di belakangnya.

Ah ini simpang jalannya.  Kantor kelurahan di depan.  Ambar hampir terjungkal karena menghentikan larinya dengan tiba-tiba.  Dari pohon beringin depan kelurahan terdengar suara keras mengikik.  Kuntilanak!  Siapa lagi yang biasa mengeluarkan suara mengerikan itu kalau bukan Kuntilanak.

Ambar tak mau berpikir panjang.  Dia menuju simpang satunya karena ini adalah perempatan.  Seperti mendapat kekuatan lebih, Ambar berlari sekencang kuda.

Lagi-lagi Ambar harus menghentikan larinya secara mendadak.  Di depan sana jelas terlihat beberapa benda bulat sebesar kelapa bergelindingan di jalan.  Glundung Pringis!  Ya ampuuunn.  Ambar hampir menangis.

Mau tak mau Ambar membelokkan langkah menuju arah dia datang tadi.  Ke arah rumah Sena tempat dia rewang persiapan acara sunatan adik Sena tadi.  Ambar seperti tidak menapak tanah lagi saking kencangnya dia berlari. 

Rumah Sena tidak jauh lagi.  Ambar menghentikan larinya karena nafasnya sudah tidak tahan.  Adrenalin dan ketakutan bercampur menjadi satu.  Dia lelah sekali.  Biarlah datang lagi setan yang lain.  Dia akan pasrah saja.  Dia sudah tidak kuat berlari.

Ambar melangkah pelan-pelan.  Mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.  Sesekali gadis ini melirik ke belakang dan kiri kanan.  Genderuwo, Kuntilanak dan Glundung Pringis tadi tidak ada.  Ambar menarik nafas lega.

Sambil meneruskan perjalanan, Ambar sedikit heran.  Kenapa di jalan yang ini tidak ada setan yang datang mengganggunya?

Tapi tentu saja dia tidak berani balik lagi ke jalan semula menuju rumahnya.  Biarlah dia nanti minta Sena mengantarnya.  Tapi pemuda badung tentu akan meminta imbal jasa.  Mungkin memaksanya lagi.  Duuhh.  Ambar serba salah.

-----

Sena memperhatikan kakeknya komat-kamit di depan prapen.  Tersenyum puas sambil memamerkan giginya yang ompong.

“Tenanglah cucuku.  Gadis itu pasti kembali.  Setan-setan yang dipanggil oleh burung Dekuk piaraan mbah sudah menggiring dia kesini.”

-----

Sampit, 29 Maret 2018


Burung Dekuk; burung Hantu
Gendeng; gila
Bibit bibit bobot; keturunan
Rewang; gotong royong/membantu persiapan hajatan
Glundung Pringis; mitos setan kepala



Posting Komentar

4 Komentar